Jumat, 06 Agustus 2010

SEJARAH PAMECUTAN


Puri Agung Pemecutan yang lama berlokasi Jl. Thamrin di sebelah Barat Puri Agung Pemecutan yang sekarang dengan batas batas sebagai berikut batas selatan jl. Gunung Batur, batas barat Jl. Gunung Merapi dan batas Utara Jl. Gunung Semeru, membentang dari Hotel Intan Sari sampai pertokoan Lokitasari wisata.

Bale Kulkul sisa Peninggalan Puri Pemecutan
yang tidak terbakar pada peristiwa Puputan Badung 1906


Puri Agung berbahan dasar bangunan batu merah bercampur dengan batu paras dan beratap ijuk. Tembok puri setebal 3 ½ meter, tebalnya mencapai 50 cm mempunyai kesan kokoh dan di bencingah di ujung selatan berdiri bale kulkul yang keberadaanya masih utuh hingga saat ini, karena tidak ikut terbakar pada waktu peristiwa Puputan Badung tahun 1906 M. Luas areal Puri secara keseluruhan di pusatnya saja, panjang 250 m lebar 175 m atau seluas kurang lebih 4,2 Hektar belum termasuk perluasan ke barat, ke utara , ke timur dan selatan Puri Tanjung Pemecutan. Perluasan tersebut sebagai tempat tinggal putra putra kerajaan.

Disebelah barat Puri terdapat gudang senjata bedil dan meriam sehingga tempat tersebut dinamakan Pemedilan. Disebelah Timur puri berdiri Jero Ukiran dan Jero Kanginan yang sekarang menjadi Puri Agung Pemecutan yang baru.

Wilayah kekuasaan Puri Agung Pemecutan :

  • Batas wilayah Utara - Desa Lemintang
  • Batas Wilayah Selatan - Desa Plase Kuta
  • Batas Wilayah Timur - Desa Sumerta
  • Batas Wilayah Barat - Sebelah Timur Tukad Mati.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari P.L Van Bloemen Waanders seorang kontoler Belanda yang meneliti tentang kerajaan kerajaan yang ada di wilayah Badung diperoleh keterangan bahwa ada 4 pusat kekuasaan di Badung yaitu :



  1. Puri Tegal – Tegeh Kuri putra angkat Arya Kenceng– Putra Dalem Samprangan/ Gelgel yang ditempatkan di Badung.
  2. Puri Agung Gelogor
  3. Puri Alang Badung Suci (Peken Badung) – Keturunan Kiyai Anglurah Jambe Merik
  4. Puri Agung Pemecutan


Dari keempat nama tersebut, Puri Pemecutan paling akhir berdirinya, namun dalam perkembangannya Puri Pemecutan kemudian muncul sebagai pemegang kekuasaan di seluruh wilayah Badung dan menurunkan raja-raja di wilayah Badung.

Ekspedisi Majapahit ke Bali

Sejarah keberadaan Puri Agung Pemecutan berkaitan dengan ekspedisi Majapahit ke Bali Tahun 1343 M untuk menaklukan kerajaan Bedulu dibawah Panglima Arya Damar/ Adityawarman. Dalam lontar Purana Bali Dwipa dinyatakan bahwa Arya kenceng adalah anak dari Arya Damar, sebab Arya Damar ketika menyerang Bali bukan pemuda lagi, diperkirakan usia beliau pada waktu diperkirakan 45 tahun. Hal yang sama juga dinyatakan dalam Kitab Usana Jawa yang menyatakan Arya Damar Kenceng Pwa sira “ yang artinya dalam diri Arya Kenceng terdapat darah daging Arya Damar”. Dan hal ini hanya dimungkinkan kalau Arya Kenceng adalah anak kandung Arya Damar yang berhak menerima kedudukan di dalam pemerintahan Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan sebagai ahli waris Arya Damar.

Satu uraian sejarah yang menguatkan dugaan bahwa Arya Kenceng adalah Anak Arya Damar dinyatakan dalam buku sejarah berjudul Pulau Bali Dalam masa Masa yang Lampau tentang adanya suatu tradisi untuk memberikan suatu jabatan atau kedudukan tertentu dalam pemerintahan kepada anak anaknya untuk menggantikan kedudukan orang tuanya, setelah orang tuanya meninggal atau karena jasa jasa orang tuanya. Pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngelesir di Gelgel Tahun 1380 – 1460. yang menjadi menteri menteri adalah anak anak dari para Arya yang datang ke Bali pada ekspedisi Majapahit untuk menggantikan kedudukan orang tuanya.

