Jumat, 24 Februari 2012

Sabda Palon 2 (Roh Nusantara dan Orang-orang Atas Angin)


Telah terbit!








Sabda Palon 2
(Roh Nusantara dan Orang-orang Atas Angin)

S
ejak Dinasti Ming melarang armadanya berlayar ke luar Cina, ditambah rentannya Majapahit setelah Rani Suhita mangkat pada tahun 1447, perjanjian antara Tiongkok dan Majapahit selepas Perang Paregreg—yang memberikan jaminan keamanan kepada warga keturunan Cina di Majapahit—pun mulai goyah. Haji Gan Eng Cu, pejabat Dinasti Ming untuk kawasan Asia Tenggara yang berkedudukan di Lasêm, berencana menggalang kekuatan prajurit demi keamanan warga keturunan Cina. Bong Swi Hoo alias Sayyid Ali Rahmad diperintahnya untuk menempati daerah Bangêr. Dari sana dia diharapkan bisa menjadi penghubung warga Cina yang tinggal di Jawa sebelah timur dengan Lasêm.
Di sisi lain, Tuban yang semakin makmur menimbulkan kecemasan sejumlah pejabat pribumi Majapahit. Kemakmuran Tuban salah satunya disebabkan oleh kebijakan Adipati Arya Adikara yang memberikan kesempatan kepada orang-orang Atas Angin untuk masuk ke jajaran pemerintahan, termasuk mengangkat Gan Eng Wan, adik Haji Gan Eng Cu, sebagai patih Tuban. Lalu tersingkaplah sebuah desas-desus tentang rencana penyerbuan atas Tuban yang digerakkan oleh beberapa pejabat Majapahit. Namun Adipati Tuban tidak mempercayainya. Tumenggung Wilwatikta meminta tolong kakaknya di Lasêm, Pangeran Wirabraja, untuk menyelisik kebenaran desas-desus itu. Kerusuhan besar pun membayang-bayangi Tuban.
Dalam pada itu, Bhre Kêrtabumi, didampingi dua punakawannya, Sabda Palon dan Naya Genggong, mulai mendapat petunjuk dari sosok misterius yang dipercaya sebagai Roh Nusantara. Petunjuk itu menggiringnya pada pengetahuan tentang hakikat tanah Nusantara, yang dalam penglihatan batinnya pernah menjadi pusat peradaban dunia, dikenal sebagai Ataladwipa. Begitu pula Sayyid Ali Rahmad. Dia memperoleh penampakan gaib yang mahadahsyat. Tanda-tanda perubahan zaman mulai terlihat. Jawa akan berganti wajah. Agama lama bakal sirna digantikan agama baru. Dan Bhre Kertabumi dan Sayyid Ali Rahmad adalah dua orang yang terpilih sebagai pengawal perubahan mahabesar yang bakal mengubah wajah dunia.



CATATAN: Novel ini adalah kelanjutan dari novel bestseller Sabda Palon I (Kisah Nusantara yang Disembunyikan):









©Damar Shashangka, 2012 
Hak cipta dilindungi undang-undang 
All rights reserved 
Penyunting: Salahuddien Gz  
Pemindai Aksara: Webri Veliana 
Penggambar Sampul: Yudi Irawan  
Penggambar Ilustrasi: Sherika 
Penata Letak: MT Nugroho


 ISBN: 978-979-17998-2-9
Harga: Rp 75.000,- (485 Hlm. Bookpaper)


Penerbit : DOLPHIN
Jln. Ampera II No.29, Jakarta Selatan.
Telp : 021-78847301
E-mail : bunda_laksmi@yahoo.com





Buku ini bisa dipesan sekarang juga. Pesan ke penulis plus tanda tangan penulis cukup Rp.65.000,- dan diskon 20% untuk pembelian 5 buku (jadinya Rp 300,000,-), melalui akun email : damarshashangka@gmail.com (belum termasuk ongkos kirim). Kirim pesan pemesanan dan alamat yang dituju, buku akan dikirim melalui POS/JNE. Pembayaran melalui transfer ke rekening:



BCA KCP Gondanglegi,Malang
No.Rek : 31-70-41-76-90
a/n : Anton Maharani

Konfirmasi transfer, hubungi nomor tlp ini.
Nope : 0818-102-767
Atau email : damarshashangka@gmail.com

Kamis, 09 Februari 2012

NOVEL SABDA PALON 2

Sabda Palon 
2


 
Sejak Dinasti Ming melarang armadanya berlayar ke luar Cina, ditambah rentannya Majapahit setelah Rani Suhita mangkat pada tahun 1447, perjanjian antara Tiongkok dan Majapahit selepas Perang Paregreg—yang memberikan jaminan keamanan kepada warga keturunan Cina di Majapahit—pun mulai goyah. Haji Gan Eng Chu, pejabat Dinasti Ming untuk kawasan Asia Tenggara yang berkedudukan di Lasêm, berencana menggalang kekuatan prajurit demi keamanan warga keturunan Cina. Bong Swie Hoo alias Sayyid Ali Rahmad diperintahnya untuk menempati daerah Bangêr. Dari sana dia diharapkan bisa menjadi penghubung warga Cina yang tinggal di Jawa sebelah timur dengan Lasêm.

Di sisi lain, Tuban yang semakin makmur menimbulkan kecemasan sejumlah pejabat pribumi Majapahit. Kemakmuran Tuban salah satunya disebabkan oleh kebijakan Adipati Arya Adikara yang memberikan kesempatan kepada bangsa Atas Angin untuk masuk ke jajaran pemerintahan, termasuk mengangkat Gan Eng Wan, adik Haji Gan Eng Chu, sebagai patih Tuban. Lalu tersingkaplah sebuah desas-desus tentang rencana penyerbuan atas Tuban yang digerakkan oleh beberapa pejabat Majapahit. Namun Adipati Tuban tidak mempercayainya. Tumenggung Wilwatikta, menantu Adipati Tuban, meminta tolong kakaknya di Lasêm, Pangeran Wirabraja, untuk menyelisik kebenaran desas-desus itu. Kerusuhan besar pun membayang-bayangi Tuban.

Dalam pada itu, Bhre Kêrtabumi, didampingi dua punakawannya yang setia, Sabda Palon dan Naya Genggong, mulai mendapat petunjuk dari sosok misterius yang dipercaya sebagai Roh Nusantara. Petunjuk itu menggiringnya pada pengetahuan tentang hakikat tanah Nusantara, yang dalam penglihatan batinnya pernah menjadi pusat peradaban dunia, dikenal sebagai Ataladwipa. Begitu pula Sayyid Ali Rahmad. Dia memperoleh penampakan gaib yang mahadahsyat. Tanda-tanda perubahan zaman mulai terlihat. Jawa akan berganti muka. Agama lama bakal sirna, diganti agama baru. Dan Bhre Kertabumi dan Sayyid Ali Rahmad adalah dua orang yang terpilih sebagai pengawal perubahan mahabesar yang bakal mengubah wajah dunia.

 ©Damar Shashangka, 2012
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Penyunting: Salahuddien Gz
Pemindai Aksara: Webri Veliana
Penggambar Sampul: Yudi Irawan
Penggambar Ilustrasi: Sherika
Penata Letak: MT Nugroho





Penerbit : DOLPHIN
Jln. Ampera II No.29, Jakarta Selatan.
Telp : 021-78847301
E-mail : bunda_laksmi@yahoo.com



Nantikan Terbitnya pada 20 Februari 2012!









