Tampilkan postingan dengan label SERAT GATHOLOCO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERAT GATHOLOCO. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Agustus 2010

SERAT GATHOLOCO (16) HABIS



Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa

yang disimpan oleh

PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :

RADENTANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :

DAMARSHASHANGKA




PUPUH XI

Kinanti



1. Gatholoco praptanipun, ing Cepekan pondhok santri, langkung sukaning wardaya, aningali para murid, samya sanget kurmatira, dhumateng Sang Gurunadi.

Kedatangan Gatholoco, dipondok pesantren Cepekan, sangat suka didalam hati, begitu melihat para murid,sangat patuh menghormati, kepada Sang Gurunadi (Guru Kehidupan).

2. Nulya minggah langgar gupuh, sesalaman genti-genti, riwusnya samya salaman, para murid nilakrami, wilujeng rawuh paduka, Gatholoco anauri.

Segera naik keataslanggar, bersalaman berganti-ganti, selesai bersalaman, seluruh murid menanyakankabar, keselamatan atas kedatangan (Gatholoco), Gatholoco menjawab.

3. Iyasaking pandongamu, ingsun ginanjar basuki, sasuwene ingsun tilar, sira kabehanak murid, apa padha kawarasan, santri murid awot sari.

Atas doa kalian semua, aku dianugerahi keselamatan, selama aku tinggal pergi, kalian semua anak muridku,apakah selamat juga, seluruh santri menjawab mengiyakan.

4. Pangestu brekah pukulun, palimarmaning Hyang Widdhi, sadaya kawilujengan, maksih langgeng kados lami, Gatholoco angandika, Kapriye wulangku nguni.

Atas restu dan berkah paduka, sehingga anugerahHyang Widdhi, membuat kami semua disini selamat sejahtera, tetap tidak berubahseperti dulu, Gatholoco berkata, Bagaimana dengan yang aku ajarkan dulu?

5. Apasira isih emut, sokur lamun ora lali, aturnya maksih kemutan, Kawula sanget kapengin, nuwun mugi kasambungan, lajengipun kados pundi.

Apakah kalian semua masih mengingatnya? Sukurlah jika tidak lupa. Semua menjawab masih ingat, Kami bahkan ingin, agar ditambah wejangan, wejangan selanjutnya bagaimanakah?

6. Gatholoco alon muwus, Panjalukmu sun turuti, sireku aywa sumelang, uga bakal sun sambungi, lah mara padha rungokna, manira tutur saiki.

Gatholoco pelan menjawab, Permintaan kalian akan aku turuti, jangan khawatir, akan aku tambah wejanganku, nah sekarang dengarkanlah, aku hendak memberikan wejangan.

7. Nugrahaning Buddhi iku, saurana Tri Prakawis, Cipta Ning kang kaping pisan, Panggraita kaping kalih, Sang Panyipta kaping tiga, Kanugrahaning Roh kuwi.

Anugerah Buddhi(Kesadaran), ada tiga macam, Cipta Ning (Pikiran menjadi hening) yang pertama, Panggraita (Perasaan murni) yang kedua, Sang Panyipta (Yang Mencipta) ketiga (maksudnya siapa saja yang Kesadarannya meningkat, maka dapat ditandai dengan tiga hal, Pikiran liar menjadi hening, Perasaan menjadi murni dan Kesadaran hanya akan menjadi perwujudan Sang Pencipta yang murni, tidak neko-neko, tidakcemas, tidak khawatir hanya menjadi perwujudan Kesadaran murni Sang Pencipta/Tuhan: Damar Shashangka), Anugerah Roh itu.

8. Sauranaiku Telu, ana dene ingkang dhingin, Urip Tan Kalawan Nyawa, ingkang kaping kalih kuwi, Ora Angen-Angen liyan, Allah Kewala kaping tri.

Ada tiga juga, yangpertama, Hidup tanpa nyawa (maksudnya hidup tanpa kehidupan selayaknya makhluk biasa. Makhluk biasa hidup ditandai dengan adanya nafas, yang telah mendapat anugerah kembalinya kemurnian Roh, maka dia telah hidup tanpa nafas, hidup tanpa darah, hidup tanpa detak jantung, hidup tanpa pergerakan paru-paru, dll.Nafas, pergerakan paru-paru, detak jantung, mengalirnya darah, adalah tanda-tanda makhluk BERNYAWA, namun siapa saja yang telah murni Roh-nya, maka dia telah HIDUP TANPA MEMBUTUHKAN SARANA-SARANA PENUNJANG ITU SEMUA, dan bisa disebut TELAH HIDUP TANPA NYAWA : Damar Shashangka), yang kedua, tak ada yang disadarinya lagi, kecuali hanya ALLAH saja dan yang ketiga.

9. Tan ana woworanipun, ingkang Wahdatilwujudi, Nugrahan Sakarat pira, saurana Tri prakawis, kang dhingin Adhepanira, Idhep ingkang kaping kalih.

Tak bisa dibedakan lagi, yang disebut Wahdatulwujud (Kesatuan Wujud ~ Wujud Allah dan wujud Roh telah melebur jadi satu : Damar Shashangka), Anugerah Sekarat ada tiga, yang pertama Arah Hadapmu (Adhep), Pikiran yang bulat (Idhep) yang kedua.

10. Madhep ingkang kaping telu, lamun sira den takoni, Nugrahaning Iman pira, saurana TriPrakawis, Sokur ingkang kaping pisan, Tawakal ingkang ping kalih.

Niat yang mantap (Madhep) yang ketiga (maksudnya manusia bisa dikatakan mendapatkan anugerah disaat kematian jika saat itu tiba Arah Hadap jiwa hanya satu kepada SUMBER ABADI,Pikiran hanya bulat kuat kepada SUMBER ABADI, dan Niat hanya satu terarah kepada SUMBER ABADI ~ Adhep, Idhep, Madhep, jika tidak maka dia akan kembali jatuh kedunia, akan terlahirkan kembali karena pikirnnya dipenuhi keduniawian : DamarShashangka), Anugerah Iman, ada tiga macam, Bersyukur yang pertama, Tawakkal (Pasrah) yang kedua.

11. Sabar ingkang kaping telu, pira Nugrahaning Tokid, saurana Dwi Prakara, krana Tetep ingkang dhingin, Wadi kaping kalihira, Nugrahan Makrifat Jati.

Sabar yang ketiga (manusiabisa disebut mendapatkan anugerah keimanan jika sudah mampu bersikap Sukur, Pasrah dan Sabar : Damar Shashangka), Anugerah Tokid (Tauhid), ada dua macam, Krana Tetep (Tetap Tunggal Adanya) yang pertama, dan Wadi (Rahasia) yang kedua (maksudnya manusia bisa disebut mendapat anugerah akan Tauhid jika memahami bahwa semua ini TETAP DALAM SATU KESATUAN TAK TERPISAHKAN dan memahami RAHASIA BAHWA TIADA YANG LAIN SELAIN TUHAN DISELURUH ALAM INI : Damar Shashangka), Anugerah Makrifat Sejati.

12. Sira sumaura gupuh, iku namun saprakawis, Ana Ing Kahananira, Anenggih Karsa:Rasaning, Rasa Wisesa Prayoga, Martabate Kramat kuwi.

Jawablah dengan cepat, hanya ada satu macam, Berada Pada Keberadaan-Nya, dan kehendak makhluk, menjadi rasa sejati yang berwenang dalam kemurnian sempurna, Martabat/Tingkatan/Uraian Kramat (Karomah/Kemuliaan) itu.

13. Mangretine ana Telu, Karem Apngal Para Mukmin, Para Wali Karem Sipat, a-Karem Dzat Para Nabi, lire Karem Ing Dzatullah, ya sok ana asihaning.

Sungguh ada tiga tingkat, Lebur dalam Apngal (Af-'al : Perbuatan/Aktifitas Tuhan) bagi para mukmin, bagi para Wali lebur dalam Sipat (Sifat : Watak Tuhan), sedangkan para Nabi lebur kedalam Dzat ( Dzat : Keberadaan Sejati Tuhan). Yang dimaksud dengan lebur kedalam Dzatullah (Dzat Allah), senantiasa dalam KASIH-NYA.

14. Ingkang Karem Sipat iku, uga ana gumletheking, lire Karem Apngalullah, mila ana obah osik, yen sebit paningalira, ening kabuka sayekti.

Yang lebur dalam Sifat, senantiasa dalam KEDAMAIANNYA, yang lebur dalam Apngalullah (Af-'alullah :Perbuatan Allah), seluruh diam dan geraknya untuk Allah, jika tajam kesadarannya, dan hening kekotoran batinnya, akan mampu membuka rahasia sejati.

15. Ing Sipat Jalal puniku, Jamal Kamal Kahar nenggih, dumadine imanira, sakbul gumletheking ati, dadine oleh sampurna, sampurnaning gesang nenggih.

Membuka kesejatian Jalal (YangAgung), Jamal (Yang Cantik) Kamal (Yang Sempurna) dan Kahar (Yang Kuasa), akan menjadi iman kalian yang nyata (keyakinan yang benar-benar telah menyaksikan sendiri), menjadikan Kedamaian jiwa, memperoleh kesempurnaan, kesempurnaan hidup yang sesungguhnya.

16. Martabate Nyawa iku, lamun sira den takoni, kathahe namung satunggal, iya iku Roh Ilapi, mung sawiji marganira, tegese Urip puniki.

Martabat/Tingkatan/UraianNyawa (Hidup), jika kalian ditanya, jawabannya hanya ada satu, yaitu Roh Idhofi (Ruh Yang Menguatkan), hanya satu keberaadaannya, sesungguhnya (Roh Idhofi) itu tak lain adalah HIDUP ini.

17. Ora nana Urip telu, ingkang mesthi mung sawiji, lamun sira tinakonan, endi Allah ing saiki, iku nuli saurana, sapa ingkang ngucap kuwi.

Tak ada HIDUP bercabang tiga, hanya ada satu, jika kamu ditanya, dimanakah Allah sekarang? Jawablah, Siapakah yang berani bertanya tadi?

18. Aja ta sireku umyung, yen sira dudu Hyang Widdhi, yektine ingkang den ucap, kang ngucap tan liyan Widdhi, nanging kudu kawruhanana, ing Panarima sayekti.

Janganlah kamu bingung (hai yang bertanya), JIKA DIRIMU BUKAN PERWUJUDAN HYANG WIDDHI/ALLAH (LANTAS SIAPAKAH DIRIMU), SESUNGGUHNYA APA YANG KAMU UCAPKAN, BERIKUT YANG MENGUCAPKAN TAK LAIN SEMUA ADALAH HYANG WIDDHI ITU SENDIRI. Akan tetapi harus benar-benarkamu sadari sendiri hal itu, dengan segala pemahaman total yang ada pada dirimu.