Masa Pemerintahan Arya Kenceng di Tabanan ( Nararya Anglurah Tabanan ) 1350 M

Setelah Arya Damar menyelesaikan misinya di Bali dengan jatuhmya kerajaan Bedulu maka putra beliau yang bernama Arya Kenceng diberikan kekuasaan di daerah Tabanan Bali. Tahun 1350 M Beliau diberikan kekuasaan di daerah Tabanan dengan rakyat sebanyak 40.000 orang dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Batas wilayah timur – sungai Panahan
  • Batas wilayah barat – sungai Sapwan
  • Batas wilyah utara – gunung Batukaru
  • Batas wilayh selatan – daerah Sanda, Kerambitan, Blumbang, Tanggun Titi dan Bajra


Pada tahun saka 1256 atau 1343 M beliau membuat istana disebuah desa yang bernama Desa Pucangan atau Buwahan Penebel dan diberi nama Puri kebon Tingguh, lengkap dengan taman sari di sebelah tenggara istana. Beliau memerintah dengan bijaksana sehingga keadaan daerah Tabanan menjadi aman sentosa.

Arya Kenceng mengambil istri putri keturunan brahmana yang bertempat tinggal di Ketepeng Renges yaitu suatu daerah di Pasuruan yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Arya Kenceng memperistri putri kedua dari brahmana tersebut sedangkan putri yang sulung diperistri oleh Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan dari Puri Samprangan dan putri yang bungsu diperistri oleh Arya Sentong.

Arya Kenceng sebagai kepala pemerintahan di daerah Tabanan bergelar Nararya Anglurah Tabanan, sangat pandai membawa diri sehingga sangat disayang oleh kakak iparnya Dalem Samprangan. Dalam mengatur pemerintahan beliau sangat bijaksana sehingga oleh Dalem Samprangan beliau diangkat menjadi Menteri Utama. Karena posisi beliau sebagai Menteri Utama, maka hampir setiap waktu beliau selalu berada disamping Dalem Samprangan. Arya Kenceng sangat diandalkan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh Dalem Samprangan, karena jasanya tersebut maka Dalem Samprangan bermaksud mengadakan pertemuan dengan semua Arya di Bali. Dalam pertemuan tersebut Dalem Samprangan menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan tersebut tiada lain untuk memberikan penghargaan kepada Arya Kenceng atas pengabdiannya selama ini.


“ Wajai dinda Arya Kenceng, demikian besar kepercayaanku kepadamu, aku sangat yakin akan pengabdianmu yang tulus dan ikhlas dan sebagai tanda terima kasihku, kini aku sampaikan wasiat utama kepada dinda dari sekarang sampai seterusnya dari anak cucu sampai buyut dinda supaya tetap saling cinta mencintai dengan keturunanku juga sampai anak cucu dan buyut. Dinda saya berikan hak untuk mengatur tinggi rendahnya kedudukan derajat kebangsawanan (catur jadma) , berat ringannya denda dan hukuman yang harus diberikan pada para durjana. Dinda juga saya berikan hak untuk mengatur para Arya di Bali , siapapun tidak boleh menentang perintah dinda dan para Arya harus tunduk pada perintah dinda. Dalam tatacara pengabenan atau pembakaran jenasah (atiwatiwa) ada 3 upacara yang utama yaitu Bandhusa, Nagabanda dan wadah atau Bade bertingkat sebelas. Dinda saya ijinkan menggunakan Bade bertingkat sebelas. Selain dari pada itu sebanyak banyaknya upacara adinda berhak memakainya sebab dinda adalah keturunan kesatriya, bagaikan para dewata dibawah pengaturan Hyang Pramesti Guru. Demikianlah penghargaan yang kanda berikan kepada adinda karena pengadian dinda yang tulus sebagai Mentri utama “.



Arya Kenceng karena telah lanjut usia, akhirnya beliau wafat dan dibuatkan upacara pengabenan (palebon) susai dengan anugrah Dalem Samprangan yaitu boleh menggunakan bade bertingkat sebelas yang diwariskan hingga saat ini. Adapun roh sucinya (Sang Hyang Dewa Pitara) dibuatkan tugu penghormatan (Padharman) yag disebut batur dan disungsung oleh keturunan beliau hingga saat ini dan selanjutnya.