Kamis, 26 Januari 2012

ASAL USUL KERATON SURAKARTA



ASAL USUL KERATON SURAKARTA

Ngarsadalêm Ingkang Sinuhun (Yang Mulia Panutan hamba) Paku Buwana II menyadari jika keraton Kartasura sudah tidak layak lagi untuk dijadikan sebagai pusat pemerintahan, sebab pernah di bedhah (dimasuki oleh tentara pemberontak) Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning atau Sultan Anyakrakusuma pada 1741 Masehi. Beliau berkehendak untuk membuat keraton baru.  Sedangkan letak persisnya masih dicari,. Diharapkan bisa segera menemukan tempat yang luas dan subur serta memberikan berkah agar kedudukan sebagai Raja lestari hingga ke anak cucu kelak.

Para pembesar Negara, termasuk diantaanya para ahli nujum, ahli perhitungan dan ulama, semua diperintahkan untuk mendukung keinginan Ingkang Sinuhun Paku Buwana II. Beberapa diantara mereka terdapat nama Pangeran Wijil I (keturunan Sunan Kalijaga dari Kadilangu), Kyai Kalipah Buyud, Mas Pangulu Pêkik Ibrahim dan Kyai Tumênggung Tirtawiguna.

Setelah mendapatka perintah resmi, mereka segera berangkat untuk mencari tanah yang pantas dan tepat sebagai bakal keraton baru. Perjalanan mereka sampai di daerah Talawangi, sekarang lebih dikenal dengan nama kampung Kadipala. Disana mereka sepakat untuk menjadikan daerah itu sebagai keraton baru, akan tetapi Raden Tumênggung Tirtawiguna tidak menyetujui. Lantas Pangeran Wijil I bergerak ke timur dan menemukan daerah yang tepat yang terletak didaerah Sala (Solo).

Pangeran Wijil I dan Tumênggung Tirtawiguna segera bersemedi disana, meminta petunjuk Hyang Widdhi. Petunjuk didapatkan dan konon mereka mendapatkan wangsit sebagai berikut :

“Heh kang padha manungku puja, yen Desa Sala ini wus pinasthi bakal dadi nagara-gung, luwih dening kêrta tata lan raharjane. Ananging katêmuwa karo Kyai Sala, ing kono kang sumurup mula bukane ing nguni-nguni.”

(Wahai yang tengah khusyuk memuja, Desa Sala ini sudah ditakdirkan akan menjadi Negara besar, sangat-sangat tenteram dan makmur. Akan tetapi sebelumnya, kalian harus menemui Kyai Sala, dialah orang yang tahu asal-usul Desa ini.”)

Setelah mendapatkan wangsit, Pangeran Wijil I dan Tumênggung Tirtawiguna berangkat dari Kêdhung Kol kearah barat menuju Desa Sala. Ternyata Kyai Gêdhe Sala telah mendapat firasat bakal ditamui oleh orang-orang besar dari Keraton Kartasura, utusan dari Sang Raja Paku Buwana.

Setelah mempersilakan para tamu untuk duduk, Pangeran Wijil segera mengutarakan maksu kedatangannya. Kyai Gêdhe Sala benar-benar mendengarkan tuturan Pangeran Wijil dan Tumênggung Tirtawiguna. Lantas Kyai Gêdhe Sala berkata :

“Duh Pangeran, semoga berkenanlah mendengarkan sejarah masa lalu tanah ini. Beginilah sejarahnya seingat hamba. Dulu ketika masih jaman keraton Pajang (abad 16), putra dari Tumênggung Mayang tewas ditusuk keris atas perintah Raja (Sultan Adiwijaya/Jaka Tingkir). Sebab bersalah telah memasuki taman kaputren dan bercinta dengan putri Raja secara diam-diam. Jenazahnya dibuang ke Sungai Pepe lantas hanyut dan tersangkut di sebelah timur Desa Sala ini.

Pada saat itu, yang menjabat sebagai Bêkel disini bernama Kyai Gêdhe Sala juga, oleh karenanya bumi ini lantas diberinama Sala. Singkat cerita, Kyai Gêdhe Sala tengah menuju ke sungai. Mendapati bangkai manusia tersangkut akar pepohonan, lantas ditarik olehnya ketengah dengan maksud agar hanyut terbawa arus air yang deras. Saat itu, ketika tengah menghanyutkan tepat sore hari. Keesokan harinya, bangkai tersebut didapati masih tetap menyangkut ditempat semula. Kyai Gêdhe Sala berusaha menghanyutkan kembali, begitu hingga tiga kali berturut-turut, namun setiap kali beliau menuju sungai, bangkai itu masih nampak tersangkut dan tidak terbawa oleh air sungai. Ki Gêdhe Sala kebingungan, lantas memohon kepada Hyang Widdhi agar supaya bangkai bisa hanyut dan tidak kembali lagi. Anehnya saat Ki Gêdhe Sala tengah bersamadi, lamat-lamat terdengar suara digendang telinganya, begini : Wahai, Kyai. Janganlah berbuat tega kepadaku. Lebih baik tolonglah aku. Kuburkan aku disebelah barat Desa Sala. Ketahuilah wahai, Kyai. Ditempat mana kuburku berada kelak akan menjadi Negara besar yang tenteram dan makmur, tak bisa dimasuki oleh musuh.”

Akhirnya bangkai lantas dikuburkan sesuai petunjuk tersebut. Diberi nama Kramat Kyai Bathang. Mendengar penuturan yang sedemikian, Pangeran Wijil, Tumênggung Tirtawiguna, Kyai Kalipah Buyud dan Mas Pengulu Pêkik Ibrahim bersuka cita dalam hati, sudah tampak keberhasilan akan tugas yang tengah mereka emban. Mereka segera berziarah ke makam Kyai Bathang. Disana mereka mengamat-amati keadaan tanah dan ternyata memang cocok dengan yang dicari. Akan tetapi, didekat tempat tersebut terdapat rawa-rawa yang luas dan dalam. Rawa-rawa yang terus mengeluarkan air dan harus bisa dihentikan semburannya. Dalam kondisi senang dan bingung,  akhirnya, diputuskan mereka semua untuk kembali dulu ke keraton dan melaporkan hasil tugas yang telah mereka emban termasuk keberadaan rawa-rawa yang terus mengeluarkan air.

Di keraton Kartasura, sesudah mendapatkan pelaporan dari mereka-mereka yang diutus, Sinuhun Paku Buwana II seketika terheran-heran. Sinuhun lantas memanggil Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura I. Keduanya mendapatkan perintah untuk ikut memikirkan bagaimana caranya agar rawa-rawa bisa dihentikan semburan airnya, lantas agar bisa dibangun keraton baru yang kuat dan kokoh, subur makmur serta tenteram selama-lamanya.

Singkat cerita, Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura I segera berangkat menuju Desa Sala. Keduanya menitik kondisi rawa. Menurut penglihatan bathin mereka, ditengah rawa terdapat Tirta Kamandanu. Karena keberadaan Tirta tersebut, maka tidaklah mengherankan jika semburan air sedemikian deras dan besar.

Kedua utusan balik ke keraton dan menuturkan kepada Sinuhun Paku Buwana II :

“Sinuhun, luas dusun Sala sudah kami dapatkan secara jelas. Benar-benar tempat yang cocok untuk membangun keraton baru. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah keberadaan rawa yang terus menerus mengeluarkan air. Jika dapat dihentikan semburan air rawa tersebut, maka pembangunan keraton baru akan semakin mudah.”

Kangjêng Sinuhun lantas memanggil Tumênggung Hanggawangsa dan Kyai Patih Adipati Pringgalaya untuk membantu. Di Kepatihan mereka berkumpul dan memutuskan untuk meneruskan usaha pembangunan keraton baru di dusun Sala.

