Minggu, 27 Juni 2010

RIWAYAT SINGKAT SYEH LEMAH ABANG (3)





Ucapan Syeh Siti Jenar sangat besar dampaknya bagi image beliau. Kubu PUTIHAN semakin getol menghakimi kubu ABANGAN.
Sesungguhnya memang apa yang diucapkan beliau, terlalu tinggi untuk didengar oleh mereka-mereka yang baru saja mengenal spiritualitas. Namun, pada hakikatnya, memang benarlah apa yang beliau ucapkan. Siapakah DIA YANG TAK TERBAYANGKAN itu? Siapakah RUH manusia itu? Sesungguhnya tiada beda. Ibarat udara yang terkurung dalam sebuah karet sintetis mainan anak-anak yang biasa disebut Balon, dengan udara bebas yang ada ditempat terbuka. Apakah kita bisa membedakannya? Sebuah karet sintetis yang bernama Balon, ibarat Suksma Sariira ( Badan Halus) dan Sthula Sariira (Badan Kasar) manusia. Dan udara yang terkurung didalamnya ibarat Atma Sariira ( Ruh ). Dan udara yang ada ditempat terbuka adalah Brahman itu sendiri. Suksma Sariira dan Sthula Sariira, keduanya adalah produk Prakrti, produk Alam, yang muncul karena diadakan, karena diciptakan. Dan sesuatu yang diadakan, diciptakan dari ketiadaan, pasti akan memiliki limitasi, memiliki batas kegunaan. Dan pada saatnya, pasti akan berakhir. Oleh karenanya, kedua produk ini disebut produk Maya, produk khayalan, produk fana. Sedangkan Atma Sariira (Ruh), tidak diciptakan. Tidak diadakan. Dari dulu ada, sekarang dan sampai selamanya. Atma Sariira adalah bagian yang tak terpisahkan dari Brahman. Apabila Atma Sariira masih terbelenggu oleh Suksma Sariira dan Sthula Sariira, tampaklah ia sebagai MANUSHA. Namun, apabila Atma Sariira ( Ruh ) telah lepas dari belenggu Suksma Sariira dan Sthula Sariira, maka apakah bisa dibedakan lagi mana Atman mana Brahman? Keduanya sudah MENYATU LAGI. Sudah MANUNGGAL lagi. Inilah MANUNGGALING KAWULA GUSTI!. Setiap kali Syeh Siti Jenar berdzikir dgn sendirinya beliau menangkap suara dzikir yg berbunyi lain. Subhani, Alhamdu li, La ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (Maha Suci Aku, segala puji untuk- Ku, tiada Tuhan selain Aku, Maha besar Aku, sembahlah Aku). Walaupun telinga beliau mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, Al-hamduli Allahi, La ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar sebaliknya, sebagai esensi bunyi hadist : "Man ‘arafa Nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu" ( Siapa yang mengenal Diri Sejatinya, sungguh dia telah tahu siapa Tuhannya). Dan Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Nabi Muhammad yang berbunyi : “Al-Insan sirri wa Ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya). Apabila sudah mencapai puncak spiritualitas seperti ini, apabila sudah mencapai maqam (tingkat) Tajjali ( Allah terlihat nyata) seperti ini. Maka, bisakah kita membedakan mana Jesus mana Bapa? Bisakah kita membedakan mana Siddharta Gautara mana Buddha? Bisakah kita membedakan mana Krishna mana Bhagavan? Bisakah kita membedakan mana Syeh Siti Jenar mana...................................Mengapa kita bertengkar? Mengapa kita saling merasa paling benar? Dan yang merasa paling benar adalah mereka yang baru mempelajari kulit Islam, kulit Hindhu, kulit Buddha dan kulit Kristen. Mereka belum menemukan 'Puncak Kesadaran' yang seharusnya mereka cari. Yang menjadi tujuan pengajaran Krishna, Buddha, Jesus