Sang Arya Yasan Putra Arya Kenceng

Dari pernikahan Arya Kenceng dengan putri brahmana tersebut melahirkan sorang putra yang bernama Sang Arya Yasan sedangkan Dalem mempunyai putra yang bernama Sang Ratu Anom. Prasasti Mpu Aji Tusan Lembar 7a transkrip halaman 9 menyebutkan bahwa Sang Arya Ratu Anom menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja di Bali. Pada suatu ketika terjadi suatu kesalahan dimana Arya Yasan tanpa sengaja memotong rambut putra mahkota yaitu putra dari Ratu Anom yang sebenarnya masih merupakan keponakan dari Arya Yasan sehingga menyebabkan Sang Arya Ratu Anom menjadi marah besar dan mengusir Arya Yasan secara halus ke Majapahit.

Sebelum Arya Yasan meninggalkan Bali maka beliau menitipkan putra dan putrinya
  1. Putra yang sulung di Pacung
  2. Sang Arya Bagus Alit di titipkan di Tambangan yang menerima pusaka demon dan pahleng yaitu supit atau tulup tanpa lubang
Seorang Putri diserahkan oleh Sang Arya Ratu Anom kepada Kiyai Asak yang berpuri di Karangasem. Arya Yasan tinggal di Kerajaan Majapahit kurang lebih 8 tahun, disana beliau berusaha untuk mencari dan menanyakan keluarganya dari keturunan Arya Damar/ Adityawarman, namun pencarian tersebut tidak membuahkan hasil karena Majapahit sudah runtuh tahun 1478 sehingga beliau memutuskan untuk pulang kembali ke Bali. Setibanya di Bali beliau kemudian mengembara ke gunung gunung untuk menjadi serang pendeta kemudian bertapa. Arya Yasan tidak diperkenankan menyandang kedudukan dan tidak berhak memiliki rakyat demikian pula kedua putra beliau juga mengalami hal yang sama dengan ayahnya.

Karena perbuatan Raja yang sewenang-wenang tersebut Arya Yasan menjadi marah dan mengutuk raja dan para patih agar selama lamanya terkutuk karena Sang Ratu Anom tidak mematuhi petuah dimasa lampau (antara Arya Kenceng dengan Dalem ). Akibat kutukan tersebut Raja mendapat serangan burung gagak yang senantiasa mengusik hidangan sang raja sehingga beliau menjadi sangat kesal.


Sang Arya Bagus Alit/ Hyang Anulup/ Bhatara Pucangan

Terdengar berita bahwa cucu Arya Kenceng di Tambangan yang bernama Sang Arya Bagus Alit mempunyai keahlian nyumpit atau nulup, maka Raja mengundang Sang Arya Bagus Alit ke Ibukota Kerajaan. Keberhasilan Sang Arya Bagus Alit mengalahkan burung gagak tersebut membuat Raja menjadi tersadar dan ingat kembali kepada Sang Arya Yasan ayah dari Sang Arya Bagus Alit yang masih merupakan sepupunya untuk datang ke Puri Gelgel.

Dalam transkrip lontar Museum Bali dalam Pamancangah Badung Mwang Tabanan dan dalam lontar Babad Badung milik Anak Agung Oka Manek dari Jero Grenceng demikian pula prasasti Mpu Tusan diceritakan bahwa dari pertemuan Dalem dengan Arya Yasan tersebut Dalem menyampaikan permohonan maafnya dan mengembalikan kedudukan Arya Yasan sebagai penguasa daerah Tabanan bersama putra sulungnya.

Sedangkan Sang Arya Bagus Alit disuruh menetap di Tambangan (Badung) oleh Dalem Gelgel semenjak itu Sang Arya Bagus Alit terkenal dengan nama Dewa Hyang Anulup. Setelah sekian lama Dewa Hyang Anulup mempunyai seorang putra, beliau kemudian kembali ke daerah Tabanan untuk menetap di daerah Pucangan sehingga diberi nama Bhatara Pucangan.