Ingkang Sinuhun Paku Buwana II pun segera mengumumkan secara resmi untuk segera membangun keraton baru di dusun Sala. Beliau memerintahkan seluruh Bupati dan Adipati mancanegara untuk segera bekerja.  Para Bupati dan Adipati segera mengirimkan kayu-kayu gelondongan utuh. Kayu-kayu tersebut dimaksudkan sebagai sarana menghentikan semburan air rawa. Akan tetapi, ketika kayu-kayu gelondongan tersebut diletakkan ditengah sumber rawa, bukannya air menjadi surut melainkan malah semakin deras.

Pangeran Wujil I dan Kyai Yasadipura I segera melakukan tirakat kembali disana. Beberapa hari melakukan laku tirakat, suatu malam terdengar suara sebagai berikut :

“Heh kang padha mangun brata. Têlêng iku mulane ora bisa pampêt amarga têmbusane marang sêgara kidul. Dene yen sira angudi pampête, saranane tambalên, GONG SĒKAR DALIMA, karo GODHONG LUMBU lan SIRAHING TĒLĒDHEK. Ing kono bisa pampêt, ananging ing têmbe dadi kêdhung ora mili ora asat, ajêg banyune ora kêna dipampêt salawas-lawase.”

(“Wahai yang tengah bertapa. Air tersebut tidak bisa dihentikan semburannya karena tembus ke laut selatan. Jika kalian berkehendak untuk menghentikan semburannya, tamballah dengan GONG SEKAR DELIMA, DAUN LUMBU dan KEPALA TĒLĒDHEK (Penari wanita). Alirannya yang deras pasti terhenti, akan tetapi lantas akan berubah menjadi danau yang airnya tidak mengalir pun juga tidak kering. Dan air yang keluar tidak akan sederas sekarang dan tak akan mungkin dihentikan untuk selama-amanya.”

Wisik tadi diterima pada hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon), bulan Sapar tanggal 29 tahun Jimawal 1669 (1744 Masehi). Kyai Yasadipura I lantas diharapkan oleh Pangeran Wijil I agar bersedia berdiam di sebelah selatan Kedhung Kol. Siapa saja yang berdiam ditanah tersebut, maka seluruh anak cucu hingga cicitnya akan mendapatkan kemakmuran dan kedudukan tinggi.

Kyai Hanggawijaya dan Kyai Yasadipura I yang kemudian marak ke hadapan Sinuhun Paku Buwana II untuk menyampaikan wisik yang didapatkan. Begitu mendengar peaporan kedua orang petinggi tersebut, Sinuhun Paku Buwana II lantas berkata :

“Hanggawangsa dan Yasadipura, wisik tadi menyebut-nyebut nama SIRAH TĒLĒDHEK (Kepala Penari wanita). Maknanya bukan kepala seorang manusia penari, melainkan RINGGIT (UANG ; Nama lain TĒLĒDHEK adalah RINGGIT). Sedangkan maksud dari GONG adalah GONGSA (Mulut) atau ucapan. Kyai Sêkar Dalima maksudnya Sêkaring Lathi (Bunga Mulut). Ketahuilah, karena semenjak mula yang memberitahukan sejarah tempat tersebut adalah Kyai Gêdhe Sala, maka keputusanku sesuai petunjuk wisik tersebut, maka dia harus diberikan uang yang utama (kepala; kepala dianggap sebagai sesuatu yang utama) sebanyak SALEKSA (10.000) sebagai ganti daerah yang menjadi miliknya berikut rawanya.”

(Bersambung)

Damar Shashangka, 26/01/2012

Sabtu, 24 Desember 2011

Illustrasi SABDA PALON (2) PUPUH I Bandar Regol, Lao Sam (Pausa 1369 Saka/Januari 1447 Masehi)




Illustrasi

SABDA PALON
(2)

PUPUH I Bandar Regol, Lao Sam
(Pausa 1369 Saka/Januari 1447 Masehi)






L
ao Sam adalah pegucapan Tiongkok untuk Lasêm. Sebuah daerah pesisir utara Jawa yang lantas dipilih oleh Haji Gan Eng Chu sebagai kediaman beliau demi mengemban tugas dari Laksmana Cheng Ho untuk mengawasi wilayah Nan Yang (Asia Tenggara).

Dari Lao Sam, kesepakatan kedua negara, Tiongkok dan Majapahit,yang mengamanatkakan agar pihak Majapahit melindungi warga Tiongkok perantauan di wilayah Majapahit, senantiasa di awasi pula. Haji Gan Eng Chu, adalah pejabat Tiongkok dinasti Ming yang berwenang untuk itu.

Kesepakatan itu terjadi setelah kesalah pahaman antara pihak Tiongkok dan Majapahit pada perang Paregreg (1404-1406), dimana pada waktu itu, armada Laksmana Cheng Ho yang berlayar dari Tiongkok, mendarat didaerah Simongan (Semarang sekarang). Laksamana Cheng Ho tidak mengetahui situasi genting di Jawa. Armadanya yang sangat besar, dengan 208 Jung dan lebih dari 27.000 awak kapal yang bertolak dari Tiongkok untuk mengemban misi persahabatan dengan Raja Majapahit atas titah Kaisar Zhu Di, diserang oleh armada Majapahit. Memang jauh-jauh hari telah tersiar kabar, bahwa Bhre Wirabhumi II telah mendapat stempel emas dari Kaisar Tiongkok. Ini menandakan, Kaisar Tiongkok secara tidak langsung telah mendukung Bhre Wirabhumi II.

Pertempuran tak dapat dielakkan dan lebih dari seratus awak kapal Laksamana Cheng Ho tewas! Bahkan banyak orang-orang China yang jauh-jauh hari sudah berdiam dibeberapa daerah pesisir utara Jawa, ikut terkena imbasnya, terbunuh dengan sangat menyedihkan tanpa tahu sebab musabab yang jelas. Mayat mereka sering terlihat tergeletak dengan luka tusuk keris didada atau terpenggal kepalanya.

Orang-orang China yang tinggal dipesisir Jawa resah.

Laksamana Cheng Ho yang segera menguasai keadaan, secepatnya mengirimkan utusan menghadap Bathara Prabhu Wikramawardhana. Laksamana Cheng Ho memberitahukan bahwa kedatangannya ke Jawa bukan bermaksud untuk mengadakan peperangan, namun sebaliknya, mengemban titah Kaisar Zhu Di untuk memulihkan hubungan kedua belah Kekaisaran. Bathara Prabhu Wikramawardhana, begitu mendapati utusan Laksamana Cheng Ho dan memahami duduk masalah yang sebenarnya, segera memberikan komando kepada seluruh tentara Laut maupun Darat Majapahit untuk menghentikan penyerangan kepada armada Laksamana Cheng Ho. Bahkan, sang Laksamana mendapat kehormatan diundang ke istana Majapahit dengan jamuan yang luar biasa. Bathara Prabhu Wikramawardhana berjanji akan memberikan ganti rugi atas segala kerusakan dan korban nyawa yang dialami armada Cheng Ho. Untuk itulah, Bathara Prabhu Wikramawardhana segera mengirimkan duta khusus ke China, menemui Kaisar Zhu Di. Duta Majapahit itu berlayar bersama rombongan armada Laksamana Cheng Ho yang bertolak ke China.