19. Ana ingkang Nrima iku, Kaya Toya lawan Siti, lawan ingkang Kaya Udan, apa dene Kaya Wesi, kalawan Kaya Samudra, ingkang Kaya Lemah Warih.

Pemahaman total itu,bagaikan Air dan Tanah, dan juga bagaikan Hujan, bagaikan Besi pula, juga bagaikan Samudera. Yang dimaksud bagai Tanah dan Air.

20. Den Rumesep tegesipun, Ora Pegat Kang Rohani, tegese kang Kaya Udan, Datan PegatTingalneki, ana maneh Kaja Tosan, Sakarsanira Mrentahi.

Resapilah segala pemahaman itu, tiada putus jiwamu (siang malam) meresapi tentang kesatuan wujud itu, yang dimaksud bagaikan Hujan, tak terputus melihat segala isi dunia adalah wujud-Nya (bagaikan rintik hujan yang sambung menyambung tiada putusnya), dan yang dimaksud bagaikan Besi, sekehendak yang membuat.

21. Ginaweya arit wedhung, pethel wadhung kudi urik, Ora Owah Sipatira, Isih bae Wujudneki, ingkang upama Samudra, Pituduh ingkang prayogi.

Hendak dibuat jadi celurit linggis, palu kampak senjata, Tapi tidak terpengaruh sifat besinya, tetap berwujud besi (begitu juga walau berwujud bermacam-macam, jangan terkecoh bahwa semua itu hanya perwujudan dari Tuhan semata), yang bagaikan Samudera, telah mendapatkan kesadaran yang sesungguhnya.

22. Puniku mesthine antuk, ing ujar sakecap tuwin, ing laku satindak lawan, ameneng sagokan nenggih, lamun wis Kaya Samudra, Ora Owah Tingalneki.

Telah menyadari, bahwa setiap ucapan, setiap langkah, diam dan gerak, semua bagaikan Samudera (dengan ombaknya ~ tak terpisahkan mana Tuhan mana Hamba), Tiada lagi Goyah Kesadarannya.

23. Sira andulu dinulu, ora nana tingal kalih, ora nana ucap tiga, dadi sampurna salating, weruh paraning sembahyang, weruh paraning ngabekti.

Yang melihat (Hamba) dan Yang Dilihat (Gusti), tiada lagi dua, tiada lagi ucapan bercabang tiga, inilah kesempurnaan shalat, tahu arah menyembah, tahu arah berbakti yang sesungguhnya.

24. Nyata bener ora kusut, lan weruh paraning osik, weruh paraning neng-ira, weruh paraning miyarsi, weruh paraning pangucap, weruh paran ngadeg linggih.

Nyata berdiam dalam Benar yang tanpa kesalahan, tahu asal gerak hati, tahu asal diamnya hati, tahu asal pendengaran, tahu asal pengucapan, tahu asal berdiri dan duduk kita siapa yang menggerakkan.

25. Lan weruh paraning turu, weruh paranira tangi, weruh paraning memangan, weruh paran nginum warih, weruh paran ambebuwang, weruh paran sene nenggih.

Tahu asal tidur, tahu asal jaga, tahu asal makan, tahu asal minum, tahu asal membuang kotoran, tahu asal membuang air seni.

26. Weruh parang seneng nepsu, weruh paraning prihatin, weruh paran ngidul ngetan, mangalor mangulon kuwi, weruh paraning mangandhap, weruh paraning manginggil.

Tahu asal kesenangan dan nafsu, tahu asal jiwa yang penuh kekuatan menahan hawa nafsu, tahu tempat selatan dan timur, utara barat sesungguhnya, tahu arah bawah, tahu arah atas yang sesungguhnya.

27. Weruh paran tengah iku, weruh paranira pinggir, weruh paraning palastra, weruh paranira urip, weruh kabeh kang gumelar, kang gumreget kang kumelip.

Tahu arah tengah, tahu arah pinggir, tahu tujuan kematian, tahu tujuan hidup, tahu segala hal yang mewujud, yang bergerak dan yang berkelip-kelip ini semua.

28. Tan samar weruh sadarum, anane samita iki, sira kabeh poma-poma, anakingsun para murid, sireku aywa sembrana, weruha rasaning tulis.

Tiada samar lagi mengetahui semuanya, semua wejanganku ini, wahai kalian semua ingat-ingatlah,oh anak muridku, jangan sampai ceroboh, harus memahami inti sari tulisan.

29. Dene sira yen wis weruh, kekerana ingkang werit, aywa umyung pagerana, aywa sembarangan kuwi, nganggo duga kira-kira, aywa dumeh bisa angling.

Jikalau kalian sekarang sudah memahami, jagalah benar-benar, jangan gampang diucapkan dan pagarilah,jangan sembarangan diucapkan, harus memakai kira-kira dan tempat yang sesuai, jangan hanya asal bisa bicara.

30. Lan maneh aywa kawetu, mring wong ahli sarak nenggih, yen maido temah kopar, karana rerasan iki, ora amicara sarak, amung Sajatining Ilmi.

Dan lagi kalau bisa jangan sampai terdengar, kepada ahli Sarak (Syari'at), jika berbantahan dengan merekaakan sia-sia, sebab wejangan ini, tidak lagi membahas sarak (syari'at), akan tetapi membahas Sejatinya Ilmu.

31. Ingkang renteng ingkang racut, tan ana kaetang malih, caritane soal ika, padha anggitening batin, dadi wijange sadaya, sira ingkang ahli buddhi.

Yang tertata dan yang terjaga, tak ada lagi yang perlu diwejangkan, tentang hal ini semua, masukkan dalam batinmu masing-masing, sehingga kamu bisa membuktikannya sendiri, wahai kalian ahli Buddhi (Ahli Kesadaran)!



(Selesai)




(14 Agustus 2010, by Damar Shashangka)







SERAT GATHOLOCO (15)




Diambil dari naskahasli bertuliskan huruf Jawa

yang disimpan oleh

PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :

RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :

DAMAR SHASHANGKA



PUPUH X

Dandanggula


1. Jayengsastra êmpaning lêlungid (carik), sirik agêng jênênging wanudya, luput barangreh wurine, wruh ing wêkasanipun, teja panjang kang ngêmu warih (kluwung),sinjang agêming priya (bêbêd), kang kêdah sinawung, pawestri kathah rubêdnya,taji sawung (jalu) ganda pangusaping lathi (lênga krawang), kaluputekawangwang.

Mahir dalam tulis menulisdan memegang rahasia (CARIK), 'si-RIK' (Larangan) besar bagi seorang wanita,tidak memikirkan hasil akhirnya, tidak memperhitungkan untung ruginya (hanyamemperturutkan kesenangan atau foya-foya), cahaya panjang yang mengandung air(KLUWUNG/PELANGI), sinjang (kêmben) yang dipakai pria (BĒBĒD), yang harus 'sina-WUNG'(Diingat), seorang wanita banyak 'ru-BED' (batasan secara kodrati), taji(senjata) milik ayam (JALU) bau yang diusapkan dilidah (Lênga KRAWANG), batasankodrati itu jelas 'kawang-WANG' (terlihat).

2. Putran-dhênta(pratima) ron aglar ing siti (uwuh), pêlêm agung kang galak gandanya (kuweni),ewuh aya pratikêle, wanita tindak dudu, kuda mijil ing Tamansari (Kalisahak),piring siti (pinggan) upama, dadyan dhewekipun, angrusak badan priyanggan, saritala (malam) dhadhaking ron (talutuh) sun wastani, nalutuh alam dunya.

Boneka indah (PRATIMA)daun yang berguguran menumpuk ditanah (UWUH/SAMPAH), mangga besar yang kerasbaunya (KWENI), 'e-WUH' (susah) 'PRA-tikele' (pemikirannya), bagi wanita yang telah melakukan kesalahan(karena sebuah kesalahan yang dilakukan seorang wanita sangat dipandang tidakpatut dalam tatanan masyarakat), Kuda disebuah taman sari (KALISAHAK), piringdari tanah (PINGGAN) seandainya, maka jadilah wanita tersebut, 'angru-SAK'(merusak) badan 'priyang-GAN'(diri sendiri), sari tala (MALAM yang dibuatmembathik) kotoran daun (TLUTUH/GETAH) aku katakan yang demikian itu, akanmenjadi 'nalu-TUH' (jatuh kehormatannya) 'al-AM' (dialam) dunia.

3. Kismarêmpu (lêbu) atmaja Jumiril (Umarmaya), marma estri tan kalêbu wêca, Nata Prabuing Tasmitên (Gêniyara), kaca kang tanpa ancur (ram), gawe eram ingkangningali, pantês yen piniyara, talatahing laut (muwara), ing tekad angayawara,jamang wastra (têpi) ojating wong awêwarti (kaloka), nêtêpi ing saloka.

Tanah yang hancur(LEBU/DEBU) putra Raja Jumiril (UMARMAYA), ' MARMA' (Oleh karenanya) seorangwanita yang buruk tidak akan jadi pilihan, Raja diraja dinegara Tasmiten(GENIYARA), kaca yang tidak tajam (RAM), membuat 'e-RAM' (kagum) bagi yangmelihatnya, sungguh patut untuk diambil istri (wanita yang tidndak-tanduknyasenantiasa waspada), wilayah tengah lautan (MUWARA/MUARA), membuat lelaki yangmelihat dalam hati jadi 'ngaya-WARA' (tidak karu-karuan karena sangat memikat),hiasan kemben (TEPI) suara orang yang memberikan kabar (KALOKA/BERKUMANDANG),sungguh seorang wanita yang 'nete-PI' (mematuhi) 'salo-KA' (SLOKA/ sastrasuci).

4. Gingsiringwulan purnama siddhi (grahana), bêbayi sah kang saking tuntunan (puput),graitanên sauntase, ingkang tumibeng luput, tambang palwa (wêlah) ingsun wastani,parikan jênu tawa (tungkul), pan aja katungkul, ing solah kang tanpa karya, mênyankuning (wêlirang) kang toya saking jasmani (kringêt), engêta kawirangan.

Hilangnya bulan purnama(GRAHANA/GERHANA), bayi yang telah lepas dari tangan (PUPUT/mulai bisaberjalan), 'GRA-itanen' (renungkanlah) seluruhnya, apa saja yang akan membuatkamu jatuh pada 'lu-PUT' (kesalahan), tambang perahu (WELAH) aku sebut, syairjenu tawa (TUNGKUL), jangan sampai 'ketung-KUL' (lalai), pada 'so-LAH'(perbuatan) yang sia-sia, kemenyan berwarna kuning (WELIRANG/BELERANG) air yangkeluar dari badan (KRINGET/KERINGAT), 'e-NGET-a' (Ingat-ingatlah) akan 'kawi-RANG-an'(malu).