Bhatara Notor Wandira / Bhatara Notor Waringin

Sang Arya Bagus Alit wafat dan meninggalkan seorang putra yang bernama Bhatara Notor Wandira atau Bhatara Notor Waringin yang mempunyai 2 putra yaitu

  • Arya Kebon Tingguh/ Magadhanata/ Sirarya Ngurah Tabanan
  • Nararya Wangun Graha yang membangun Puri Tabanan.


Nararya Wangun Graha

Sesudah Arya Kebon Tingguh/ Magadhanata/ Sirarya Ngurah Tabanan I wafat maka seluruh Kerajaan Tabanan sampai Pucangan dan kebon Tingguh diperintah oleh Nararya Wangun Graha



Nararya Wangun Graha mempunyai 3 orang istri

Istri Pertama (Warga para Sanghyang) lahir 4 orang putra (menetap di Tabanan)

  1. Nararya Ngurah Tabanan / Sirarya Ngurah langwang (Putra Mahkota)
  2. Kiyai Madhyattara/ Made Kaler – menurunkan Pragusti Subamia
  3. Kiyai Nyoman Pascima / Nyoman Dawuh – menurunkan pragusti Jambe (Pamregan)
  4. Kiyai Ketut Wetaning Pangkung – menurunkan pragusti Lodrurung, Ksimpar dan Serampingan
Istri kedua (Warga para Sanghyang) lahir 3 orang putra(menetap di Badung) :

  1. Kiyai Nengah Samping Boni – menurunkan pragusti Samping
  2. Kiyai Nyoman Ancak – menurunkan pragusti Ancak dan Angligan
  3. Kiyai Ketut Lebah – tidak memberikan keturunan karena kesua anaknya perempuan.
Istri ketiga (Putri bendesa Pucangan) lahir 1 orang putra (menetap di Badung):

  • Kiyai Ketut Bendesa/ Kiyai Pucangan/ Nararya Bandhana

Nararya Bandhana

Nararya Bandhana mempunyai 2 orang anak :

  1. Ratu Ayu Pemandekan diperistri oleh Sri Nararya Anglurah Tabanan yang bernama Sri Arya Winalwan/ Bhatara Makules
  2. Sang Arya Anglurah Papak


Sang Arya Anglurah Papak

Sang Arya Anglurah Papak dikenal pemberani dan menguasai taktik perang dan bayak akan serta lama memerintah, beliau mempunyai 2 orang putra :


  1. Kiyai Tegeh menggantikan kedudukan ayahnya
  2. Kiyai Bebed / Nararya Gde Raka pergi mengembara untuk bersemadi memohon berkah dan kejayaan.


Kiyai Bebed / Nararya Gde Raka Mohon Berkah di Gunung Batur

Kiyai Bebed pergi secara diam diam pada waktu malam hari dari Puri Tabanan, berjalan terlunta lunta sehingga sampailah beliau di gunung Batukaru. Beliau kemudian memusatkan pikiran dan bersemedi untuk memohon berkah. Disana beliau mendapat petunjuk untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Batur untuk menghadap Bhatari Dhanu untuk memohon kejayaan. Setelah mendapat petunjuk tersebut,Kiyai Bebed melanjutkan perjalanan ke Gunung Batur dengan diiringi oleh Ki Andhagala dari keturunan Tambyak.

Lama beliau terlunta lunta dalam perjalanan sampai akhirnya tibalah beliau di daerah Pura Panarajon. Beliau kemudian memusatkan pikiran bersemedi mohon petunjuk dari yang maha kuasa. Disana beliau mendapat petunjuk untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Batur. Sampai di puncak Gunung Batur kembali beliau bersemedi dan kelurlah Bhatari Danu yang akan mengabulkan apa yang menjadi keinginan Kiyai Bebed. Namun sbelumnya Bhatari Danu minta kepada Kiyai Bebed untuk menggendongnya ke tengah danau. Kiyai Bebed menyanggupi permintaan tersebut sehingga digendonglah Bhatari Danu ke tengah danau. Namun sungguh ajaib beliau tidak tenggelam beliau seperti berjalan diatas tanah saja, air hanya sampai dipergelangan kaki saja.

Ketika samapai di pinggir danau bersabdalah Bhatari Danu bahwa beliau akan mengabulkan permohonan Kiyai Bebed untuk memperoleh kejayaan di daerah Badung. Akhirnya apa yang menjadi cita cita beliau melalu tapa semadi terkabul dan kelak akan menjadi raja di daerah Badung. Bhakan Bhatari Danu menganugrahkan dua buah senjata yang sangat ampuh berupa pecut dan tulupan. Setelah mendapat anugrah beliau melanjutkan perjalanan ke daerah Badung.