Kaisar Zhu Di geram mendengar armada yang dikirimnya ke Majapahit mendapat sambutan yang sedemikian rupa. Ditengah kegeramannya, Kaisar – melalui duta yang dikirim - menuntut Raja Jawa memberikan ganti rugi sebesar 60.000 tahil emas dan menuntut agar Raja Jawa memberikan perlindungan khusus bagi orang-orang China yang hidup di Majapahit

Pada awal tahun 1408, Laksamana Cheng Ho kembali melakukan pelayaran ke Jawa. Duta dari Majapahit ikut serta. Tuntutan dari Kaisar Zhu Di disampaikan oleh sang Duta kepada Bathara Prabhu Wikramawardhana. Dalam kondisi ekonomi Negara yang morat-marit, demi memenuhi janji yang telah diucapkan, Bathara Prabhu Wikramawardhana bersusah payah mengumpulkan 60.000 tahil emas, namun akhirnya hanya mampu mengumpulkan 10.000 tahil saja. Majapahit telah benar-benar jatuh miskin selepas perang Paregreg. Sedangkan tuntutan kedua dari Kaisar Zhu Di agar Majapahit memberikan perlindungan khusus kepada orang-orang China yang menetap di Majapahit, segera dipenuhi. Bathara Prabhu Wikramawardhana membuat peraturan baru, dimanapun orang China berada, keberadaannya tidak boleh diganggu. Bahkan dalam kondisi perang, perkampungan China tidak boleh diusik. Kampung China tidak boleh dibuat sebagai tempat persembunyian bagi kedua belah pihak yang tengah bertikai. Semenjak saat itu, perkampungan China di Majapahit sangat-sangat aman.

Pada akhir tahun 1408, duta Majapahit dikirim ke China untuk menyerahkan emas yang diminta Kaisar China. Mendapati Raja Jawa hanya mampu menyerahkan 10.000 tahil emas dari 60.000 tahil yang diminta, hampir saja kemurkaan Kaisar berkobar. Namun begitu mendengar tuntutan jaminan keamanan bagi orang China sudah dipenuhi oleh Raja Jawa, Kaisar Zhu Di akhirnya menerima 10.000 tahil emas tersebut dan menghapuskan hutang Raja Jawa yang masih tersisa 50.000 tahil.

Dan, di daerah Lasêm, keberadaan pemukiman China memang benar-benar terjamin dari berbagai macam gangguan. Walau kini Bathara Prabhu Wikramawardhana sudah digantikan oleh putrinya, Bathara Prabhu Sthri Dyah Rani Suhita, jaminan tersebut masih tetap diberikan oleh pihak kerajaan Majapahit.

Tapi semenjak Dinasti Ming melarang pelayaran ke luar negeri setelah Laksmana Cheng Ho wafat, ditambah ketidak stablian Majapahit selepas Bathara Sthri Dyah Rani Suhita wafat (1447), perjanjian antar Tiongkok dan Majapahit ini mulai goyah, dan keberadaan warga Tiongkok perantauan mulai terancam.

Bagaimanakah kisah pergulatan etnis keturunan ini dengan pribumi Majapahit? Silakan ikuti pada Novel Sabda Palon 2 yang akan segera terbit Januari 2012 mendatang.





Penulis : Damar Shashangka.
Penyunting : Salahuddien Gz
Pemindai Aksara : Webri Veliana
Illustrasi : Sherika Sheroki

Penerbit : DOLPHIN
Jln. Ampera II No.29, Jakarta Selatan.
Telp : 021-78847301
E-mail : bunda_laksmi@yahoo.com






Jumat, 02 Desember 2011

Kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan(2) Diterjemahkan oleh : Damar Shashangka

Babad Tanah Jawi, Balai Pustaka, 1939-1941
Bale Pustaka - Batawi Sèntrêm 1939

Diterjemahkan oleh :
Damar Shashangka
2011

 Bagian 2

Pupuh 14
Mijil




1. Kêkêmbên sinjang rasukan mami | ing wataraningong | pasthine ika karangkud bae | pasthi ika kêkecer ing margi | saking rika ugi | ngageti wong adus ||

Kêmbên dan busana milikku, perkiraanku, pastinya tercakup begitu saja (karena tergesa-gesa), dan lantas tercecer ditengah jalan, itu semua disebabkan oleh kedatangan andika, (yang telah) mengejutkan orang tengah mandi.


2. Baya mêndêm gadhung rika ugi | tan wruh ring wong wadon | Ki Jaka mesêm amanis linge | Wong ayu sampun runtik ing galih | apan ulun iki | dahat dening tambuh ||

Apakah anda mabuk gadhung, sehingga tiada melihat wanita (yang tengah mandi)? Ki Jaka tersenyum manis dan berkata, Cantik, janganlah marah-marah, (jujur) diriku ini sangat-sangat menginginkan dirimu.


3. Yen sêmbada lan karsanireki | dawêg apêpadon | Inggih ing supama-supamine | wontêna ingkang asung kulambi | sinjang lan cêmênthing | paran upahipun ||

Jikalau dirimu menyetujui, mari kita buat kesepakatan. Jika seandainya, ada orang yang memberikan busana, sinjang dan cêmênthing (ikat perut), apa yang akan menjadi upahnya?


4. Sang juwita ling ya anauri | Kalamun wong anom | sung sinjang cêmênthing kulambine | ingsun aku saudarawedi | yen wong tuwa ugi | bapa angkah ingsun ||

Sang juwita menjawab, Jikalau ada orang yang masih muda, memberikan sinjang cêmênthing serta busana, maka akan aku anggap sebagai saudara dekat. Jika dia orang sudah tua, akan aku anggap sebagai ayah angkat.


5. Kae Jaka ing Tarub sigra ngling | Bilih kita tamboh | inggih ulun ing mangke adarbe | sinjang rasukan lawan camênthing | nanging mangke taksih | ewêd pabênipun ||

Dan Jaka dari Tarub segera berkata, Dirimu sungguh menghendaki (busana), dan diriku sekarang memiliki, sinjang busana serta cêmênthing (yang kamu butuhkan). Akan tetapi saat ini, kesepakatan yang kita buat masih kurang memuaskan.


6. Yen makatêna kewala ugi | pabêne sang sinom | sayêkti dereng wontên mantrane | yen mêthukana lawan tyas mami | Dening kajêng mami | yen andika pêthuk ||

Jikalau hanya seperti itu, kesepakatan yang dibuat oleh dua orang muda, sungguh belum memiliki kekuatan. Yang menjadi kehendakku, serta yang menjadi keinginanku, dan jika dirimu setuju.


7. Inggih darbek kawula puniki | kula karya tukon | Yen kitarsa tômpa sayêktine | pasthi kita ulun karya rabi | apan darbe mami | inggih mung puniku ||

Apa yang aku bawa ini, akan aku buat sebagai mas kawin. Jikalau dirimu menerimanya maka sungguh, dirimu akan aku jadikan istri, sah menjadi milikku. Seperti itu mauku.


8. Lah punapa lêgaa ing galih | ing wiraos ingong | Yen wus suka Sang Ayu galihe | dawêg puniki dika tampeni | Yen wus dika tampi | ing sapasrah ulun ||

Nah, apakah dirimu paham, apa yang menjadi maksudku? Jikalau dirimu cantik telah ikhlas, segera terimalah, dan jika sudah kamu terima, sesuai kesepakatan tadi.


9. Lah kita dadia rabi mami | Darbek dadi tukon | puniku yen sêmbada karsane | Sang Dyah Ayu emêng tyas tanpa ngling | Ki Jaka ngling malih | Kadipundi kayun ||

Maka dirimu akan menjadi istriku. Apa yang aku bawa inilah sebagai maskawin, itupun jika dirimu menyetujui. Sang Dyah Ayu beku hatinya dan tak bisa berkata-kata. Ki Jaka lantas berkata lagi, Bagaimanakah keputusanmu?