5. Ing NgajêrakPapatih Nata Jin (Sannasil), pulas langking kang kinarya sastra (mangsi),keksi-eksi wêkasane, tanpa asil ing laku, sêmbahyange janma minta sih (salathajat), katrapaning manusa (dhêndha), dhêndhaning Hyang Agung, tanpa kajatingpanyipta, yasa ranu (bale kambang) Narendra Bojanagari (Suryawisesa), kumambanging wisesa.

Patih Jin di negaraNgajerak (SANNASIL), cairan hitam yang bisa dibuat menulis sastra (MANGSI/TINTA),'kek-SI ek-SI' (terlihat jelas) juga akhirnya, tiada 'a-SIL' (hasilnya/sia-sia)bagi diri sendiri, sembahyang manusia meminta anugerah (SALAT KAJAT/HAJAT),hukuman uang bagi manusia (DHENDHA/DENDA), 'DHENDHA' (Hukuman) Hyang Agung,tiada 'ka-JAT' (diingini/dikehendaki) akan nyata datang, membuat tempatditengah danau (BALE KAMBANG) Raja Bojanegara (SURYAWISESA) 'kumam-BANG'(terkatung-katung) ditengah 'wi-SESA' (Kuasa : maksudnya Kuasa Tuhan yangmenjatuhkan hukuman)

6. Janmawirya (mukti) salendro jroning pring (suling), dipun eling-eling wong ngagêsang,aja manggung mukti bae, dhuh babo jamang wakul (wêngku), sêkar pandhan mawurkasilir (pudhak), najan têdhaking Nata, sajagad winêngku, barat gung mrataweng wrêksa(prahara), jarot pisang (sêrat) ana mlarat ana sugih, wus kaprah alam dunya.

Manusia yang berkecukupan(MUKTI/KAYA) senandung didalam bilah bambu (SULING/SERULING), harus di-'Eling-Eling'(diingat) manusia hidup, jangan hanya mengejar 'MUKTI' (kekayaan) saja, duh ibumahkota tempat nasi (WENGKU), bunga pandhan yang beterbangan jika tertiup(PUDHAK), walaupun 'te-DHAK' (keturunan) bangsawan, seluruh dunia 'wineng-KU'(dimiliki), angin besar merobohkan pepohonan (PRAHARA), serat pada buah pisang(SERAT) ada yang mela-RAT ada yang kaya, sudah 'ka-PRA-h' (lumrah) dialam duniaini.

7. PutriMandura (Sumbadra) kang nyamang kudi (karah), najan trahing janma sudra papa,lamun bêcik pamarahe, Aji Nata Salyeku (Candrabhirawa), putêr alit ginantang nginggil(prêkutut), patut sira anggowa, candhongna ing kalbu, Wiku Raja ing Kusniya(Bawadiman), Sarkap putra (Samardikaran) den gêmi simpên wêwadi, ywa kongsikasamaran.

Putri dari negara Mandura(SUMBADRA), mahkota kampak (KARAH), walaupun keturunan orang 'SU-DRA' papa,jika baik 'pama-RAH-e' (kelakuannya), Aji (kesaktian) Raja Salya(CANDRABHIRAWA), burung puter kecil yang ditaruh diatas (burung PREKUTUT), 'pa-TUT'(layak) dijadikan tauladan, 'CAN-dhongna' (ikatkan) dalam hatimu, Raja Wiku dinegara Kusniya (BAWADIMAN), putra Sarkap (SAMARDIKARAN) harus bisa menyimpan 'we-WADI'(rahasia rumah tangga), jangan sampai 'kasama-RAN' (terlena).

8. Tawonagung kang atala siti (tutur), wikan nugraha wulang akherat (swarga), yen siranggotutur kiye, nyuwargakkên bapa biyung, nyarambahi mring kaki nini, salawase raharja,mitra karuh lulut, yen kêna godhaning setan, sapu gamping (usar) garwa HyangGuru Pramesthi (Bathari Durga), durgama karya sasar.

Tawon besar yang berumahdidalam tanah (TUTUR), anugerah dari Yang Maha Berwenang diakherat(SWARGA/SURGA), jikalau kalian pakai 'TUTUR'(Nasehat) ini, bakal 'nyu-WARGA-aken' (membuat surga) bagi ayah dan ibu, bahkan kepada kakek dan nenekkalian, selamanya sejahtera, seluruh teman segan, tapi manakala tergoda setan,sapu batu kapur (USAR) istri Hyang Guru Pramesthi (BATHARI DURGA), 'DURGA-ma'(membuat halangan) hingga akhirnya 'sa-SAR' (sesat).

9. Widenggalêng (yuyu) Kumbayana siwi (Aswatama), têgêse estri ayu utama, pratandha sêratpangrêmbe (pengêt), cipta tyas tan kawêtu (graita), kang wus lêpas graitalantip, nget-engêt ing kawignyan, pangumbaring puyuh (jajah), anjajah saruningbadan, jala panjang (krakad) suluke wayang kalithik (sêndon), yen kalêdon ingtekad.

Mainan gangsing yang adadipematang (YUYU) putra Kumbayana (ASWATAMA), seorang wanita harus 'a-YU u-TAMA'(cantik lahir batin), surat pangrembe (surat berisi peringatan/PENGET), katahati yang belum keluar (GRAITA), yaitu merekalah yang sudah mampu 'GRAITA'(berfikir) dewasa, 'NGET e-NGET' (senantiasa mengingat) kepada keutamaan, arealterbang burung puyuh yang dilepaskan (JAJAH), 'an-JAJAH' (memenuhi) seluruhbadan (lahir batin), jala ikan yang panjang (KRAKAD) suluk/nyanyian jeda padapertunjukan wayang klithik (SENDON), jika 'kale-DON' (terlena) pada 'te-KAD' (kehendak~ maksudnya watak yang buruk akan menjajah lahir batin jika terlena tekadnya)

10. Kênthangrambat (katela) gancaring wong ngringgit (lakon), têtuladha estri kang utama,kang prayoga lêlakone, singa lit munggeng kasur (kucing), kenya putri Kartanêgari(Susilawati), yen tan susileng priya, pan kuciweng sêmu, dêkunging sabda tanaga(taklim), gugur parlu (batal) nora batal ing wêwadi, wong taklim sapadanya.

Tanaman kentang yangmerambat (KETELA) jalan cerita orang yang memainkan wayang (LAKON), akanmenjadi 'TE-tu-LA-dha' (suri tauladan) seorang wanita yang utama, yang baik 'le-LAKON-e'(perbuatannya), singa kecil yang suka tidur di kasur (KUCING), seorang permausuriraja Kertanegari (SUSILAWATI), jikalau tidak 'SUSI-leng' (menghormati) suami,akan membuat 'KUCI-weng' (kecewa), luruhnya tenaga suara (TAKLIM/SALAM HORMAT),gugurnya yang fardlu' (BATAL) jika tidak 'BATAL' (gugur) menyimpan rahasia,semua orang akan 'TAKLIM' (menaruh hormat) kepadanya.

11. RêtnaDewi matur awot sari, saking dhawuh piwulang paduka, muhung nuwun pangestune,mugi-mugi jinurung, badan kula bangkit nglampahi, Gatholoco ngandika, dhuh sirawong ayu, ayune ayu têmênan, aywa kaget ingsun lilanana pamit, saiki ingsunlunga.

Retna Dewi berkata "Hendakmenjalani, segala nasehat dan petunjuk paduka, mohon restu, agar semogamendapat tambahan kekuatan, bagi saya untuk kuat menjalani", Gatholoco berkata,"Dhuh kalian semua yang cantik, benar-benar cantik lahir batin, jangan terkejutaku relakan pamit sekarang, aku hendak pergi."

12. Kranaprêlu kangên arsa tilik, anak murid ing pondhok Cêpêkan, besuk bali mrenemaneh, sira keri rahayu, Gatholoco mangkat pribadi, ing marga tan winarna,kacarita sampun, dumugi pondhok Cêpêkan, para murid dupi miyat ingkang prapti,sukeng tyas kanthi kurmat.

Karena ada keperluankangen dan hendak menjenguk, anak muridku yang ada di pondok Cepekan, kelak akuakan pulang lagi kemari, tinggallah dengan selamat." Gatholoco berangkatsendirian, dijalan tidak diceritakan, sudah sampai, di pondok Cepekan, paramurid begitu melihat siapa yang datang, gembira hati dan memberikan hormat.



Kamis, 15 Juli 2010

SERAT GATHOLOCO (14)



Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa

yang disimpan oleh

PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :

RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :

DAMAR SHASHANGKA




29.Kabeh ingkang sipat gêsang, kang ana ing dunya iki, Pangucape Pirang Kêcap, mangka Leklu iku Klimis, Gatholoco miyarsi, reka-reka tan sumurup, malenggong palingukan, gedheg-gedheg angucemil, Rara Bawuk gumujêng alatah-latah.

Semua manusia yang hidup, yang ada didunia ini, berapakah banyak ucapan yang keluar dari mulut mereka? Sedangkan Leklu pasti Klimis, Gatholoco mendengar, pura-pura tidak memahami, terlolong celingukan, menggelengkan kepala kebingungan, Rara Bawuk tertawa terbahak-bahak.


30.Sarwi kêplok bokongira, angencêpi ngisin-ngisin, Sira maneh yen bisaa, anjawab cangkriman mami, dhapurmu anjêjinggis, kaya antu lara ngêlu, Gatholoco angucap, Mbuh bênêr mbuh luput iki, sun badhenên dhiajêng cangkrimanira.

Sembari menepuk pantatnya, mencibir dan mengolok-olok, Mana mungkin kamu bisa, menjawab teka-tekiku, wujudmu saja jelek sekali, mirip hantu sakit kepala, Gatholoco berkata, Entah benar entah salah, akan aku jawab diajeng teka-tekimu ini.


31.Ucape kang sipat gêsang, kang ana ing dunya iki, Pan Amung Salikur Kêcap, nora kurang nora luwih, dene sastra kang muni, pan iya amung salikur, kabeh ucaping jalma, kang ana ing dunya iki, Leklu Klimis iya iku tegesira.

Ucapan yang keluar dari mulut manusia yang hidup, yang ada disunia ini, hanya ada Duapuluh satu macam, tidak lebih dan tidak kurang, sedangkan seluruh catatan tentang mereka, juga hanya terdiri dari Dua puluh satu buah, itulah jumlah ucapan manusia, yang hidup didunia ini, Leklu Klimis itu artinya. (Maksud Gatholoco, seperti yang pernah diterangkannya pada bagian tiga, pupuh Dandanggula II, pada (syair) 29, bahwasanya seluruh manusia didunia ini berjumlah Duapuluh Satu. Maksudnya, Angka Dua melambangkan mereka yang masih terjerat dualitas duniawi (suka-duka, sedih-senang, kaya-miskin dll), sedangkan angka Satu melambangkan mereka yang telah mampu lepas dari jeratan dualitas duniawi. Maka begitu pula ucapan yang keluar dari mulut mereka, pastinya juga cuma ada Dua puluh satu buah. Angka Dua melambangkan ucapan mereka yang masih terjerak dualitas, dan angka Satu melambangkan ucapan mereka yang telah lepas dari jeratan dualitas. : Damar Shashangka)


32.Têlek neng Alu lêsungan, yen Dicêkêl yêkti Amis, salawase durung ana, têlek ingkang mambu wangi, Rara Bawuk miyarsi, yen kajawab soalipun, rumasa katiwasan, ora wurung dirabeni, sêntot mundur sumingkir sêmu kisinan.