Nararya Gde Raka Mengabdi kepada Gusti Ngurah Tegeh Kuri

Diceritakan Nararya Gde Raka meninggalkan Tabanan menuju Badung dan dalam rombongan tersebut ikut serta kedua istrinya dan pengawal yang paling setia yaitu I Negala (Tambiyak). Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh sampailah rombongan tersebut di perbatasan utara kerajaan Badung yaitu Desa Lumintang. Pada waktu itu ada seorang yang datang menyapa bernama I Kaki Lumintang. Nararya Gde Raka mengajukan permohonan agar diperbolehkan untuk menginap semalam. Karena kasihan melihat rombongan yang sudah kelelahan tersebut I Kaki Lumintang menerima permohonan tersebut, namun I Kaki Lumintang ingin mengetahui terlebih dahulu dari mana kedatangan rombongan ini dan apa maksud dan tujuannya datang ke Badung.

Nararya Gde Raka kemudian menjelaskan maksud kedatangannya ke Badung untuk mengabdi kepada ramanda Gusti Ngurah Tengeh Kuri di Kerajaan Badung dan mereka adalah keturunan Nararya Notor Waringin dan juga pernah cucu dari Cokorde Mukules dari Puri Mentingguh Tabanan. Mengetahui hal tersebut I Kaki Lumintang menundukkan diri memberi penghormatan untuk seorang putra raja.

Keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanan untuk menuju Puri Tegah Kuri di Tegal dengan diantar oleh I Kaki Lumintang. Nararya Gde Raka diterima dengan tangan terbuka oleh Gusti Tegeh Kuri dan diperkenankan mengabdi di Badung dan diangkat sebagai putra ke tiga dan diberi nama Kiyai Nyoman Tegeh, karena Gusti Ngurah Tegeh Kuri sudah mempunyai 2 orang putra yaitu Kiyai Wayan Tegeh dan Kiyai Made Tegeh.

Untuk tempat tinggalnya, Kiyai Nyoman Tegeh dan semua keluarga serta I Tambyak dititipkan sementara di rumah I Mekel Tegal yang letaknya sekarang di sebelah barat Br Tegal Gede (pewarisnya I Nyoman Yasa).

Pada suatu hari tiba tiba Gusti Ngurah Tegeh Kuri diserang penyakit lumpuh, seluruh anggota badannya sukar bergerak sehingga seluruh kegiatan pemerintahan mengalami gangguan. Kedua orang putra beliau yaitu Kiyai Wayan Tegeh dan Kiyai Made Tegeh tidak mampu menggantikan ayahnya sebagai kepala pemerintahan di Badung. Jiwa kepemimpinan serta kewibawaan masih sangat kurang, karena memiliki sifat pemalu dan rendah diri. Tidak diduga dari Puri Gelgel mendadak ada perintah supaya Raja Badung segera menghadap ke Puri Gelgel karena adanya persoalan yang sangat penting yang menyangkut keamanan Pulau Bali. Bila Raja berhalangan hadir maka seorang Putra Raja diperbolehkan mewakili.

Oleh karena Gusti Ngurah Tegeh Kuri dalam keadaan sakit maka beliau memerintahkan salah satu dari putranya untuk mewakilinya ke Puri Gelgel, namun kedua putranya menolak dengan alas n belum memiliki cukup pengalaman untuk melaksanakan tugas tersebut. Mendengar hal tersebut Gusti Ngurah Tegeh Kuri menjadi sangat murung memikirkan bagaimana nantinya kerajaan Badung di kemudian hari tanpa dirinya.