10. Sampun mindêl kemawon ta Gusti | ecane tyas ingong | sang dyah ayu kewêdan ri linge | sarya tumungkul angum jro warih | sangsaya mlas-asih | citrane Sang Ayu ||

Jangan hanya berdiam diri Gusti Ayu, berikan jawaban agar puas hatiku. Sang Dyah Ayu ketakutan mendengar ucapan itu, membalikkan badan dan merendam diri didalam air, tampak kasihan sekali, wajah Sang Ayu.


11. Ling ya Ki Jaka Lah kadipundi | ecane tiningong | Sang Dyah Ayu anulya dan linge | Inggih yen kita tulus nyukani | sinjang lan kulambi | maring raganingsun ||

Berkata kembali Ki Jaka, Bagaimana? Berikan jawaban. Sang Dyah Ayu lantas menjawab pelan, Baiklah, jikalau dirimu memang berniat tulus memberi, sinjang dan busana, kepada diriku.


12. Mugi andika tulusa dadi | samitra sayêktos | ing ingaran sudarawedine | Nene ing jangji salakirabi | pan lênggana mami | yen dadia dhaup ||

Semoga andika juga tulus hati, menjadi teman, bagaikan saudara dekat tak terpisahkan. Sedangkan mengenai pernikahan, diriku belum bisa memberikan jawaban, akan hal tersebut.


13. Kae Jaka sigra denira ngling | Lah ta yen mangkono | yen kusuma tan arsa kramane | pasthi manira nora ngaturi | ngaran kêthek langking | baya durung kontung ||

Jaka Tarub segera berkata, Jikalau hanya seperti itu, jika sang bunga tiada mau aku nikahi, pastilah diriku tak akan memberi, bagai kera kebingungan, sungguh belum bahagia hatiku.


14. Yen apanggiha awak puniki | lan sang liring sinom | yêkti tan asung ulun pasthine | Sang Kusuma kewêdan ing galih | angartikeng ati | paran têmahipun ||

Jika belum bersatu diriku, dengan dirimu, pastilah aku tak akan memberikan (busana ini). Sang Bunga ketakutan dalam hati, membatin, bagaimana akhirnya nanti.


15. Yen tan nurutana ingsun iki | ing sakarsanya wong | yêkti awet ngong neng toya kene | Lawan ingsun sidaa apanggih | kalawan wong iki | paran polah ingsun ||

Jika diriku tak menuruti, atas kehendak manusia ini, pastilah diriku akan terus berendam didalam air seperti ini. Akan tetapi jika diriku benar-benar harus menikah, dengan manusia ini, bagaimana harus menjalani?


16. Dening manusa lan widadari | baya raganingong | Uwus karsaning dewa yêktine | kaya ngapa gon ingsun gumingsir | Nawangwulan angling | Lah iya ki bagus ||

Dirinya bidadari dan orang itu manusia biasa, bagaimana nanti nasibku? Tapi jika memang sudah menjadi kehendak Dewata, bagaimana lagi bisa dihindari? Nawangwulan lantas berkata, Baiklah, Ki Bagus.


17. Raga manira iki ing mangkin | karsanira ngrêngkoh | Nanging manira sungana age | sinjang kasamêkan lan kulambi | Ki Jaka nulya glis | ngulungakên sampun ||

Diriku ini sekarang, kupasrahkan kepada andika untuk dimiliki. Segera berikan, sinjang kasêmek (cêmênthing) dan busana. Ki Jaka bergegas, memberikan semuanya sudah.


18. Sinjang rasukan sampun den tampi | mring Sang Ayu gupoh | dyan rinasuk pasungsung sakehe | Ki Jaka dahat suka tyasneki | Sang Rêtna nulya glis | mêntas saking ranu ||

Sinjang busana sudah diterima, oleh Sang Ayu dengan buru-buru dan segera dipakai semuanya. Ki Jaka sungguh senang dalam hati. Sang Ratna segera, keluar dari air.


19. Tan antara nulya den aturi | wau sang lir sinom | mring Ki Jaka mantuk ing wismane | Ya ta lumampah tiyang kêkalih | Ki Jaka umiring | lumakya ing pungkur ||

Tak berselang lama lantas diajak, sang cantik, oleh Ki Jaka untuk pulang ke wiisma. Segera berjalan keduanya. Ki Jaka mengikuti, berjalan dibelakang.


20. Tan kuciwa Sang Dyah dadya rabi | pinet ing pasêmon | lwir Kamajaya lawan Ratihe | Sang Dyah lumampah tumungkul isin | gêgêtun tan sipi | ri polah kagugu ||

Sungguh tak kecewa memperoleh Sang Dyah sebagai istri, jika dilihat, bagaikan Kamajaya dan Dewi Ratih. Sang Dyah berjalan sembari menunduk malu, sebenarnya sangat kecewa, terhadap keputusan yang telah diambil.


21. Dene tan anyana tan angimpi | ring tyas sang lir sinom | yen manusa kang dadya lakine | Wus anyipta ywan karsaning Widi | tan kêna wah gingsir | Wau lampahipun ||

Tak dinyana tiada diimpi-impikan, oleh Sang cantik, jikalau dirinya akan berjodoh dengan manusia biasa. Akhirnya dipupus semua sebagai kehendak Hyang Widdhi, yang tak bisa dihindari. Dan perjalanan sudah.


22. Sampun prapta ing wismanireki | Ni rôndha duk anon | mring kang putra pinalayon age | gupuh rinangkul putranirèki | Sira têka ngêndi | gusti anak ingsun ||

Sampai di wisma. Nyi Rondha begitu melihat, kedatangan putranya segera berlari, gugup dirangkulanya sang  putra. Darimana dirimu, duh anakku?


(Bersambung)

By Damar Shashangka 2 Desember 2011






Rabu, 30 November 2011

CUPLIKAN NOVEL SABDA PALON 2 Oleh : Damar Shashangka





CUPLIKAN NOVEL SABDA PALON 2
Oleh : Damar Shashangka


Setelah Novel SABDA PALON 1 meraih sukses dipasaran, menyusul segera terbit seri kedua. Melanjutkan kisah perkembangan Islam di pulau Jawa yang dimulai pada kisaran abad XV. Abad dimana perdagangan global mulai merambah Nusantara. Dipadu dengan kisah-kisah mitos Jawa yang masih belum banyak diketahui, terutama keberadaan tokoh DANG HYANG SABDA PALON.

Bagaimakah kisah dari Sayyid 'Ali Rahmad, Sayyid 'Ali Murtadlo dan Zanal Kabir selanjutnya? Dan bagaimana juga kisah pergulatan bathin dari Bhre Kêrtabhumi? Siapakah sosok Dang Hyang Sabda Palon itu? Apa hubungan beliau dengan Sang Hyang Tri Purusha, Sang Hyang Sapta Bathara dan Sang Hyang Panca Tirtha yang sangat dihormati di Bali?  Semua bisa disimak pada seri kedua ini.  Sebuah Novel yang sarat dengan sejarah perkembangan Islam di Jawa, sejarah leluhur Syiwa Buddha juga peranan orang-orang Tionghwa Muslim yang belum banyak diketahui !



Pupuh XVII
PANGERAN CHAMPA YANG TERPILIH.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

            Pusaran cahaya itu membludak sedemikian melimpah. Baru saja ditatapnya pendaran cahaya yang sedari tadi membuatnya dilanda rasa kepenasaran yang teramat sangat, mendadak, bagai gelontoran air bah, pusaran cahaya tiba-tiba saja menerjangnya tanpa ampun. Sebuah rasa dingin yang aneh, bagai dinginnya sapuan angin yang tidak begitu deras, dirasa menerpa sekujur tubuhnya seiring terjangan pusaran  itu!