TeLEK neng aLU lesungan, yen di ceKeLI yekti aMIS (Tahi yang ada di alat penumbuk padi, manakala dipegang pasti berbau amis), selamanya belum ada, tahi yang berbau wangi, Rara Bawuk mendengar, dan menyadari teka-tekinya telah terjawab, merasa kalah dan pasrah, sudah pasti akan dinikahi (oleh Gatholoco), seketika undur menyingkir sembari malu. (LEKLU KLIMIS ~ teLEK neng Alu lesungan yen diceKeLI yekti Amis (Tahi yang ada dialat penumbuk padi, manakala dipegang pasti berbau amis, maksudnya sesuai dengan yang pernah diwejangkan Gatholoco pada bagian 12, pupuh Kinanthi VI, pada (syair) 35-38. Disana diterangkan tentang Martabating Pamanggih (Uraian tentang etika tingkah laku) yang terdiri dari lima hal, yaitu : 1. Kletheking Ati (Kekotoran Hati), 2. Katepeking Lampah : Suara Langkah/degup ketidak tenangan, 3. Panjriting Tangis : Jerit Tangis/ketidak puasan, adalah lambang ketidak murnian diri yang seharusnya sangat memalukan bagi manusia yang sadar. Ketidak murnian ini ada didalam diri yang berputar-putar bagai awan panas menggelora. 4. Kethuking Nutu adalah Ucapan yang keluar dari orang yang sadar yang bisa menetralisir segala hal-hal negative yang bergelayut didalam diri, sehingga ucapan yang keluar terdengar positif dan indah, bagai suara orang menumbuk padi yang merdu. Dan jika hal ini bisa dibiasakan, maka diri kita nyata telah menjadi 5. Cleret Ngantih : Perwujudan Pelangi atau Jamalullah : Kecantikan Allah bagi sesama. Tahi yang ada dialat penumbuk padi, adalah lambang dari kekotoran batin. Dalam menumbuk padi, pasti terdengar suara, ini lambang dari ucapan yang keluar. Jika alat menumbuknya sudah kotor, maka suara yang keluar juga akan kotor. Itu maksud simbolisasi TAHI YANG ADA DIALAT PENUMBUK PADI, MANAKALA DIPEGANG PASTI BERBAU AMIS : Damar Shashangka).


33.Angucap Ingsun wus kalah, saprentahmu sun lakoni, gantya Dewi Bleweh mapan, lênggah nêja bantah ilmi, Sang Dewi Bleweh angling, Badhenên cangkrimaningsun, Isine alam dunya, kabeh Ana Pirang Warni, lawan Pira Rasane lamun Pinangan.

Berkata Aku sudah kalah, apapun keinginanmu aku jalankan, kini ganti Dewi Bleweh maju kemuka, duduk hendak berbantahan ilmu, Sang Dewi Bleweh berkata, Jawablah teka-tekiku ini, Berapakah jumlah isi alam dunia ini? Dan berapakah jumlah rasa seluruh isi alam dunia ini jika dimakan?


34.Sun andulu Wujudira, adêge Wolung Prakawis, Pikukuhe Raga Tunggal, Sipat Papat Keblat Kalih, Patbêlas Ingkang Keri, Kang Loro Tutup-tinutup, samya Manjêr Bandera, Kêkalih pating karingkih, lan badhenên, mangrêtine dadi paran.

Aku menatap Wujudmu, terlihat Delapan Macam, Mewujud dalam Satu Raga, Mempunyai Empat Keblat (mata angin) dan, ditambah Empat Belas macam yang sangat penting, Yang Dua sangat dirahasiakan, Karena keduanya tempat mengibarkan Bendera, Keduanya sangat sensitif, nah tebaklah, bagaimana maksudnya?


35.Gatholoco duk miyarsa, reka-reka tan mangrêti, mung dhêlêg-dhêlêg kewala, Dewi Bleweh ngisin-isin, lenggak-lenggok nudingi, malerok sarwi gumuyu, Sira masa bisaa, ambatang cangkriman mami, wong dhapurmu saru kiwa irêng mangkak.

Gatholoco begitu mendengarnya, pura-pura tak mengerti, hanya terdiam saja, Dewi Bleweh mengolok-olok, melenggak-lenggokkan kepala dan menuding, menatap dengan tatapan menghina serta tertawa, Mana mungkin kamu bisa, menjawab teka-tekiku, wujudmu saja memalukan cacat hitam jelek bagai kain yang warnanya luntur.


36.Gatholoco saurira, Mêngko sun pikire dhisik, bismillah mbadhe cangkriman, cangkrimane gêndhuk kuwi, Isine Dunya Amung Sanga Kathahipun, ingkang kinarya ngetang, angkane mung Sangang Iji, ora nana ingkang luwih saking sanga.

Gatholoco menjawab, Sabarlah aku tengah berfikir, bismillah menjawab teka-teki, teka-teki gadis ini, Isi dunia hanya ada sembilan buah jumlahnya, sebab jelas angka yang dibuat untuk menghitung, Cuma ada sembilan buah, tidak ada angka yang melebihi dari angka sembilan.


37.Sawuse jangkêp sadasa, bali marang siji maning, iku tandhane mung sanga, isine dunya iki, kabeh mung sanga kuwi, Kahanane Rupa iku, yêktine Nem Prakara, wijange sawiji-wiji, Ireng Biru Putih Kuning Ijo Abang.

Manakala jumlah sudah genap sepuluh, maka angkanya akan kembali ke angka satu lagi, itu bukti bahwa seluruh dunia ini, hanya berjumlah sembilan buah, semua hanya sembilan jumlahnya, Keberadan wujud itu, hanya ada Enam Macam, uraiannya satu persatu adalah, Hitam Biru Putih Kuning Hijau Merah.


38.Liya iku ora nana, rupa ingkang manca warni, iku Padha Ngêmu Rasa, dene kabeh kang binukti, ing alam dunya iki, Rasane Mung Ana Wolu, Lêgi Gurih kalawan, Pait Gêtir Pêdhês Asin, Sêpêt Kêcut ganêpe wolung prakara.

Selain daripada warna itu tidak ada lagi, semua yang berwarna warni adalah campuran dari keenam warna dasar tersebut, seluruh Wujud memiliki Rasa, buktinya, didunia ini, Rasa hanya ada Delapan, Manis Gurih serta, Pahit Getir Pedas Asin, Sepat Kecut jumlah totalnya ada Delapan.


39.Adu Bokong têgêsira, gênah lamun Asu Ganjing, padha adu bokongira, Ngadêg Suku Wolung Iji, Keblatira Kêkalih, Madhêp Ngalor lawan Ngidul, Sipate iku Papat, Matanira Patang Iji, lawangane Bolongan Ana Patbêlas.

Beradu pantat maksudnya, jelas adalah Anjing yang tengah Kawin, mereka akan beradu pantat (Menyindir isi dunia yang suka bentrok karena keyakinan. Selaras dengan pepatah Jawa REBUT BALUNG TANPA ISI (Berebut tulang tanpa guna ~ merebutkan sesuatu yang kosong tak berisi. Yang suka bentrok karena keyakinan berbeda, Gatholoco mengatakan bagaikan Anjing Kawin, ribut melulu), berkaki empat tapi berjumlah delapan buah (karena ada dua ekor anjing ~ maksudnya walau memiliki Kesadaran, Perasaan, Pikiran dan Memori yang sama, tapi seolah mereka yang sedang bentrok memiliki Kesadaran, Perasaan, Pikiran dan Memori lain dan berbeda karena masing-masing sudah terdoktrin sedemikian kuatnya.) Arah mata angin hanya dua, hanya Utara atau Selatan ( Maksudnya, walau sebenarnya arah mata angin itu ada empat, bahkan bisa dikatakan delapan, bahkan sembilan jika dihitung arah tengah, bahkan sebelas jika mau dihitung arah bawah ditambah arah atas, namun bagi mereka yang punya doktrin fanatis semacam itu, arah mata angin bagi mereka hanya dua saja, utara atau selatan. Kafir atau non kafir. Golonganku atau diluar golonganku : Damar Shashangka), padahal mereka sama-sama memiliki Empat Belas Lobang kehidupan yang tiada beda.


40.Cangkêm Irung miwah Karna, Silite kalawan Prêji, gung-gunge kabeh Patbêlas, kang Tutup-tinutup sami, Panjine Dakar Prêji, pating krêngih êndêmipun, dene Umbul Pulêtan, Bandera Buntute Kalih, ting Jalênthir lir Bandera Karo pisah.

(Satu lobang) Mulut (Dua lobang) Hidung serta (Dua lobang) Telinga, (Satu lobang) Kemaluan dan (Satu lobang) Anus, total jumlahnya Empat Belas (ditambah Kesadaran, Pikiran, Perasaan, Memori dan yang Keempat Belas adalah Ruh/Atma : Damar Shashangka). Yang senantiasa Dirahasiakan, adalah Kemaluan dan Anus, sangat sensitif memabukkan, sedangkan maksud Bendera dikibarkan, adalah sama dengan sebuah tiang bendera yang dipasangi dua macam bendera sekaligus, sehingga berkelebat tidak karuan kekanan dan kekiri manakala terhembus angin. (maksudnya adalah, pada masa dulu, jika tengah menantang perang atau menyatakan kalah perang, diisyaratkan dengan mengibarkan bendera merah atau putih. Ini adalah isyarat menyampaikan maksud/hasrat untuk berperang atau menyerah kalah. Jika kemaluan dilambangkan tempat mengibarkan bendera, artinya kemaluan adalah tempat mengibarkan hasrat sexual, mengibarkan hasrat keinginan untuk bersetubuh dan bersenggama. Gatholoco menambahkan, kemaluan itu ibarat tiang untuk mengibarkan bukan hanya satu buah bendera hasrat, tapi dua buah, karena hasrat sexual manusia kadang sangat tidak karu-karuan berkelebat tak tentu arah bagai dua buah bendera yang dikibarkan sekaligus dalam satu tiang dan terkena angin dalam saat bersamaan. : Damar Shashangka)



41.Apa bênêr apa ora, mangkono pambatang mami, mara age wangsulana, Dewi Bleweh duk miyarsi, kajawab soalneki, sakalangkung gêtun ngungun, nggarjita jroning nala, pinasthi kalawan takdir, awakingsun kinanti wong kaya sira.