dan Muhammad. Mereka mengajarkan semua manusia untuk itu, bukan mengajarkan kulit luar yang berbeda-beda. Kulit luar hanya sekedar metode. Kulit luar hanya sebuah alat, sebuah sarana, untuk mencapai tujuan ini! Sadarlah! Maka, bila Syeh Siti Jenar yang telah mampu melampaui belenggu Suksma Sariira ( Nafs ) dan Sthula Sariira ( Jasad ), walaupun nampaknya Atma ( Ruh ) beliau masih terkurung oleh kedua produk fana, produk Maya ini, namun sesungguhnya Ruh beliau telah MENYATU lagi dengan Maha Ruh, yang dulu pernah meniupkan Ruh itu kedalam Nafs dan Jasad! Dalam Nafs atau Suksma Sariira beliau, hanya tersisa Nafs Muthmainnah ( Badan halus yang tenang ) atau Guna Sattva ( Watak suksma sariira yang stabil). Mengapa kita jadi terkecoh hanya karena beda istilah? Dari metode Islam, disebut Nafs Muthmainnah. Dari metode Hindhu disebut Guna Sattva. Apanya yang beda? Kecuali kalimatnya semata. Kecuali kulit luar yang berupa kata-kata semata. Sedangkan esensinya, SAMA! Maka, inilah yang saya maksud JANGAN TERJEBAK METODE! JANGAN DIPERBUDAK METODE! KARENA JIKA ANDA TERJEBAK! ANDA AKAN TERSESAT! Kisah Syeh Siti Jenar-pun, berlanjut seperti dibawah ini :





Asmaradana.




1. Syeh Lemah Bang nayogyani
Prapta ing ari Jumungah,
Nuju Ramadlan wulane,
Marengi tanggal ping lima,
Kumpule Pra Auliya',
Anedheng kalaning dalu,
Ngrakit papan kang prayoga.
Syeh Lemah Bang menepati janji, Datang pada hari Jum'at, Tepat pada bulan Ramadlan, Bersamaan dengan tanggal lima, Kumpulnya Para Auliya', Pada waktu malam hari, Telah disiapkan tempat yang sepatutnya.
2. Sakehing Para Wali,
Samya paguneman Rahsa,
Ing Giri Gajah enggone,
Akarsa musyawaratan,
Ing bab masalah tekad,
Den waspada ing Hyang Agung,
Wajib sami nyatakena.
Seluruh Para Wali, Hendak membahas masalah Ilmu Rahsa (Ilmu Sejati). Di Giri Gajah tempatnya, Bermusyawarah, Tentang pencapaian masing-masing, Akan kebenaran Hyang Agung ( Maha Agung ), Untuk saling dinyatakan kepada semua yang hadir.
3. Kang samya angulah ilmu,
Lamun bijaksaneng driya,
Dadi wijang sayektine,
Tan beda lan puruhita,
Mungguh Rahsaning rasa,
Pralambanging pasang semu,
Tan liyan saking punika.
Mereka yang tengah mendalami Ilmu (Sejati), Apabila tajam kesadarannya, Akan terang pemahamannya, Begitulah orang yang berguru mendalami Ilmu (Sejati), Menyibak pusat rasanya rasa, Menguliti segala perlambang dan simbolisme, Hanya dengan demikian intisari (esensi)nya bisa didapatkan.
4. Nadyan akeh kang wewisik,
Wosing wasana wus ana,
Mung kari met pratikele,
Ing sawurira pepekan,
Kangjeng Sinuhun Benang,
Ingkang miwiti karuhun,
Lan Sunan Kalijaga.
Walaupun banyak wejangan ( berbagai metode dan konsep), Intisari (esensi)-nya pasti sama, Tinggal bagaimana kesadaran kita mampu menangkapnya, Setelah genap semua yang hadir, Kangjeng Sinuhun Benang, Yang memulai, Lantas Sinuhun Kalijaga.
5. Sunan Cirebon lan kang rayi,
Padha nerang Syeh Lemah Bang,
Lan Sunan Majagung-e,
Suhunan Ing Banten,
Lawan Suhunan Giri Gajah,
Samya agunem ing ilmu,
Jenenge masalah tekad.
Kemudian Sunan Cirebon (Sunan Gunungjati) dan adik beliau, Tengah membicarakan cara menghadapi Syeh Lemah Bang, Juga Sunan Majagung, Sinuhun Banten, Dipimpin oleh Sunan Giri Gajah, Hendak membahas Ilmu (Sejati), Mengungkapkan pencapaian masing-masing.