            Bagai terpancang diatas bumi, tubuhnya sangat susah untuk digerakkan! Apakah dirinya masih berpijak diatas bumi? Entahlah! Tubuhnya sebegitu kaku. Sangat kaku. Bahkan untuk mengedipkan matapun tak mampu dilakukannya. Hanya kesadaran saja yang masih tetap bisa digerakkan. Dan dari sana, dari kedalaman kesadarannya, terus terlontar nama-nama Tuhan tanpa henti. Sedemikian deras nama-nama itu dikucarkannya, sederas terjangan pusaran cahaya yang datang semakin melimpah ruah!

            Dicobanya menarik nafas! Tapi tak terasa ada aliran udara! Apakah dia masih bernafas? Ya Allah! Detak jantungnya pun tak dirasakannya lagi. Lantas dia bisa bertahan hidup dengan apa? Bahkan kini, tak lagi dia bisa mengetahui, apakah dirinya masih mempunyai tubuh? Kepanikan yang melanda segera ditekannya kuat-kuat. Hanya Allah yang berkuasa atas dirinya. Hanya Allah yang harus memenuhi sekujur kesadarannya! Kini tak diketahuinya lagi, apa yang tengah terjadi dengan dirinya! Tak lagi diketahuinya dia berada dimana! Ya Alah! Ya Alah! Ya Allah!

            Dan pendaran cahaya yang menghempas-hempas itu semakin terang! Sangat-sangat terang dan menyilaukan! Bahkan kesadarannya pun kini seolah ikut terbuai oleh karenanya. Ada keterikatan aneh antara nama-nama Tuhan yang dikucarkannya terus menerus dengan hempasan cahaya itu! Ada keterpautan ganjil yang menyatakan secara tegas dalam dirinya, bahwa apa yang kamu ucapkan masih satu sumber dengan limpahan cahaya yang datang!

            Pelahan, ketenangan menyelinap direlung kesadarannya. Kini, dia pasrah. Pasrah segalanya. Dia akan menerima segalanya. Ketenangan yang memenuhi kisi-kisi kesadarannya menciptakan pendaran-pendaran baru yang lebih cemerlang! Dan diantara pendaran-pednaran cahaya itu, lamat-lamat, menampak sesosok tubuh!

            Kembali kesadarannya terhenyak! Siapa itu? Sosok apa itu?

            Dan sosok itu semakin membayang ditengah-tengah limpahan cahaya. Lamat-lamat pula, dalam kesadarannya mendengar suara aneh! Suara yang tak dia mengerti! Tidak! Dia menangkap maksud suara itu! Ya! Sosok itu memberinya salam! Ya! Walau dengan bahasa yang tak dikenalnya! Tapi dia paham! Sangat paham dan yakin bahwa itu ucapan salam! Dan ucapan itu harus dijawab dengan salam pula!

            “Alaikumussalam..” desis kesadarannya. Dia tak tahu apakah ucapannya akan didengar. Karena dia tak memiliki suara. Tak ada suara yang mampu dikeluarkannya. Bahkan bibir-pun tak tahu lagi apakah masih dia punyai!

            Ada getar hangat, getas kasih, getar senang yang terpancar dan dia merasakannya. Ya! Salamnya didengar dan mendapat sambutan!

            Menyusul terdengar lagi suara yang menerpa kesadarannya. Suara yang sama, yang tak bisa dimengerti. Namun tidak. Dia paham. Dia paham…

            “Anakku. Selamat datang di Yawadwīpa. Disinilah aku sekarang memilih untuk hadir ke dunia. Menunaikan tugasku. Tugas purba. Mengemban tanah Ataladwīapa yang telah tenggelam dahulu kala.”

            Tubuhnya tergetar. Ya! Tergetar! Tapi dia tak merasa mempunyai tubuh! Lantas apa yang tergetar? Ya Allah!

            “Dirimu telah terpilih disini. Dari dirimu akan memancar ajaran baru. Ajaran yang sementara waktu akan menggantikan ajaran purba. Ajaran yang dibutuhkan demi memberikan peringatan bagi penghuni bekas daratan Ataladwīpa. Ajaran yang semula manis, yang keluar dari pancaran tanganmu, akan memecah menjadi Dwijawara[1] di sisi kiri dan menjadi kendi berisi  Amrta[2] disisi kanan. Dwijawara dibutuhkan untuk membalaskan kesalahan-kesalahan penghuni tanah ini. Dan Amrita dibutuhkan sebagai pembasuh kekotoran-kekotoran itu. Dan seseorang yang terjatuh dengan darah meleleh dikakinya, dari dialah Dwijawara akan banyak bertumbuhan. Dan seseorang yang sebentar lagi akan engkau temui, seseorang berselimut wulung[3], dari dialah Amrta akan banyak terpancarkan. Dia akan dikenal sebagi Tirtha[4] dalam namanya. Kehadiranku kembali disini, untuk memastikan perubahan yang bakal terjadi, agar tak banyak menimbulkan korban. Tapi ingat-ingatlah, lima ratus tahun lagi, terhitung dari Sirna dan Hilangnya Gunung Besar bertahtakan pohon Bilwa[5] yang Tikta[6], kelak aku akan kembali lagi!”

            Ada hawa panas terasa! Dan pendaran cahaya sejenak kemudian bercampur warna merah darah! Warna itu memekat! Berputar-putar! Namun tampilan itu hanya sesaat! Kemudian hilang dan berganti pendaran cahaya yang terang seperti semula. Dan sosok yang samar, pelahan namun pasti, mulai terlihat dengan jelas!

            Kesadarannya siap! Ya! Siap untuk melihat dengan jelas wujud sosok itu!

            Dan yang semula berbayang, kini mulai menyata!

            Sesosok bercahaya, bertubuh gemuk dengan perut buncitnya! Dengan bulu janggut yang terurai. Tangan kiri membawa kendi! Tangan kanan membawa tasbih! Ya! Tasbih! Kesadaranya menggeragap! Ya Allah! Beliau itukah? Ya Allah!

            Sontak dia menghaturkan sembah hormat! Entah dengan cara apa! Tapi kesadarannya yakin dirinya telah mengangkat sembah tepat sebatas dada! Dan sosok itu mengangkat tangan kanannya! Memberikan restu! Kemudian raib begitu saja! Dan pendaran-pendaran cahaya, yang semula berlimpahan, sedikit demi sedikit mulai menyusut. Seiring susutan pendaran itu, perlahan dirasakannya tanah yang dijejakinya! Menyusul kemudian, tubuhnya menemukan bentuk kembali. Kini dia tahu mana kaki, mana paha, mana tangan dan mana kepalanya!

            Bahkan kini, dia tahu dirinya masih bisa bernafas. Dia juga tahu detak jantungnya masih ada! Dan seiring semakin menyurutnya cahaya yang terlihat, pening mendadak menguasai kepalanya!

            Tanpa sadar diangkatnya tangan memegangi kening! Dan tanpa sadar terucap sesuatu dari bibirnya.

            “Astaghfirullah!”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Pupuh XXVI
NYI SYAMIROH

.........................................................................................................................................................................