Apakah benar atau salah, begitulah jawaban dariku, nyatakanlah sekarang, Dewi Bleweh begitu mendengar, bahwasanya telah terjawab teka-tekinya, seketika kecewa bercampur heran, berkata didalam hati, sudah menjadi takdir hidupnya, harus ‘Kinanthi’ (Digandeng ~ maksudnya diperistri, selain itu juga menyatakan secara tersirat bahwa pupuh selanjutnya adalah Pupuh Kinanthi : Damar Shashangka) oleh manusa jelek seperti dia.



PUPUH IX

Kinanti



1.Dewi Bleweh nulya mundur, sarwi awacana manis, Ingsun wus rumasa kalah, sakarêpmu sun-lakoni, manira manut kewala, ora sumêja nyêlaki.

Dewi Bleweh lantas undur, sembari berkata manis, Diriku mengaku kalah, sekehendak hatimu akan aku turuti, aku akan menueut saja, tidak akan membantah lagi.


2.Namung kantun kusuma yu, Rêtna Dewi Lupitwati, mapan lênggah arsa bantah, Gatholoco nabda aris, Sireku keri priyangga, êmbane kalawan cantrik.

Tinggal sang bunga yang canti, Retna Dewi Lupitwati, segera mempersiapkan diri hendak berbantahan, Gatholoco berkata, Hanya tinggal kamu seorang, emban dan cantrikmu.


3.Kalah bantah padha mundur, sira Dewi Lupitwati, apa nutut apa berani, sa-buddhi-mu sun kêmbari, Rêtna Dewi angandika, Apa saujarmu kuwi.

Telah kalah dan mundur, kamu Dewi Lupitwati, apakah mampu apakah mundur, sampai dimana kesadaranmu akan aku imbangi, Retna Dewi berkata, Apa yang kamu ucapkan?


4.Yen sira ngarani têluk, yêktine têluk wak mami, yen sira ngarani bangga, sabênêre ingsun wani, mung iki cangkrimaning-wang, kathahe têlung prakawis.

Jika kamu mengatakan aku telah tunduk, benar aku hampir kamu tundukkan, tapi jika kamu mengatakan apakah aku berani, sungguh aku masih bernai, hanya ini teka-teki dariku, jumlahnya tiga macam.


5.Badhenên ingkang dumunung, têgêse Wong Laki Rabi, lan têgêse Wadon Lanang, tegese Sajodho kuwi, Gatholoco saurira, Ora susah nganggo mikir.

Jawablah dengan tepat, apa maksud dari Pernikahan, dan apa maksud Wanita dan Lelaki, apa maksud Jodoh itu? Gatholoco menjawab, Tidak usah berfikir diriku.


6.Prakara cangkriman iku, tegese Wong Laki Rabi, ingkang aran Wadon Lanang, ingsun uga wus mangrêti, mung remeh gampang kewala, rungokna pambatang mami.

Untuk menjawab teka-teki ini, arti dari Pernikahan, yang dimaksud Wanita dan Lelaki, aku sudah memahami dari dulu, hal yang remeh belaka, dengarkan jawaban dariku.


7.Têgêse Wong Lanang iku, Ala kang têmênan kuwi, iya iku ananingwang, rupane Ala ngluwihi, Wadon iku têgêsira, gênah Panggonane Wadi.

Arti dari LA-nang (Lelaki) itu, adalah ciptaan yang sangat a-LA (Buruk), dilambangkan dengan wujudku ini, seperti wujudku inilah wujud lelaki itu, WA-don (Wanita) itu adalah tempat WA-di (Rahasia). (Maksud Gatholoco, lelaki atau Lanang, adalah sebuah ciptaan yang buruk. Karena makhluk yang bernama lelaki diliputi oleh watak keras dan egoisme. Dilambangkan secara nyata dengan rupa Gatholoco sendiri. Seperti itulah sebenarnya makhluk yang dinamakan lelaki. Sedangkan wanita atau Wadon adalah makhluk yang diliputi dengan kerahasiaan dan ketidak jelasan, terlalu mempergunakan perasaan. Walau terlihat lembut, tapi sama juga jeleknya dengan keegoisan seorang laki-laki. Yang satu egois secara keras, yang satu egois secara lembut : Damar Shashangka)


8.Wadine Wong Wadon iku, Wujude Wujudmu kuwi, sabênêre Luwih Ala, dunung sarta asalneki, acampur kalawan priya, tuduhna kang ala iki.

Rahasia wanita itu, wujudnya seperti wujudmu itu (cantik), akan tetapi tetap juga buruk sebenarnya, asal dan keberadaanya sekarang ini, jika bercampur (bertemu/menikah) antara lelaki, maka akan terlihat keburukan ini semua.


9.Mula Rabi aranipun, Wong Lanang Amêngku Estri, rahab ngrahabi sadaya, kang ala lawan kang bêcik, mula lanang aranira, aja nglendhot marang estri.

Maka dinamakan RA-BI (Nikah), Lelaki menikahi Wanita, saling RA-hab ngraha-BI (saling ber-interaksi) dari semua watak yang ada, baik watak yang buruk maupun watak yang jelek, dan bisa dikatakan Jodoh manakala lelaki, tidak memaksakan kehendaknya kepada wanita (maksudnya saling mengingatkan untuk mengikis watak dasar yang buruk dari kedua makhluk ciptaan ini : Damar Shashangka)


10.Mung iku pambatangingsun, apa bênêr apa sisip, Lupitwati aturira, Pukulun pêpundhen mami, saestu lêrês sadaya, marmane amba samangkin.

Hanya itu jawaban dariku, apakah benar atau salah? Lupitwati menjawab, Duh yang mulia sesembahan hamba, sungguh benar semua, oleh karenanya hamba sekarang.


11.Nrimah kawon sampun têluk, sumanggêng karsa nglampahi, muhung asrah jiwa raga, tan pisan nêja gumingsir, ing dunya prapteng dêlahan, têtêp mantêp lair batin.

Menerima kalah dan tunduk, bersedia menjalani, memasrahkan jiwa raga, tidak akan tergoyahkan lagi, mulai dunia hingga mati, akan mantap lahir batin.


12.
Gatholoco sukeng kalbu, gumujêng sarwi mangsuli, Tuturira sun tarima, lan maneh wiwit saiki, sireku kabeh kewala, têtêp dadi garwa-mami.

Gatholoco gembira dalam hati, tertawa sembari berkata, Aku terima janjimu, dan mulai dari sekarang, kalian semuanya, akan ku ambil sebagai istriku.


13.
Mulane sira sadarum, kudu manut gurulaki, sabarang parentahingwang, abot entheng aywa nampik, lamun nampik siya-siya, tan wurung sida bilahi.

Oleh karenanya kalian semua, harus menurut kepada suami, semua yang diperintahkan, berat maupun ringan jangan membantah, manakala membantah, akan mendapatkan kecemaran.


14.Wus lumrah wong lanang iku, wajibe mêngkoni rabi, sanajan rupane ala, nanging pantês den ajeni, sinêmbah mring garwanira, krana aran gurulaki.

Sudah lumrah seorang lelaki, harus menikah, walaupun buruk rupa, akan tetapi sebagai seorang suami patut dihargai, dipatuhi oleh istrinya, oleh karenanya disebut Gurulaki (Seorang suami dalam tradisi Jawa disebut Gurulaki. Artinya selain Guru umum yang pernah atau telah memberikan pelajaran ilmu pengetahuan maupun spiritual kepada seorang wanita, sang suami-pun wajib pula disebut guru baginya jika dia kelak sudah menikah : Damar Shashangka).


15.Solah tingkah murih patut, satiti angati-ati, tan kêna kanthi sêmbrana, yen sêmbrana ora bêcik, sanajan lunga sadhela, kudu pamit marang mami.

Harus belajar beretika, berhati-hati, tidak boleh seenaknya, jika seenaknya itu tidak baik, walaupun keluar rumah sebentar, harus memberitahu kepada suami.


16.Kajaba kang kadi iku, rungokna pitutur mami, amurih salamêtira, aywa karêm karya sêrik, den sabar aywa brangasan, ngajenana mring sêsami.

Selain daripada itu, dengarkan nasehatku, agar diri kalian mendapatkan keselamatan, jangan suka membuat kebencian, belajarlah sabar dan jangan berangasan, hargailah semua manusia.


17.Upama sira katêmu, marang pamitranmu yayi, kalamun sira micara, kudu ingkang sarwa manis, dimene rêna kang myarsa, aywa nganti den ewani.

Manakala diri kalian bertemu, dengan sanabat-sahabatmu duh adikku semua, jika berbicara, harus yang sopan dan manis, agar senang yang mendengarkannya, jangan sampai mengucapkan kata-kata yang membuat kecewa orang lain.


18.
Yen sira micara saru, utawa dhêmên ngrasani, mring alane liyan janma, sayêkti akeh kang sêngit, datan sênêng malah ewa, sinêbut wong kurang buddhi.

Jika kalian berkata tidak sopan, atau suka bergunjing, membicarakan kejelekan orang lain, bakalan banyak yang membenci, tidak ada yang menyukai kalian, kalian akan disebut manusia kurang budi (kesadaran).


19.
Upamane ana tamu, den enggal sira nêmoni, kang sreseh nuli bagekna, linggihane ingkang rêsik, sireku kang lêmbah manah, sokur bisa nyugatani.

Jikalau ada tamu datang, bersegeralah menemui, yang sopan dan sambutlah, berikan tempat duduk yang bersih, harus sabar dan merendahkan diri, sukur-sukur jika bisa memberikan hidangan.


20.
Sanajan tan bisa nyuguh, nanging sumeh ulat manis, têmbunge grapyak sumanak, rumakêt sajak ngrêsêpi, supaya tamune suka, sênêng ora gêlis mulih.

Walaupun tidak mampu memberikan suguhan, akan tetapi jika sopan dan berwajah manis, ucapannya bersahabat dan menyenangkan, tidak mengambil jarak dan menyenangkan hati, (lakukanlah itu) agar sang tamu bergembira, dan betah.


21.Yen sira sêmu marêngut, kang mradayoh yekti wêdi, kinira kalamun ladak, utawa kinira êdir, den arani ora lumrah, datan kurmat mring sêsami.

Jikalau dirimu berwajah judes, yang bertamu akan takut, dikira kalian sombong, atau dikira pemarah, akan dikatakan wanita tidak lumrah, tidak bisa menghormati sesama.


22.Watak andhap asor iku, wêkasane nêmu bêcik, raharja sugih têpungan, kineringan mring sêsami, linulutan pawong mitra, akeh ingkang trêsna asih.

Watak merendahkan diri itu, akan menemukan kebaikan, tentram dan kaya teman, dihormati oleh sesama, dihargai oleh teman-teman semua, akan banyak yang menyayangi.


23.
Kang garwa samya tumungkul, sadaya matur wot sari, Dhuh pukulun kasinggihan, wulangipun gurulaki, saliring dhawuh paduka, sayêkti kawula pundhi.

Seluruh istri (Gatholoco) menunduk, semua berkata hendak menjalani, Duh yang mulia, nasehat dari seorang Gurulaki (suami), segala yang telah terucapkan, sungguh kami semua akan menjalani.


24.
Gatholoco alon muwus, Rehning sira wus ngantêpi, darma saking karsaningwang, kepengin arsa udani, pratandhane kang sanyata, apa bênêr sira estri.

Gatholoco pelan berkata, Dikarenakan kalian semua sudah mantap, setia bakti karena kehendak kalian sendiri sekarang aku ingin, hendak melihat, bukti nyata, apakah benar-benar kalian semua ini seorang wanita?


25.Samengko mrih gênahipun, manira arsa nontoni, mring prenah têtêngerira, wujude ingkang sajati, sireku pada lukara, supaya cêtha kaeksi.

Sekarang agar nyata, aku hendak melihat dengan mata kepalaku sendiri, kepada tempat tanda seorang wanita, wujudnya yang sesungguhnya, kalian semua bukalah busana kalian, agar jelas terlihat.


26.Para garwa alon matur, Dhuh pukulun kadi pundi, dene paring dhawuh lukar, kawula lumuh nglampahi, krana saking botên limrah, nalar saru tan prayogi.

Seluruh istri pelan berkata, Duh yang mulia bagaimana maksudnya? Memberikan perintah agar kami telanjang, kami malu menjalani, karena tidak lumrah hal itu dilakukan, sangat saru dan tidak baik.


27.Gatholoco asru bêndu, Tuturmu padha ngantêpi, mantêp lair batinira, mituhu mring gurulaki, kaya paran ing samangkya, tan miturut prentah mami.

Gatholoco berkata, Bukankah kalian tadis udah mantap, lahir hingga batin, menuruti perintah Gurulaki, sekarang bagaimana, kok membantah perintahku?


28.
Lamun rewel datan manut, sireku bakal bilahi, sidane nêmu cilaka, katiban gitik panjalin, wong siji kaping limalas, lan maneh sun sêpatani.

Jika rewel tidak menurut, kalian bakal cemar, mendapatkan kecelakaan, tertimpa pukulan penjalin, setiap orang lima belas kali, dan akan aku kutuk nanti.


29.
Ananging yen padha manut, nurut marang karêp mami, sawuse lukar busana, nuli marang tilam sari, awakingsun pijêtana, supaya kêsêle mari.

Akan tetapi manakala semua menurut, menuruti keinginanku, setelah bertelanjang bulat, seterusnya menuju ke peraduan, pijitlah diriku ini, agar hilang rasa lelah yang kurasakan.


30.Para garwa samya manut, tyas ajrih den supatani, sadaya lukar busana, Gatholoco dhuk umeksi, gumujêng alatah-latah, sarwi ngingkrang munggeng kursi.

Seluruh istri menuruti, dalam hati takut kalau dikutuk, semua membuka busananya, Gatholoco begitu melihat, tertawa terbahak-bakak, sembari duduk diatas kursi.


31.Mangkana denira muwus, Saiki katon sajati, wus cêtha nyata wanita, têngêre wadon kaeksi, warna-warna datan padha, ana gêdhê ana cilik.

Beginilah dia berkata kemudian, Sekarang sudah terlihat yang sesungguhnya, benar-benar jelas kalian seorang wanita, bentuk kewanitaan kalian sudah terlihat, beraneka bentuknya tidak sama, ada yang besar ada pula yang kecil.


32.
Rehning cêtha wus kadulu, wujudnya sawiji-wiji, akarya rênaning driya, ing samêngko sun lilani, kabeh padha tutupana, ngagêma busana maning.

Karena aku sudah melihatnya, bentuk satu persatu milik kalian, membuat diriku senang, sekarang aku mengijinkan, tutupilah lagi, pakailah busana kalian kembali.


33.
Yen sireku arsa wêruh, marang sajatining laki, duwekingsun tingalana, becike apa saiki, utawa mêngko kewala, sakarêpmu sun turuti.

Jikalau kalian ingin melihat, kepada bentuk milikku, lihatlah kemari, sekarang juga, atau nanti, terserah kalian.


34.
Lamun sira ngajak ngadu, duwekmu lan duwek mami, manira manut sakarsa, gêlêm bae ingsun wani, sira ngajak kaping pira, manira saguh ngladeni.

Jika kalian semua mengajak untuk mengadu, milik kalian semua dengan milikku, aku akan menuruti, aku berani walau kalian semua mengajak berapa kali, aku sanggup melayani.


35.Rêtna Dewi alon matur, Pukulun pêpundhen mami, prakawis nalar punika, amba tan kapengin uning, dhumatêng wujuding priya, nuwun gunging pangaksami.

Retna Dewi pelan berkata, yang mulia sesembahan hamba, masalah itu, kami tidak ingin melihat, kepada bentuk barang milik lelaki, kami memohon maaf.


36.Kang awit pamanggih ulun, kirang prêlu angingali, kawula datan mêntala, lan malih botên prayogi, pramilane botên susah, paduka paring udani.

Sebab menurut kami, kurang perlu untuk melihat hal itu, kami sangat malu, dan lagi tidak baik, oleh karenanya tidak usah saja, jika yang mulia hendak menunjukkannya.


37.Gatholoco alon muwus, Dhuh wong ayu mêrak ati, sumeh sêmune prasaja, susileng solah rêspati, wangsalan iki rungokna, wulang mring sira wong manis.

Gatholoco pelan berkata, Duh cantik yang menawan hati, yang manis dan sangat sopan, yang beretika dan menyenangkan hati, pantun ini dengarkanlah, ini wejanganku kepada kalian semua.



Kamis, 08 Juli 2010

SERAT GATHOLOCO (13)



Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa

yang disimpan oleh

PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :

RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :

DAMAR SHASHANGKA



GATHOOCO 13 HURUF JAWA - bayuSOFT

GATHOOCO - bayuSOFT

GATHOOCO 13 - bayuSOFT
PUPUH VII


Gambuh


1. Anak murid sireku, kabeh padha keriya rahayu, lilanana saiki manira pamit, Gatholoco mangkat gupuh, lumampah ijen kemawon.

Wahai semua anak muridku, semoga keselamatan ada padamu saat aku tinggal, sekarang relakanlah aku pamit, Gatholoco segera berangkat, berjalan pergi sendirian saja.


2. Midêr-midêr ngêlantur, sêjanira angupaya mungsuh, sagung pondhok guru santri den lurugi, binantah ing kawruhipun, yen kalah dipun pepoyok.


Berkeliling kemana-mana, niatnya hendak mencari musuh berdebat, seluruh pondhok pesantren didatangi, diajak berdebat tentang ilmu sejati, jika kalah diperolok-olok olehnya.



3. Ana ingkang gumuyu, kapok kawus santri kang tan urus, wus dilalah karsaning Kang Maha Luwih, Gatholoco tyas kalimput, mêngku takabur ing batos.


Ada yang ditertawakan, mentertawakan para santri yang kalah debat, sudah menjadi kehendak Yang Maha Lebih, Gatholoco hatinya terliputi, perasaan takabbur (sombong).



4. Pangrasanira iku, sapa mênang padon karo aku, padu kawruh ingsun punjul sasami, marmane manggih sêsiku, kasiku dening Hyang Manon.

Menurut anggapan dirinya, siapa yang bakal menang berdebat denganku, jika berdebat aku lebih unggul dari semua manusia, oleh karenanya mendapatkan balak, mendapatkan balak dari Hyang Manon (Tuhan)


5. Kang sipat samar iku, Gatholoco tan rumasa luput, yen andulu ingkang bangsa lair batin, kaelokaning Hyang Agung, karya lakon langkung elok.


Yang Bersifat Maha Samar, tapi Gatholoco tidak merasa salah, senantiasa merasa benar akan segala pemahamannya tentang ilmu lahir dan bathin, kebesaran Hyang Agung (Tuhan), membuat jalan hidup Gatholoco semakin mengherankan.



6. Gatholoco andarung, lampahipun têrus minggah gunung, Endragiri wastanira ingkang wukir, sadaya santri ing gunung, binantah kawruhnya kawon.

Langkah Gatholoco semakin jauh, berjalan terus mendaki sebuah gunung, Endragiri nama gunung tersebut, seluruh santri yang tinggal disana, berdebat dengannya dan kalah.


7. Jêjanggan para Wiku, Rêsi Buyut Wasi lan Manguyu, den lurugi bantah kawruh sarak ilmi, ingkang kawon den gêguyu, Gatholoco asru moyok.

Jejanggan dan Para Wiku (Bhikku), Resi Buyut Wasi dan Manguyu, semua didatangi diajak berbantah ilmu sejati, yang kalah ditertawakan, oleh Gatholoco tanpa segan-segan lagi.

(Cantrik, Cethi, Cekel, Jejanggan, Buyut, Wasi, Manguyu dan Resi adalah istilah tingkatan siswa dalam pendidikan spiritual di sebuah Padhepokan Jawa jaman Kabuddhan/Shiwa Buddha. Kedudukan tertinggi adalah Resi atau Wiku/Bhikku. Sekarang, sebutan ‘Cantrik’ dipakai oleh Padhepokan Islam untuk menamai siswa nya yang belajar, yaitu ‘Santri’. Sedangkan istilah ‘Padhepokan’ sendiri diubah menjadi ‘Pe-Santri-an/Pesantren’)



8. Solah tingkah kumlungkung, ngrengkel nakal rêmên nyrekal digung, watak edir ilmu sarak den pabêni, mila saya camahipun, ya ta gênti winiraos.


Kelakuannya telah berlebihan, ulet nakal suka menyangkal diagungkan, terjerat kesombongan semua aturan syari’at dikritik, sehingga jatuhlah kesadarannya, lantas kemudian diceritakan.



9. Ing Endragiri gunung, wontên endhang gentur tapanipun, apêparab Rêtna Dewi Lupitwati, sadaya punggawanipun, samya estri maksih anom.

Tersebutlah di Gunung Endragiri, berdiam seorang wanita pertapa, bergelar Retna Dewi Lupitwati (Lupit : barang untuk menjepit, Wati : wanita ~ barang milik wanita yang fungsinya untuk menjepit), semua muridnya, terdiri dari gadis-gadis belia.


10. Satunggal wastanipun, apêparab Dewi Mlênuk Gêmbuk, nama Dewi Dudul Mêndut kang satunggil, mêrak ati dhasar ayu, cantrik kalih ugi wadon.


Yang seorang bernama, Dewi Mlenuk Gembuk (Mlenuk : Barang kecil yang menonjol dan montok, Gembuk : empuk ~ barang kecil yang menonjol montok dan empuk), yang lain bernama Dewi Dudul Mendut (Dudul : Disogok, Mendut : Terayun ~ yang disogok bisa terayun-ayun), sangat cantik memikat hati, keduanya perempuan semua.