Dalam renungannya, timbul pikiran beliau untuk mengutus Kiyai Nyoman Tegeh sebagai wakil Kerajaan Badung untuk menghadap ke Puri Gelgel. Segera Kiyai Nyoman Tegeh dipanggil untuk menghadap dan setelah dijelaskan, Kiyai Nyoman Tegeh menerima dengan senang hati tugas yang diberikan kepadanya dan berjanji tugas tersebut akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Diceritakan Kiyai Nyoman Tegeh sudah berangkat menuju Puri Gelgel dengan diiringi Ki Tambyak. Didalam perjalanan sesampainya di Desa Sumerta Ki Tambyak dihina oleh penduduk setempat sambil bernyanyi dan tertawa tawa melihat penampilan Ki Tambyak yang serba hitam hanya giginya saja yang kelihatan putih. Mendengar penghinaan tersebut Ki Tambyak menjadi sangat marah, ia mengamuk bagaikan benteng kedaton, memukul dan menendang ke kanan dan kekiri. Akhirnya kentongan dibunyikan oleh penduduk desa Sumerta yang menandakan bahwa ada orang yang mengamuk.

Raja Sumerta Gusti Pasek Sumerta keluar dari purinya untuk menghadapi Ki Tambyak. Perkelahian terjadi dengan serunya namun akhirnya Gusti Pasek Sumerta tidak mampu menandingi Ki Tambyak sehingga beliau menyatakan menyerah dan tunduk kepada Kerajaan Badung. Mulai saat itu Desa Sumerta menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Badung. Setelah peristiwa tersebut Kyai Nyoman Tegeh kemudian melanjutkan perjalanan ke Puri Gelgel dan sesampainya beliau disana langsung menghadap Ida Dalem Waturenggong di bale penangkilan. Kyai Nyoman Tegeh diterima dengan baik oleh Ida Dalem Waturenggong dan Dalem menanyakan prihal keamanan di Kerajaan Badung, perbaikan pura pura dan hal lainnya yang kesemuanya dijawab dengan baik sehingga memuaskan hati Dalem Waturengong.

Karena sikapnya yang santun serta mempunyai wawasan yang luas tentang ilmu pemerintah Kyai Nyoman Tegeh dapat menarik simpati dari Dalem waturenggong sehingga beliau diminta lebih lama tinggal di Puri Gelgel mendampingi Dalem Waturenggong. Karena mempunyai kesan yang baik kepada Kiyai Nyoman Tegeh maka Dalem Waturenggong memberikan anugrah untuk bersama sama Gusti Ngurah Tegeh menjalankan pemerintahan di wilayah Badung, karena mengingat kondisi kesehatan Gusti Ngurah Tegeh yang tidak memungkinkan menjalankan pemerintahan kembali.

Setelah beberapa bulannya Kyai Nyoman Tegeh tinggal di Puri Gelgel, maka beliau pamit ulang kembali ke Badung. Singkat cerita sesampainya di Badung Kiyai Nyoman Tegeh menghadap Gusti Ngurah Tegeh Kuri untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Dalem Waturenggong dan menyampaikan titipan surat dari Ida Dalem Waturenggong untuk Gusti Ngurah Tegeh Kuri.

Dalem surat itu Dalem menyampaikan rasa puasnya kepada Kyai Nyoman Tegeh sebagai utusan dari Kerajaan Badung yang mempunyai wawasan yang luas tentang ilmu pemerintahan sehingga sangat menawan hati Dalem Waturenggong. Kemudian mengingat kondisi kesehatan Gusti Ngurah Tegeh Kuri sebagai kepala pemeritahan di Badung mengalami suatu hambatan, maka untuk melaksanakan tugas tugas pemerintahan di wilayah Badung agar diberikan kepada Kiyai Nyoman Tegeh.

Tiba tiba datanglah seorang utusan melaporkan bahwa Kyai Wayan Tegeh putra tertua Gusti Ngurah Tegeh Kuri terlibat perkelahian dengan Kiyai Plasa di Mergaya Abiantimbul. Perkelahian tersebut sudah dari sejak pagi, karena sama sama kebal dan sakti maka tidak seorangpun keluar sebagai pemenang, akhirnya perkelahian dihentikan karena hari sudah menjelang malam.

Kyai Nyoman Tegeh memberikan nasehat kepada kakaknya Kyai Wayan Tegeh Kuri, bila besok kembali berhadapan dengan Kiyai Plasa maka Kiyai Wayan Tegeh jangan sekali kali mandi di sungai Kuta sebab air sungai tersebut dapat menghilangkan kekebalan. Dan sesuai dengan yang sudah dijanjikan esok harinya perang tanding kembali di mulai, Kiyai Plasa nampak dibantu oleh Kyai Petiles dari Pekambingan. Perang tanding menjadi tidak seimbang satu melawan dua sehingga menyebabkan Kyai Wayan Tegeh kehabisan nafas dan dihinggapi rasa haus yang tak tertahankan. Beliau kemudian terjun ke sungai Kuta, membasahi tubuhnya untuk menghilangkan rasa lelah dan haus, beliau lupa akan pesan adiknya yang melarangnya untuk mandi di sungai kuta selama perang tanding berlangsung.