6. Jeng Sinuhun Ratu Giri,
Amiwiti angandika,
He sanak manira kabeh,
Pratingkahe wong makripat,
Aja dadi parbutan,
Dipun sami ilmunipun,
Padha peling pinelingan.
Jeng Sinuhun Ratu Giri, Memulai pembicaraan, Hai saudaraku semuanya, Etika manusia yang telah mencapai Ma'rifat ( Pencapaian spiritual tertinggi ), Tidak pantas jika saling berebut benar, Maka dari itu mari satukan pendapat, Dan saling ingat mengingatkan.
7. Wong wewolu dadi siji,
Aja na kang kumalamar,
Dipun rujuk ing karepe,
Den waspada ing Pangeran,
Nenggih Sinuhun Benang,
Ingkang miwiti karuhun,
Amedhar ing pangawikan.
Semua Wali harus menyatu, Jangan berbantahan sendiri-sendiri, Satukan pendapat kita, Tentang kebenaran Tuhan (yang telah kita capai masing-masing), Lantas Sinuhun Benang, Memulai pertama kali, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau.
8. Ing karsa manira iki,
Iman tokid lan makripat,
Weruh ing kasampurnane,
Lamun masiha makripat,
Mapan durung sampurna,
Dadi batal kawruhipun,
Pan maksih rasa rumasa.
Menurut pendapatku, Tingkatan Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an), dan Ma'rifat ( Melihat Kebenaran Sejati ), Masih harus ditambah lagi satu tingkatan yaitu MENYADARI KESEMPURNAAN SEJATI, Apabila masih dalam tingkat Ma'rifat, Belumlah sempurna, Karena masih sekedar 'MELIHAT', belum 'MENYADARI'. Sehingga masih mengira-ngira.
9. Sinuhun Benang ngukuhi,
Sampurnane wong makripat,
Suwung ilang paningale,
Tan ana kang katingalan,
Iya jenenging tingal,
Manteb Pangeran Kang Agung,
Kang anembah kang sinembah.
Sinuhun Benang meyakini benar, Kesempurnaan Ma'rifat, Kosong Hilang Penglihatan makhluk, Tiada lagi yang terlihat, Karena keadaan sang pelihat, Hanya 'MELIHAT' PANGERAN KANG AGUNG (TUHAN YANG AGUNG), (Tiada lagi terlihat lain, kecuali hanya) Yang Menyembah dan Yang Disembah.
10. Pan karsa manira iki,
Sampurnane ing Pangeran,
Kalimputan salawase,
Tan ana ing solahira,
Pan ora darbe seja,
Wuta tuli bisu suwung,
Solah tingkah saking Allah.
Jelasnya maksudku (Sunan Benang) ini, Kesempurnaan Sejati, Adalah terliputi selamanya ( oleh Dzat-Nya ), Tiada lagi gerak (makhluk), Tiada lagi kehendak (makhluk), Buta tuli bisu kosong (kemakhlukan kita), Dan segala gerak dan kehendak hanya dari Allah.
11. Sinuhun Benang anuli,
Ngandikani Wali samya,
Heh sanak manira kabeh,
Punika kekasih alam,
Yen mungguh ing manira,
Jenenge Roh semunipun,
Ing Roh-e Nabi Mukhammad
Lantas Sinuhun Benang, Menanyakan kepada Para Wali, Wahai saudaraku semua, Inilah Kekasih Semesta, Yang ada didalam diri kita semua, Yaitu Ruh kita ini, Dan nama Ruh kita sebenarnya adalah Muhammad ( Yang Terpuji).
12. Ora beda ing Roh iki,
Yen sedya mutabangatan,
Tan beda ing panunggale,
Kadya paran karsandika,
Matur Wali sadaya,
Boten sanes kang winuwus,
Sampun atut sabda Tuwan.
Tiada beda semua Ruh itu, Apabila diperbandingkan, Tak ada beda satu sama lainnya, Bagaimanakah pendapat saudaraku semua? Menjawab semua Wali, Sudah benar apa yang anda yakini, Kami semua sependapat.
13. Pundi kang ingaran Nabi,
Jenenge Roh ing semunya,
Mapan iku kekasihe,
Sadurunge jagad dadi,
Mapan jinaten tunggal,
Den dadekaken karuhun,
Kang minangka kanyatahan.