Pasukan Pangeran Wirabraja masih bisa bertahan. Bersama sembilan ratus orang-orang China yang dibawanya, ditambah seribu orang China dari Tandhês, dia mengamuk dengan pedang ditangan! Gerakan mereka cepat bagai gerakan belalang! Pasukan Lasêm yang ikut dalam barisan pasukan bercadar terus bertambah! Sedikit demi sedikit, pasukan China dan pasukan Sayap Capit kanan Tuban mundur!

Bangkai orang bermata sipit mulai terlihat disana-sini dengan darah menggenangi tubuhnya! Teriakan kemarahan terus berkumandang dari pasukan bercadar!

“Bantai orang Atas Angin! Bantai orang Atas Angin!”

Pangeran Wirabraja menggeram marah!

“Aku orang Atas Angin! Siapa yang berani maju! Sini! Aku penggal kepala kalian! Bangsat!”

Pangeran Wirabraja menerjang berani dengan kudanya! Melihat Pangeran Lasêm tersebut merangsak dengan berani, beberapa orang China tumbuh semangatnya! Mereka bersorak-sorai ikut merangsak maju!

Pertempuran sengit terus berlangsung! Pangeran Wirabraja mengamuk dengan pedang ditangannya! Seorang pimpinan pasukan bercadar menyibak kerumunan dengan kudanya dan segera menghampiri Pangeran Wirabraja!

“Aku lawanmu!”

Pangeran Wirabraja membelalak dan memaki marah!

“Maju sini! Bangsat!”

Dengan bentakan keras, pemimpin pasukan bercadar langsung menerjang Pangeran Wirabraja! Kedua pedang mereka beradu! Sedemikian kerasnya hingga menimbulkan percikan api! Tangan masing-masing sampai kesemutan dan tergetar! Pangeran Wirabraja menggeram marah! Sempat dia menyabetkan pedangnya ke seorang prajurid bercadar yang hendak menusuk dari belakang! Satu sabetan telah mengenai leher dan membuat sosok yang hendak menyerangnya tumbang bermandi darah!

Diputarnya haluan kuda dan kembali menerjang lawannya, sang pemimpin pasukan bercadar! Sabetan terayun telak dan tepat mengenai dada lawan! Namun Pangeran Wirabraja memekik ketika mengetahui pedangnya tak sanggup melukai tubuh orang itu! Pedang Tiongkok setajam itu, bagai beradu dengan batu cadas yang keras! Tak ada darah! Bahkan lukapun tidak didada yang baru saja terkena pedang!

            “Hahahahaaha! Habiskan besimu goblog!”

            Orang itu memutar pedang dan menyabet leher! Pangeran Wirabraja menggeram dan menangkis serangan tersebut! Bunyi beradunya dua logam terdengar! Telak! Hampir saja Pangeran Wirabraja terjatuh karena kerasnya ayunan!

            Pangeran Wirabraja memutar tali kekang kudanya! Berputar hendak menerjang!

            Namun dilihatnya, pasukannya satu demi satu tumbang ketanah! Kini posisinya benar-benar terdesak!

            Segera diangkat pedangnya dan berteriak!

            “Mundur! Mundur!”

            Seluruh pasukan segera bergerak undur! Kocar-kacir! Satu dua terpapas pedang dan sekarat! Pasukan Pangeran Wirabraja bergerak undur! Diikuti pasukan Sayap Capit kanan! Pasukan bercadar bersorak-sorai! Dan pemimpin pasukan bercadar tertawa tergelak-gelak melihat pasukanTuban pontang-panting melarikan diri!

Disisi barat daya, kekalahan serupa terjadi. Pasukan Capit sisi kanan bergerak mundur. Pasukan bercadar terus merangsak maju dengan formasi Garuddha Wyuuha! Mereka mempermainkan pasukan yang kocar-kacir bagai seekor garudha mempermainkan anak ayam! Sesekali sayap kanan menyerang, kemudian bertahan dalam posisinya, menyusul sayap kiri menyerang, bertahan dalam posisinya, lantas kepala menyerang! Begitu seterusnya! Pasukan sisi barat daya benar-benar terdesak hebat!

.........................................................................................................................................


[1] Tawon penyengat

[2] Air kehidupan

[3] Hitam kebiru-biruan

[4] Air

[5] Pohon Maja

[6] Pahit



Segera terbit awal Januari 2012

Kamis, 04 Agustus 2011

SARASEHAN DI SITI HINGGIL TROWULAN DAN LAUNCHING BUKU DARMAGANDHUL , 16 JULI 2011

Mengumandangkan
Sêrat Darmagandhul, Pupuh 11 Asmaradana, Pada (Bait) 6-23
.
Berisi "Wasiat terakhir Prabhu Brawijaya V".

















Meditasi dipinggir Kolam Segaran, tepat jam 00.00 WIB







Rabu, 27 Juli 2011

Sahadat Panêtêp Panatagama

Karena ada yang meminta agar share yang seringkali saya lakukan kewat status didokumentasikan, maka share tentang SAHADAT PANÊTÊP PANATAGAMA saya dokumentasikan. Semoga bermanfaat...

Kangjêng Susuhunan Ing Kalijaga

(Syeh Mlayakusuma/Raden Sahid/Brandhal Lokajaya)

(Lahir di Tuban, Jawa Timur 1450 - Wafat di Kadilangu Dêmak, Jawa Tengah, 1549 M)

Damar Shashangka

(Selasa Kliwon, 26 Juli 2011)

“Sahadat Panêtêp Panatagama

Kang jumênêng Ruh Ilapi,

Kang ana têlênging ati,

Kang dadi Pancêring Urip,

Kang dadi lajêre Allah,

Madhêp maring Allah,

Iku wayangan-Ingsun Ruh Muhammad,

Iya iku Sajatining Manungsa,

Iya iku kang Wujud Sampurna.

Ya Hu Allah.”

(Buat saudara-saudaraku yang mendalami ajaran Kangjeng Sunan Kalijaga)

Anda, Mohammad Faizal, Asrianty Purwantini, Brewisnu Jayati, dan 77 orang lainnya menyukai ini

Aang Arif Amrullah :

Nuwun dulur....

Apik iki....

Paejo Toeloesabdhigusti :

Wadoh!sradi bingung ajenge komen niki,sttuse mpon mendalam kados ngoten og!xixixixi

Pawiro Slamet :

Aq yo dw Mar tp ra ngono kui

Damar Shashangka :

Terjemahan :

“Kesaksian Pengokoh Inti Agama,

Adalah sebagai Ruh Idhofi (Spirit Yang Menguatkan),

Yang ada di pusat bathin,

Yang adalah sumber kehidupan,

Yang merupakan satu keadaan dengan Allah,

Yang senantiasa menghadap kepada Allah,

Itulah bayangan/percikan-KU yang disebut Ruh atau Muhammad (Sejati),

Itulah Sejatinya Manusia,

Itulah Wujud Sempurna,

Ya Hu Allah.”

Be Muwbe :

artinya apa tu sob..??

Mbahcip Irak :

Matur suwun kang damar, pencerahanipun.

Damar Shashangka :

Dibaca setiap malam selesai Tahajjud. Untuk mengingat bahwa diri ini adalah Ruh, percikan Allah. Ruh sejatinya murni dan suci, dan tidak selayaknya dikotori oleh hal-hal yang nista.

Damar Shashangka :

Doa ini seringkali diajarkan/diwejangkan oleh seorang Guru Kejawen begitu saja, tanpa dibedah maknanya. Jadinya ya hanya sekedar hafal-hafalan semata...:)

Damar Shashangka :

Dan ----------nuwun gunging pangaksama---------------s udah waktunya sekarang dibedah agar tidak hanya sekedar menjadi rapalan tanpa makna, warisan tanpa diketahui maksudnya. Nuwun sewu kagem sedaya pinisepuh Kejawen... _/\_

Be Muwbe :

heem... Sbrapa suka kwn trhadap islam??