Setelah matahari condong ke Barat perang tanding di mulai lagi dengan serunya, kedua belah pihak berusaha saling menjatuhkan lawannya. Tiba tiba dalam satu kesempatan Kiyai Plasa berhasil menghunus keris langsung ke perut Kyai Wayan Tegeh. Karena sudah hilang kekabalannya maka keris tersebut langsung menancap di perut Kyai Wayan Tegeh sehingga beliau terpelanting dan mengembuskan nafasnya yang terakhir. Perang tanding dihentikan dan kemenangan berada di pihak Raja Plasa.

Berita kematian Kyai Wayan Tegeh, menimbulkan kemarahan dari Kyai Nyoman Tegeh dan berjanji akan menuntut balas atas kematian kakaknya. Kyai Nyoman tegeh kemudian mengambil keris sakti untuk menandingi Kyai Plasa. Singkat cerita ditengah jalan beliau dihadang oleh Kiyai Plasa dan Kiyai petiles yang sudah siap berperang dengan keris terhunus.

Kyai Nyoman Tegeh menghadapi kedua musuhnya dengan tenang dan waspada. Pergulatan dimulai saling tindih dan tusuk untuk mengadu kekabalan. Dan pada suatu kesempatan yang baik Kyai Nyoman Tegeh berhasil menusuk perut Kiyai Plasa sehingga menghembuskan napasnya terakhir.

Kiyai Petiles kemudian ganti menghadapi Kiyai Nyoman Tegeh, namun seperti Kiyai Plasa yang telah tewas, nasib Kiyai Petilespun sama, dadanya tertikam oleh keris Kiyai Nyoman Tegeh sehingga terkapar tak berdaya. Namun sebelum Kiyai Petiles menghembuskan napasnya yang terakhir, beliau menyatakan tunduk kepada Kerajaan Badung dan semua daerah yang menjadi kekuasaannya diserahkan kepada Kerajaan Badung. Karena kekalahan tersebut maka semua keluarga Kiyai Petiles diturunkan wangsanya menjadi rakyat biasa.

Setelah kekalahan Kiyai Petiles maka seluruh rakyatnya menyatakan tunduk kepada Kerajaan Badung dan istrinya yang bernama Ni Luh Bandem dijadikan selir oleh Kiyai Nyoman Tegeh dan melahirkan 2 orang anak :


  1. Kiyai Anglurah Pemedilan
  2. Anak Agung Istri Jambe


Kedua orang anak beliau lahir di Pemedilan di rumah Ki Tanjung Gunung (sebelah utara Pura Tambangan Badung)


Nararya Gde Raka mendirikan Puri Pemecutan

Setelah mendapat anugrah dari Dalem Waturenggong untuk menjalankan pemerintahan di Badung, maka beliau mulai memperluas wilayah kerajaan Badung. Puri Sumerta berhasil ditaklukkan terbukti salah satu Pura Khayangan di Sumerta setiap hari purnama kedasa selalu datang hadir ke Pura Tambangan Badung sebagai prasanak pura Kerajaan Badung.

Beliau diberi gelar Kiyai Jambe Pole, Pole berasal dari kata polih yang artinya mendapatkan kekuasaan. Dan untuk melaksanakan pemerintahan, beliau mendapat panjak (rakyat) sebanyak 500 orang dari Gusti Ngurah Tegeh Kuri dan dinobatkan menjadi Raja I di Puri Agung Pemecutan. Karena beliau mendapat anugrah dari Bhatari danu Batur berupa senjata sakti Pecut dan Tulupan maka Kerajaan yang beliau dirikan diberi nama Pemecutan.

Beliau sebagai cikal bakal pendiri Puri kerajaan Badung yang mengambil nama dari suku kata “Pecut” sebagai rasa hormat dan sujud bakti atas anugrah yang beliau terima dari Sang pencipta berupa senjata Pecut Sakti.


Sumber :


http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2009/11/sejarah-pemecutan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar