Selasa, 09 Oktober 2012

NOVEL WALI SANGA SELAYANG PANDANG



NOVEL WALI SANGA
SELAYANG PANDANG


Oleh : Damar Shashangka



R
entetan konflik tak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang sejarah anak manusia. Kepentingan dan ambisi dari satu individu maupun kelompok, tidak bisa tidak akan berbenturan dengan kepentingan dan ambisi dari individu maupun kelompok lain. Baik kepentingan dan ambisi yang bermotifkan golongan, ras, ekonomi, politik bahkan hingga agama. Dan konflik akan berdampak memilukan jika motif profan dikemas rapi dalam selubung agama. Tak lagi bisa dipisahkan mana ranah sakral dan duniawi. Karena yang profan sudah diangkat menjadi sakral. Sehingga apa-apa yang terlihat cemar, akan berubah memiliki nilai suci jika agama sudah dijadikan landasannya. Dan sekali lagi, dampaknya akan lebih mengerikan.

Kepentingan yang semula diperebutkan dan tetap disadari sebagai sebuah kepentingan duniawi yang segera disesali jika tragedi terlanjur terjadi, serta merta menjadi sebuah absurditas jika agama telah berbicara, sehingga tak ada lagi kata penyesalan karena konon yang Illahi telah memberikan legitimasinya. Disinilah sifat paradoks yang kerap dipertontonkan oleh para pemimpin agama. Disatu sisi, mereka mengajarkan kasih dan humanisme sebagai esensi ajaran mereka, namun disisi lain, mereka kerap menyetujui tindakan anarkisme yang menginjak-injak prinsip kasih dan humanisme itu sendiri.

Jawa abad XV, selepas runtuhnya Majapahit adalah medan terbuka bagi gesekan-gesekan kepentingan dan ambisi absurd seperti ini. Kalangan status quo, yang terdiri dari para bangsawan Majapahit maupun mereka yang tetap setia pada trah Majapahit, segera saja ikut-ikutan melandasi semangat nasionalisme mereka pada alasan-alasan yang juga absurd. Ketika dulu, saat Majapahit berdiri gagah penuh kejayaan dan menjadi kekuatan maritim besar di Asia Tenggara, para Raja Majapahit tidak banyak membutuhkan legitimasi illahiah demi kekuasaan mereka –walau beberapa pujangga menyanjung-nyanjung mereka bagaikan titisan Dewa-Dewa tertentu karena kebijaksanannya, toh para Raja Majapahit tidak menjadikannya sebagai sebuah legitimasi utama untuk menunjang kebesaran pribadinya.

Majapahit menjadi besar karena mereka menguasai lautan dengan Jung-Jung tercanggih di masanya. Jung-Jung yang dilengkapi peralatan tempur serupa meriam yang dinamakan Cet Bang atau Bêdhil Gêdhe.  Senjata ledak yang dikembangkan dari senjata serupa yang dibawa bangsa Tar-Tar saat menggempur Jawa pada akhir abad XIII. Ditunjang pula keahlian tempur para prajuridnya serta semangat mempersatukan Nusantara yang berkobar-kobar. Disamping pula, Majapahit menjadi besar karena kesadaran yang dicapai oleh masyarakatnya, yang menginsyafi bahwa perbedaan apapun tidaklah menjadi soal, bahkan dalam ranah agama sekalipun. Mereka mengikrarkan sebuah semboyan luar biasa : Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharmma Mangrwa. Mereka benar-benar sadar bahwa ; Walau berbeda tetap satu juga, dan tidak ada kebenaran yang mendua. Majapahit menjadi besar, bukan hanya tertopang oleh legitimasi illahiah. Bahkan legitimasi semacam itu bukanlah hal yang utama. Pendek kata, masa-masa Majapahit adalah masa-masa masyarakat Jawa yang lebih rasional dibanding masa sesudahnya. 

Perbandingan ini bisa kita ambil saat membaca naskah Pararaton ; naskah yang penuh ditaburi kisah-kisah mitos leluhur Raja-Raja Majapahit. Pararaton sendiri, ditulis pada abad XVII, dua ratus tahunan selepas Majapahit runtuh. Masa dimana Kesultanan Mataram Islam tengah gencar-gencarnya melakukan perluasan wilayahnya di Jawa. Masa-masa yang penuh ketakhayulan. Masa-masa kebesaran Raja-Raja Mataram yang bertopangkan legitimasi illahiah bercirikan Islam Kejawen, dan dicounter dengan legitimasi serupa bercirikan Jawa-Hindhu-Buddha (Syiwa Buddha;Budo) untuk membesarkan dinasti Rajasa -dinasti Raja-Raja Majapahit- oleh penulis Pararaton.

Novel WALI SANGA merupakan novel sejarah yang menyoroti perilaku absurd dari segelintir manusia dengan mengambil setting Jawa pada akhir abad XV. Novel yang berusaha memunculkan fakta sejarah apa adanya, mengulitinya dari segala motif sakral dan menuturkan secara gamblang, bahwa manusia adalah pelaku jenius –atau malah terbingungkan- dari segala rentetan konflik berdarah yang diciptakannya sendiri. Dan yang memprihatinkan, hanya segelintir lagi yang menyadari akan keabsurdan tersebut. Dan mereka yang sadar, malah menjadi korban, menjadi target untuk dipinggirkan bahkan disingkirkan.

Dalam Novel ini pembaca disuguhi banyak tokoh, tanpa harus mengarahkan pembaca untuk terjebak dalam dualisme protagonis maupun antagonis. Pembaca bebas meletakkan keberpihakan pribadinya. Pembaca bebas menyimpulkannya sendiri. Penulis hanya sekedar menyuguhkan keping demi keping peristiwa sejarah secara runtut dengan pengkisahan yang mengajak pembaca untuk serasa ikut mengalami masa-masa Jawa akhir abad XV. Diatas itu semua, adalah bijak jika kita semua menempatkan diri secara netral dan memandang sejarah sebatas kejadian masa lampau yang perlu diambil segala hikmahnya. Peristiwa apapun yang telah terjadi dan bernilai konstruktif ; dari manapun dan oleh siapapun peristiwa itu lahir, patut diapresiasi dan ditauladani. Sebaliknya, peristiwa apapun yang telah terjadi dan bernilai destruktif ; dari manapun dan oleh siapapun peristiwa itu lahir, patut untuk dijadikan bahan ajar agar tidak lagi terulang dan diulangi.


Bhumi Singhasari, 9 Oktober 2012
Damar Shashangka





Cet Bang (Meriam China), di Keraton Kasepuhan, Cirebon.



Cet Bang (Meriam China), di Museum Bali.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar