Rabu, 20 Maret 2013

MEMBUKA DIRI MENGGALI KEBENARAN





Membuka Diri
Menggali Kebenaran


 BUDAYA  
  
PRIORITAS : EDISI 62 - TAHUN II | 18 - 24 MARET 2013
  
Serat atau Suluk Gatholoco kembali hadir menyentakkan kesadaran bahwa roh agama adalah spiritualitas. Upaya menepis kekakuan dalam kehidupan beragama.



PRIORITAS/Komarul Iman

Buku Gatholoco karya Damar Shashangka.






Jikalau aku harus mandi/ tubuhku sudah penuh air/ jikalau aku harus mandi api/ di dalam tubuhku penuh api/ jikalau bisa bersih menggosok badan dengan tanah/ sudah jelas (daging ini) berasal dari tanah/ Jikalau aku mandi angin/ badanku sumber angin/ beritahukan kepadaku apa yang yang harus kupakai untuk mandi? Ketiga guru menjawab/ Tubuhmu dari cairan (sperma)/ Layaklah jika mandi air agar suci tubuhmu itu.

Gatholoco lantang menjawab/ kalian santri bodoh/ jikalau bisa suci karena mandi air/ aku akan berendam selama sembilan bulan saja/ tidak perlu mencari ilmu (Ketuhanan)/ Ketahuilah bahwa sesungguhnya/ aku telah mandi Tirta tekad suci ening (air tekad suci yang jernih)/ yaitu jernihnya hati tanpa dikotori oleh segala macam perbuatan salah/ itulah mandi yang sesung­guhnya.

Kalimat di atas adalah peti­kan salah satu Suluk Gatholoco, ajaran filosofi tentang perjala­nan pencarian kebenaran yang diperkirakan ditulis pada 1800- an. Tak jelas siapa pengarang asli ajaran yang dikemas dalam bentuk tembang macapat dalam bahasa Jawa ini.

Mashuri, sastrawan yang juga mengkaji Serat Gatholoco mengatakan banyak nama yang diduga menulis karya ini seperti Raden Soewandi, Soeryonegoro bahkan Ronggowarsito. “Hingga kini belum diketahui siapa pengarang sesungguhnya,” kata Mashuri kepada Prioritas, Jumat pekan lalu.

Sejak kelahirannya hingga saat ini, ajaran spiritualitas dalam suluk Gatholoco menjadi kontroversi. Ada yang mengang­gap suluk ini menyerang ajaran agama Islam merujuk pada penggunaan nama-nama tokoh dan tempat yang identik dengan Islam. Ajaran ini pun nyaris terlupakan dan tak berkembang di masyarakat. Selama ini suluk Gatholoco hanya dikaji dalam ruang-ruang kuliah.

Adalah Damar Shasangka, penulis novel Sabdo Palon yang menterjemahkan naskah lama ini dan memberi interpretasi dalam sebuah buku berjudul Gatholoco sama dengan nama suluk ini. Buku setebal 394 halaman ini dilengkapi dengan catatan kaki dan penjelasan mendalam oleh penulisnya tidak hanya merujuk pada ajaran Islam tapi juga Kris­ten, Hindu dan Budha.

Damar Shasangka kembali menyuguhkan ajaran yang me-ngandung tiga tradisi kepercaya-an Hindu-Budha, Islam Tasawuf dan Kejawen ini karena ia ingin mengajak kembali generasi muda menengok kearifan ajaran Jawa. Karena bagi Damar ketika generasi muda menjauhi dari akar budaya berarti pertanda kehancuran suatu bangsa. “Ka­rena itulah saya menerjemahkan dan menginterpretasikan serat Gatholoco,” kata Damar kepada Prioritas Jumat pekan lalu.

Ia mengakui ajaran yang disampaikan lewat sosok tokoh imajiner bernama Gatholoco ini cukup kritis menelaah ajaran agama Islam misalnya tentang konsep hidup, mati, surga, neraka, halal, haram dan penca­paian spritualitas. Namun me­nelaahnya melalui pemahaman seksualitas dengan pembahasan mendalam filosofi Lingga Yoni. Akibatnya serat Gatholoco ini banyak mendapatkan penenta-ngan terutama dari kaum puri­tan ortodok.

Apalagi pemilihan tokoh Gatholoco dan Dewi Perjiwati yang merujuk pada alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perem-puan dianggap terlalu vulgar. Padahal hasil telaah Mashuri pada naskah lama penggunaan simbolisasi tersebut sejak dulu telah sering digunakan.

Mashuri pun menambahkan banyak kalangan dominan yang menganggap serat Gatholoco ini hanya milik aliran Kebatinan atau Kejawen. Aliran-aliran ini dianggap bukan bagian dari Islam. “Padahal jika ditelusuri beberapa aliran kebatinan cukup Islami,” ujar Mashuri. Tidak se-perti yang anggapan umum yang dikembangkan selama ini.

Bagi Mashuri suluk Gatho-loco ini bukanlah bentuk perla­wanan pada ajaran Islam yang saat itu mulai berkembang di Jawa. Kendati di dalam suluk itu muncul nada minor dan plesetan pada ajaran Islam. Si penulis suluk yang misterius ini sejatinya ingin mengajak agar seseorang membuka diri pada kebenaran yang bertebaran di alam semesta. Jangan sampai menutup diri pada kebenaran karena kesadaran batinnya akan terlelap sehingga terjebak oleh ilusi kebodohan.


•Yekthi Hesthi Murthi 

5 komentar:

  1. buku-buku seperti ini seharusnya banyak beredar di belahan nusantara.ditengah, kealpaan terhadap keanggunan dan keaslian nusantara terdahulu.
    hiruk pikuk perdebatan agma, antara benar-salah di negeri penganut pancasila ini sudah seharusnya melek.bahwa, kedigjayaan nusantara akan berpulang kemuasal. meskipun, bongkar pasang sejarah kerapkali dilakukan. oleh mereka yang memiliki 'status berwenang'.

    BalasHapus
  2. bagus sekali, semoga bermanfaat.

    BalasHapus
  3. pasti akan banyak yang menentang keberadaan buku ini, dan hanya beberapa gelintir orang yang bakal meng-apresiasi termasuk saya.
    good job-lah

    BalasHapus
  4. Buku gini hrsnya dr dulu ada,agar negri ini gak dijajah ama ideologi import.miris kan??? Budaya sendiri jadi anak tiri di negri sendiri.lihat aja anak negri cara berpakaiannya lebih pilih budaya arab ketimbang budwya nenek moyangnya.

    BalasHapus
  5. Komentarnya mantap semua, sedulur semestinya bangga dan menjunjung nilai2 luhur yg terkandung dari tinggalan nenek moyang sendiri

    BalasHapus