Jombang Ijo :

Nunut nyimak

Amin Harja Diningrat :

sah adat jawa kok pakek allah?

John Rifqie :

derek nyimak kang damar....

Satriya Semesta :

mari dibedah bareng2.

Damar Shashangka :

Ini aliran Kejawen (Islam Abangan). Bagi yang Putihan, jelas ga mathuk. Atau yang ilmu Jawa asli, jg ga masuk. Bagi saya, semua ajaran berintikan sama, yang saya ga cocok adalah yang radikal... :p

@Bwe Mubwe : Saya suka Islam, tapi ga suka yang golongan keras. Tak ada sense. Kaku....:p

Bill Insky :

yang radikal paling cocok dengerin ceramahku ini...>>> http://www.youtube.com/watch?v=eSAhySNIuCM

b1ll insky god born in indonesia

www.youtube.com

www.b1llinsky.wordpress.com Yahoo chat Nusantara 6 section

Damar Shashangka :

Hahaha...Ojo marahi....

Amin Harja Diningrat :

Hehehe,ouw gtu to mas..monggo d lanjut..

Satriya Semesta :

perlu digaris bawahi : antara Doa ini atau kalimat ini perlu diselaraskan dgn perilaku sehari2,diantaranya yaitu memiliki sifat 20.Syukur separoh nya... :p

Damar Shashangka :

Intinya semacam affirmasi. Jika dibaca tiap tengah malam, disaat situasi hening dan tenang, affirmasi ini akan meresap ke dalam bawah sadar kita dan akan membentuk semacam 'self control' secara otomatis.

Damar Shashangka :

Sunan Kalijaga mengajarkan doa semacam ini dengan tujuan membangun 'self control' tersebut. Bagi yang Putihan, yang sedikit-sedikit minta penguat dalil, jelas dianggap bid'ah. Tapi ini bid'ah khasanah, toh...:p

Be Muwbe :

saya ucapkn "slamat malam" mas DS... Smoga kta trmasuk orang2 yg brada dlam kdamaian mski kdamaian akn slalu brdampingan dgn perperangan.... Amiin... _/|\_

Damar Shashangka :

Doa diatas menuturkan Inti Sari/Esensi agama yang musti harus kita Saksikan sendiri (Sahadat Panetep Panatagama).

Apa yang musti kita persaksikan? Tak lain adalah Ruh Ilapi (Idhafi). Yaitu Intisari setiap makhluk termasuk manusia. Ruh Idhafi inilah percikan Allah. Tidak diciptakan, namun ditiupkan!

Ani Chan :

makasih mz damar......

Satriya Semesta :

blh dikatakan sbg sugesti diri,nyatanya itu kalimat bukanlah sugesti karangan,tp real.menumbuhkan atau membuka kembali mutiara2 sejatinya diri yg selama ini terpendam atau tertutup rapat oleh doktrin salah ataupun nafsu2 yg tidak terkontrol.... tlg ditambahkan pengertiannya ya lur damar s ?

Damar Shashangka :

Ruh Ilapi/Ruh Idhafi inilah yang :

Kang ana têlênging ati,

Kang dadi Pancêring Urip,

Kang dadi lajêre Allah,

Madhêp maring Allah,

(Yang ada di pusat bathin,

Yang adalah sumber kehidupan,

Yang merupakan satu keadaan dengan Allah,

Yang senantiasa menghadap kepada Allah)

Damar Shashangka :

Dan Ruh Ilapi ini adalah :

Iku wayangan-Ingsun Ruh Muhammad,

Iya iku Sajatining Manungsa,

Iya iku kang Wujud Sampurna.

(Itulah bayangan/percikan-KU (Allah) yang disebut Ruh atau Muhammad (Sejati),

Itulah Sejatinya Manusia,

Itulah Wujud Sempurna)

Damar Shashangka :

Esensi manusia adalah Ruh Idhafi. Disebut pula Muhammad Sejati (Bukan Muhammad bin Abdullah). Dan Ruh Idhafi ini adalah 'Wayangan' (Bayangan) Allah sendiri.

Doa ini adalah mengingatkan senantiasa kepada kita, bahwa kita adalah BAYANGAN ALLAH. Jadi jangan sembarangan dalam mengarungi hidup dan kehidupan.

Makaten, semoga bermanfaat bagi saudara-saudaraku penganut Kejawen share dari saya yang bodoh ini...

Damar Shashangka :

Diangap bid'ah ga masalah, asalh bid'ah khasanah... :p

Satriya Semesta :

Ingsun = Nur Muhammad = Allah = Ruh Ilafi , sejatinya tiada beda.

Satriya Semesta :

bin abdullah itu si achmad,setelah segala sifat2 dua puluh Allah menghiasi perilakunya maka bergelar Muhammad,kita jg cikal bakal Muhammad,bila mampu..... :p...share dr saya wong ndeso yg bodoh jg ... hihihihiiii.

John Rifqie ‎:

@ kang damar n kang satriya : maturnuwun sedulur sampun berbagi pengetahuan n ilmux,smoga bermanfaat dlm mengarungi hidup ini....rahayu _/\_

Dodi Ahmad Setiawibowo :

Nur Muhammad ya Ruh Al Quds ya Roh Kudus ya Suksma Sejati. .

Nur Ichwan :

itu mantra apa wedaran ataukah sanepan kang?

Damar Shashangka :

@Kang Nur : Wedaran yang bisa dijadikan pepeling dengan cara dijadikan affirmasi tiap malam.

Damar Shashangka :

Allah badan-Ku,

Muhammad cahya-Ku,

Rasul rahsa-Ku,

Roh Ilapi urip-Ku,

{Allah adalah tubuh-Ku (Aku Allah),

Muhammad/Yang Terpuji adalah cahaya-Ku (Aku Allah)

Rasul/Utuisan Sejati adalah rahsa/Rasa sejati-Ku (Aku Allah),

Roh Idhofi/Spirit Yang Menguatkan adalah hidup-Ku (Aku Allah) }

Allah,Muhammad,Rasul,Roh Ilapi ada dalam 'Kajaten Tunggal' (Kesejatian Tunggal). Manusia adalah Roh Ilapi, oleh karenanya berhati-hatilah mengarungi hidup dan kehidupan ini, karena manusia adalah Tiupan Roh Allah sendiri.

Sugeng enjang para sadulur Kejawen, mugi tansah manggih karahayon... :)

Evry R Ayu :

maturnuwun mas damar :), sugeng enjang lan rahayu wilujeng ugi, nderek share kalimah niku nggih...rahayu :)

Rio Chafix :

sugeng enjing mas bro...wedaran / do'a yang sudah tidak perlu di rahasiakan lagi seperti Al Fatehah dalam islam yang sumua membaca dan merapalnya......

Evry R Ayu :

mas damar....makna "HU" disini sebagai apa ya...

Moh Hasanudin :

ijin share mas damar ...

Putu Surya Kentjana Putra :

mantap mas Damar...sy merasakan manfaat dari penjelasan anda terutama terjemahannya itu...kalimat kejawen tsb sudah sy kenal lam..matur nuwun...sy tunggu shar nya yang berikut...

Damar Shashangka :

@Mbak Evry : 'HU' atau 'HUWA' bermakna 'Dia'.

Sunan Kalijaga seringkali mengunakan kalimat :

YA HU

YA HU ALLAH

YA HU KAK (KHAQ)

Evry R Ayu :

Matur suwun mas

Rahayu...