11. Satunggal namanipun, akêkasih Dewi Rara Bawuk, kang satunggal Dewi Bleweh kang wêwangi, grapyak sumeh kaduk cucut, neng ngarsa gusti tan adoh.

Yang lain bernama, Dewi Rara Bawuk (Rara : Gadis belia, Bawuk : Vagina ~ vagina gadis belia), dan yang lainnya bernama Dewi Bleweh (Bleweh : Berlobang dan berlendir), semuanya sangat gembira dan rukun hidup bersama, saat itu mereka tengah berada didekat gurunya.


12. Sang Rêtna dhepokipun, yeku dhepok ing Cêmarajamus, pratapane ing guwa Seluman wêrit, angkêr sinêngkêr barukut, botên sêmbarangan uwong.

Nama dari Padhepokan Sang Retna (Dewi Lupitwati), adalah Padepokan Cemarajamus, tempat tapanya berada di gua siluman yang gelap, angker rahasia dan tersembunyi, tidak sembarang manusia.


13. Bangkit uningen ngriku, yen tan antuk lilane Sang Ayu, dene lamun wus kêparêng den ideni, kaiden ingkang amêngku, sinome guwa katongton.

Boleh melihat tempat tersebut, jikalau tidak mendapatkan ijin Sang Ayu (Dewi Lupitwati), namun bila sudah diijinkan, diperbolehkan oleh yang punya, ‘sinom’-nya gua bisa dilihat. (Sinom ~ bisa berarti muda bisa berarti rambut tipis dipelipis. Jika sebuah gua rahasia mempunyai sinom/rambut tipis, maka bisa anda tebak sendiri apa maksudnya. Selain itu, menandakan pupuh selanjutnya adalah pupuh Sinom. Beginilah sastra kuno Jawa, ambiguitas-nya sangat indah sekali.)



PUPUH VIII


Sinom


1. Ingkang samnya neng asrama, Rêtna Dewi Lupitwati, lagya sakeca ngandikan, lawan cêthi emban cantrik, kaget dupi umeksi, dhumatêng wau kang rawuh, sajuga janma priya, lênggah sandhing para estri, Mlênuk Gêmbuk sigra nabda atêtannya.

Yang tengah ada didalam asrama, Retna Dewi Lupitwati, tengah menikmati perbincangan, dengan Cethi Emban dan Cantrik-nya (maksudnya semua muridnya), terkejut semua begitu melihat, kepada seseorang yang tiba-tiba datang, nyata seorang lelaki, langsung duduk didekat para wanita, Mlenuk Gembuk segera bertanya.


2. Lah sira iku wong apa, wani malbeng Endragiri, rupamu ala tur kiwa, pinangkanira ing ngêndi, lan sapa kang wêwangi, angakuwa mumpung durung, cilaka siya-siya, apa tan kulak pawarti, lamun kene larangan katêkan priya.


Kamu itu manusia apa? Berani masuk ke Endragiri tanpa permisi. Wajahmu jelek dan buruk, darimanakah asalmu? Siapakah namamu? Jawablah sebelum, dirimu sia-sia celaka, apakah tidak pernah mendengar kabar, jika tempat ini tempat larangan bagi lelaki?



3. Gatholoco tansah nyawang, botên pisan amangsuli, mêndongong kendêl kewala, lir bisu mung clumak-clumik, malah angiwi-iwi, lingak-linguk kukur-kukur, dereng purun cantênan, nudingi mring cantrik estri, dangu-dangu sumaur ngucap mangkana.


Gatholoco hanya terpaku melihat (wanita-wanita cantik tersebut), tak sepatah katapun jawaban keluar dari mulutnya, termangu-mangu diam, bagai orang bisu hanya bibirnya berdecak-decak kagum, lantas bukannya menjawab tapi malah mencibir, duduk seenaknya dan menggaruk-garuk, tidak mau buka suara, namun kemudian dia menunjuk kepada Mlenuk Gembuk, dan menjawab begini.



4. Sun iki janma utama, nyata yen lanang sajati, kêkasih Barang Panglusan, lan aran Barang Kinisik, têtêlu jênêng mami, ananging ingkang misuwur, manca pat manca lima, tanapi manca nagari, Gatholoco puniku aran manira.


Aku ini manusia utama, nyata seorang lelaki sejati, namaku Barang Panglusan, nama lainku Barang Kinisik, ada tiga namaku, yang sangat dikenal, diseluruh empat penjuru mata angin bahkan lima penjuru mata angin, hingga ke mancanegara, Gatholoco itu namaku.



5. Omahku ing têngah jagad, pinangkane saking wuri, nuruti sêjaning karsa, pramilane prapteng ngriki, prêlu arsa pinangggih, marang sireku wong ayu, dhuh mirah pujaningwang, lamun condhong sun rabeni, Mlênuk Gêmbuk muring-muring asru sabda.

Rumahku dipusat semesta, aku datang dari belakang (tiba-tiba ada maksudnya ~ tidak ada yang menciptakan), menuruti kehendak, sehingga aku sampai juga disini, perlu untuk bertemu, dengan dirimu duh cantik, duh berlian merah pujaanku, jika mau aku nikahi dirimu, Mlenuk Gembuk marah-marah dan berbicara keras.


6. Gumêndhung si asu ala, lancang pangucap kumaki, dêksura tindak sêmbrana, adol bagus marang mami, ingsun tan pisan sudi, andêlêng marang dhapurmu, bêcik sira minggata, aja katon aneng ngriki, eman-eman panggonan den ambah sira.


Gila kamu anjing jelek, lancang ucapanmu dan sombong, seenaknya dan sembrono, menawarkan kebaikan kepadaku, diriku sekali-kali tak sudi, melihat wujudmu, lebih baik minggatlah, jangan terlihat disini, sayang tempat seindah ini kamu jejaki.



7. Wangsulane gêmang lunga, malah sira mirah nuli, nurutana karsaningwang, dhuh wong ayu sun rabeni, mangsuli manas ati, wuwuse saya dalurung, si anjing kêna sibat, tan kêna ginawe becik, Mara age tutugna dak kêpruk bata.


Gatholoco (menjawab) enggan pergi, malah jika mau, dirimu turutilah kehendakku, duh cantik aku akan menikahimu, (Mlenuk Gembuk) menjawab dengan kata-kata memanaskan hati, namun ucapaan (Gatholoco) semakin keterlaluan, si anjing dicaci maki, karena tidak bisa diberi sopan santun, Lanjutkan ucapanmu kalau ingin aku pukul dengan batu bata (kata Mlenuk Gembuk)!



8. Gatholoco saurira, wideng galêng (yuyu) dhuh maskwari, wong ayu bok aja duka, kuwuk mangsa kolang-kaling (luwak), ron kang kinarya kikir (rêmpêlas), wêlasana awakingsun, parikan jênang sela (apu), apuranên sisip mami, jalak pita (kapodhang) sun cadhang dadiya garwa.


Gatholoco menjawab (tapi dengan berpantun ‘wangsalan’ ~ wangsalan adalah pantun teka-teki kata khas Jawa), ‘wideng’ (atau gangsing, yaitu mainan kuno berbentuk bulat dan dimainkan dengan dihentakkan ditanah hingga berputar) yang ada di selokan sawah (binatang YUYU) duh intan adikku, wong ‘a-YU (cantik)’ janganlah marah, ‘kuwuk’ (kerang laut) yang suka makan buah kolang-kaling (binatang LUWAK), daun yang dibuat untuk menghaluskan sesuatu (REMPELAS), ‘we-LAS- ana (kasihanilah) a-WAK ingsun (diriku ini)’, tersebutlah bubur dari batu (APU ~ Kapur Sirih), ‘APU-ranen (maafkanlah)’ kelancanganku, burung Jalak berwarna kuning (burung KEPODHANG) aku ‘ca-DHANG (harap)’ berkenanlah menjadi istriku.



9. Baita kandhêg samudra (labuh), lara wirang sun labuhi, terong alit dhêdhompolan (ranti), bok iya nganti sawarsi, bibis kulineng tasik (undur-undur), sayêkti tan nêja mundur, isih cuwa atiku pan durung lêga.


Perahu berhenti diatas samudera (ber-LABUH), walaupun harus malu aku ‘LABUH-i (Jalani)’, buah terong kecil bergerombol (buah RANTI), walaupun ‘ngan-TI (hingga)’ setahun, burung bibis yang suka bermain dipasir (binatang UNDUR-UNDUR), sungguh-sungguh aku tak akan ‘mun-DUR’, masih akan kecewa hatiku dan belum akan lega (jika belum terlaksana keinginanku).



10. Lan maneh ngong ngrungu warta, gustimu Sang Lupitwati, misuwur lamun waskitha, pintêr mring sabarang ilmi, tan ana kang ngungkuli, sarta wus jumênêng Wiku, lamun kapara nyata, manira arsa nandhingi, bantah kawruh sakarsane ilmu apa.


Dan lagi aku mendengar kabar berita, gusti-mu Sang Lupitwati, sangat terkenal waskitha, menguasai segala ilmu, tak ada yang mampu mengunggulinya, serta sudah mencapai taraf Wiku/Bhikku, jika memang benar demikian, aku hendak menandingi, mengajak debat ilmu sejati sekehendak dia ilmu yang mana.



11. Mlênuk Gêmbuk saurira, Badhenên cangkriman mami, lan soale gustiningwang, Rêtna Dewi Lupitwati, soale êmban cantrik, yen sira ngrêti sadarum, najan rupamu ala, gustiku Sang Lupitwati, apa dene para cêthi cantrikira.


Mlenuk Gembuk menjawab, Tebaklah teka-tekiku, serta teka-teki gustiku, Retna Dewi Lupitwati, serta teka-teki seluruh emban dan cantrik beliau, jika dirimu mampu menjawab, walau buruk rupamu, gustiku Sang Lupitwati, berikut seluruh cethi dan cantrik beliau.



12. Mêsthine nurut kewala, kabeh gêlêm anglakoni, Gatholoco alon mojar, Apa têmên tan nyidrani, upamane ngapusi, apa sira wani tanggung, yen sira ora dora, sun jawabe ing samangkin, lah ucapna cangkrimane kaya apa.

Pasti akan menuruti kehendakmu, semua akan mau menjalani sebagai istrimu, Gatholoco pelan berkata, Benarkah tidak ingkar janji? Jika nanti ingkar, apakah kamu mau bertangggung jawab? Jika kamu tidak berbohong, akan aku jawab segera semua teka-teki kalian, segera ucapkanlah teka-tekinya seperti apa.


13. Mlênuk Gêmbuk alon mojar, Ana wit agung siji, pang papat godhonge rolas, kêmbange tanpa winilis, wohe amung kêkalih, mung sawiji trubusipun, mubêng wolu pangira, puniku ingkang sawiji, pan ana dene ingkang salah satunggal.


Mlenuk Gembuk pelan berkata, Tersebutlah sebuah pohon besar, berdahan empat dan berdaun dua belas, bunganya tak terhitung, buahnya hanya dua biji, hanya satu akarnya, tapi tumbuh bercabang delapan, itu teka-teki pertama, sedangkan teka-teki lainnya adalah.



14. Ingsun ningali maesa, kathahe amung kêkalih, nanging têlu sirahira, badhenên cangkriman kuwi, Gatholoco miyarsi, reka-reka tan sumurup, malenggong palingukan, kêcap-kêcap kêthip-kêthip, Mlênuk Gêmbuk gumujêng alatah-latah.


Aku melihat kerbau, berjumlah dua ekor, akan tetapi mempunyai kepala tiga buah, jawablah teka-teki ini, Gatholoco mendengarkan, pura-pura tidak paham, terbengong-bengong celingukan, bibirnya komat-kamit dan matanya ketap-ketip, Mlenuk Gembuk tertawa terbahak-bahak.



15. Kowe maneh yen bisaa, ambatang cangkriman iki, dhapurmu ala tur kiwa, Gatholoco anauri, Mêngko dhisik pinikir, supaya bisa katêmu, mara padha rungokna, wong kabeh aneng ngriki, sun badhene bênêr luput saksenana.


Mana mungkin kamu bisa memahami, bahkan menjawab teka-teki ini, rupamu buruk dan cacat, Gatholoco berkata, Sabar aku tengah berfikir, agar menemukan jawabannya, sekarang dengarkanlah, semua yang ada disini, aku akan menebak teka-teki itu salah maupun benar saksikanlah.



16. Ananging kalamun salah, aja padha ngisin-isin, bismillah mbadhe cangkriman, cangkrimane wong mrak ati, wit agung mung sawiji, iku jagad têgêsipun, pang papat iku keblat, godhong rolas iku sasi, trubus siji êpang wolu iku warsa.


Jika nanti salah, jangan mengolok-olok, bismillah hendak menjawab teka-teki, teka-teki dari manusia yang memikat hati, sebatang pohon besar, itu lambang dari dunia, dahan empat itu lambang dari arah mata angin, daun dua belas itu lambang bulan, akar satu bercabang delapan lambang tahun (tahun hakekatnya terulang satu kali, tapi dinamakan berbeda-beda setiap tahun hingga berjumlah delapan tahun yang disebut satu windu ~ tahun alip, ehe, jimawal, je, dal, be , wawu, jimakir ~ lantas berputar ke tahun alip lagi)



17. Kêmbang tanpa wilang lintang, minangka woh loro kuwi, anane surya rêmbulan, lan maneh ingkang sawiji, sira niku ningali, kêbo loro ndhase têlu, iku wus dadi lumrah, kêbo alam dunya iki, lanang wadon kêtêl wulu sirahira.


Bunga yang tak terhitung adalah lambang bintang, sedangkan buahnya hanya dua itu tak lain adalah matahari dan rembulan, sedangkan teka-teki satunya lagi, kamu melihat kerbau, dua ekor berkepala tiga, itu sudah lumrah didunia, kerbau yang ada di dunia ini, kepala ketiga adalah kepala yang juga ditumbuhi bulu.

(jika dua ekor kerbau jantan dan betina ada dalam satu tempat, maka kepala mereka jika dihitung ada tiga, yang satunya adalah kepala ‘penis’ kerbau jantan yang ditumbuhi bulu).



18. Gatholoco alon ngucap, Apa bênêr apa sisip, mangkono pambatangingwang, mring cangkriman iki, Mlênuk Gêmbuk miyarsi, wus kabatang soalipun, rumasa yen kasoran, sedhot mundur sarwi nglirik, alon ngucap saiki narima kalah.


Gatholoco pelan berkata, Apakah benar atau salah, begitulah jawabanku, untuk menjawab teka-teki ini, Mlenuk Gembuk mendengar, sudah terjawab teka-tekinya, merasa terkalahkan, seketika mundur sembari melirik, dan berkata sekarang mengaku kalah.



19. Dudul Mêndut sigra mapan, mesam-mesêm angesêmi, wus ayun-ayunan lênggah, Gatholoco nulya angling, Soal apa sireki, sun badhene cangkrimanmu, Dudul Mêndut angucap, Mangkene cangkriman mami, mara age badhenên ingkang pratela.


Dudul Mendut segera maju, tersenyum-senyum memikat, sudah berhadap-hadapan dengan Gatholoco, Gatholoco lantas berkata, Teka-teki apa darimu, akan aku jawab juga, Dudul Mendut berkata, Beginilah teka-teki dariku, segera tebaklah dengan benar.



20. Ing ngêndi prênahe Iman, ing ngêndi prênahe Buddhi, ing ngêndi prênahe Kuwat, apa Kang Luwih Pait, lan Ingkang Luwih Manis, Luwih Atos saking watu, apa kang Luwih Jêmbar ngungkuli jêmbaring bumi, apa ingkang Luwih Dhuwur saking wiyat.


Dimanakah kedudukan Iman? Dimanakah kedudukan Buddhi? Dimanakah kedudukan Kuat? Apa yang Lebih Pahit dari semua yang pahit? Apa yang Lebih Manis dari semua yang manis? Apa yang Lebih Keras dari batu? Apa yang Lebih Luas melebihi luasnya bumi? Dan Lebih Tinggi dari langit?



21. Apa ingkang Luwih Panas, ngungkuli panasing gêni, Luwih Adhêm saking toya, Luwih Pêtêng saking wêngi, êndi aran Ningali, lan êndi Kang Luwih Dhuwur, êndi Kang Luwih Andhap, apa ingkang Luwih Gêlis, akeh êndi Wong Gêsang karo Wong Pêjah.


Apa yang Lebih Panas, melebihi panasnya api? Yang Lebih Dingin dari air? Lebih gelap dari malam? Mana yang Melihat? Dan mana Yang Lebih Tinggi? Dan mana Yang Lebih Rendah? Apa yang Lebih Cepat? Banyak mana manusia Hidup dan manusia Mati?



22. Wong Sugih lawan Wong Nistha, Wong Jalu lawan Wong Estri, Wong Kapir lawan Wong Islam, mara badhenên saiki, Gatholoco nauri, Prênahe Iman puniku, aneng Jantung nggonira, ing Utêk prênahe Buddhi, Otot Balung prênah panggonane Kuwat.


(Banyak mana) yang Kaya dan yang Miskin, yang Laki-laki dan yang Wanita, yang Kafir dan yang Islam, segera jawablah sekarang. Gatholoco menjawab, Kedudukan Iman (Keyakinan) ada di Jantung, di Otak kedudukan Buddhi, Otot dan Tulang tempat kedudukan Kekuatan.



23. Prênahe Wirang ing Mata, Ing Dunya Kang Luwih Pait, batine wong malarat, dene Ingkang Luwih Manis, batine wong kang sugih, lamun Wong Kang Luwih Lumuh, Kang Blilu tan wêruh Sastra, ingkang aran Aningali, iku Janma Ingkang Wruh Ilmuning Allah.


Tempat Malu ada di Mata, tempat yang Lebih Pahit adalah di Dunia, menurut mereka yang melarat, sedangkan yang Lebih Manis, menurut mereka yang kaya, yang Lebih Bebal, adalah mereka yang bodoh tak memahami sastra suci, yang disebut Melihat, adalah manusia yang memahami ilmu Allah.



24. Ing ngêndi Kang Luwih Pêrak, Ing Dunya Kang Luwih Gêlis, ingkang Luwih Bungahira, iku Marmaning Hyang Widdhi, kang Amba Luwih bumi, yêkti Pandêlêng puniku, Landhêp Luwih Kang braja, iku Nalare Wong Lantip, Ingkang Adhêm Luwih toya Ati Sabar.


Dimanakan yang Lebih Dekat (kebahagiaan dan kesengsaraan ~ dualitas), di dunia ini juga yang Lebih Cepat, yang Lebih Bergembira (dan yang Lebih Sengsara), itu semua kehendak Hyang Widdhi, yang Luas melebihi bumi, adalah Penglihatan ini, yang Tajam melebihi besi, adalah Kesadaran manusia yang sudah terjaga, yang Dingin melebihi air adalah Hati yang Sabar.



25. Luwih Atos saking sela, Atine Wong Dhangkal pikir, Atine Wong Kang Brangasan, Panase Ngungkuli gêni, Wong Jalu lan Wong Estri, yêkti akeh Wadonipun, sanajan wujud lanang, tan wêruh tegese estri, kêna uga sinêbut sasat wanita.


Lebih Keras dari batu, adalah Hati manusia yang Kesadarannya sempit, Hati manusia yang penuh keinginan, panasnya melebihi Panas Api, Laki-laki dan Wanita, jelas banyak Wanita-nya, walau berwujud laki-laki, jika tidak memahami makna wanita sejati, bisa disebut juga wanita.



26. Wong Urip lan Wong Palastra, têmêne akeh kang Mati, sanajan wujude Gêsang, kalamun wong tanpa Buddhi, iku prasasat Mati, Wong Sugih lan Wong Nistheku, mêsti akeh kang Nistha, sanajan Sugih mas picis, lamun bodho tanpa Buddhi tanpa nalar.


Yang Hidup dan yang Mati, sungguh lebih banyak yang Mati, walau terlihat hidup, namun jika tanpa Buddhi (Kesadaran), sungguh dia Mati, yang Kaya dan yang Melarat, banyak yang Melarat, walau kaya harta benda, manakala bodoh tanpa Kesadaran dan tanpa kecerdasan.



27. Kêna sinêbut Wong Nistha, tan duwe pakarti benjing, kalamun ing rahmatullah, Wong Islam lawan Wong Kapir, Islam Kapir mung lair, yen tan ana anggitipun, mênawa datan wikan, pranatanira Agami, têtêp Kapir yêktine janma punika.


Bisa disebut manusia Melarat, tidak memiliki aktifitas lebih, untuk memahami kasih Allah, yang Islam dan yang Kafir, Islam dan Kafir hanya bisa dibedakan, manakala tidak mampu membangun Kesadaran, manakala tidak memahami, intisari Agama, tetap Kafir manusia yang seperti itu.



28. Wong iku nyata pintêran, tan kêna den mêjanani, Dudul Mêndut mundur sigra, sarwi awacana aris, Wus bênêr ora sisip, saikine ingsun têluk, Rara Bawuk gya mapan, mangkana denira angling, Ndika-bêdhek Gus Nganten cangkriman kula.


Orang ini memang pintar, tak bisa dikalahkan, Dudul Mendut segera undur, sembari berkata pelan, Benar jawabanmu, sekarang aku mengaku kalah, Rara Bawuk segera maju, begini katanya, Sekarang tebaklah teka-tekiku manusia Bagus.