Manakah sesunguhnya yang dinamakan Nabi Muhammad, Sesungguhnya adalah nama dari Ruh, Itulah Kekasih Allah, Sebelum semuanya tercipta, Berada dalam Jinaten Tunggal (Kesejatian Tunggal/ Jadi Satu dengan Allah), Lantas ditiupkan dahulu, Sebagai perwujudan Allah. ( Sunan Benang sebenarnya ingin menunjukkan bahwa Ruh manusia dan Allah adalah SATU. Tapi beliau tidak terang-terangan mengatakannya.)
14. Sinuhun Majagung nenggih,
Amedhar ing pangawikan,
Ing karsa manira dene,
Iman Tokid lan Makripat,
Tan kocap ing akherat,
Mung padha samengko wujud,
Ing akherat ora ana.
Sinuhun Majagung kemudian, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Menurut pendapatku ( Sunan Majagung ), Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an ) dan Ma'rifat ( Pencapaian tertinggi spiritual), Tidak ada gunanya di akherat (kata akherat maksud Sunan Majagung adalah PUNCAK SPIRITUAL) nanti, Hanya dibutuhkan pada saat ini saja ( Termasuk konsep belaka), Di akherat tidak ada.
15. Nyatane Kawula Gusti,
Iya kang muji kang nembah,
A0pan mangkono lakone,
Ing akherat ora ana,
Yen tan anaa Iman,
Tan weruh Jatining Ilmu,
Ora cukup dadi janma.
Wujud nyata Kawula ( Hamba ) dan Gusti ( Tuhan ) hanya ada didunia ini, Terlihat memuji dan menyembah, Padahal sesungguhnya, Di akherat tidak terlihat Dua ( maksudnya Kawula dan Gusti. Intinya Sunan Majagung hendak berkata Kawula dan Gusti itu SATU, tapi sama seperti Sunan Benang, beliau juga tidak terang-terangan), Apabila tidak mempunyai Iman ( Keyakinan ) tentang hal ini, Tidak akan tahu Kesejatian Ilmu, (Apabila tidak mengetahui Kesejatian Ilmu, maka ) tidak lengkap menjadi manusia.
16. Jeng Sunan Ing Gunungjati,
Amedhar ing pangawikan,
Jenenge Makripat mengko,
Awase marang Pangeran,
Tan ana ingkang liyan,
Tan ana roro telu,
Allah pan amung kang Tunggal.
Jeng Sunan Gunungjati, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sesungguhnya Ma'rifat itu, Penglihatannya hanya melihat Tuhan semata, (Apabila sudah mengetahui Tuhan, maka akan menyadari) Tidak ada yang lain lagi selain Dia, Tak ada yang kedua dan ketiga ( Sunan Gunungjati sebenarnya juga hendak mengatakan, TIDAK ADA LAGI KAWULA DAN GUSTI JIKA TELAH MENCAPAI MA'RIFAT, YANG ADA CUMA GUSTI. TIDAK ADA LAGI DUALITAS, ATAU TRINITAS LAGI. KAWULA DAN GUSTI ADALAH SATU. Karena KAWULA telah lebur kedalam GUSTI. INILAH TAUKHID. INILAH KE-ESA-AN. Tapi, beliau sama seperti Sunan Benang dan Sunan Majagung, tidak berani mengatakan terang-terangan). Hanya Allah Yang Maha Tunggal.
17. Jeng Sunan Kalijaga ngling,
Amedhar ing pangawikan,
Den waspada ing mengko,
Sampun ngangge kumalamar,
Den awas ing Pangeran,
Dadya paran awasipun,
Pangeran pan Ora Rupa.
Sunan Kalijaga berbicara, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sadarlah senantiasa, Jangan sampai tergoyahkan, Senantiasa Menyadari Adanya Tuhan, Bagaimana cara menyadari-Nya? Bukankah Tuhan tidak ber-Wujud?
18. Ora Arah Ora Warni,
Tan Ana ing Wujudira,
Tanpa Mangsa Tanpa Enggon,
Sejatine Ora Ana,
Lamun Ora Ana-a,
Dadi jagadipun suwung,
Ora Ana Wujudira.
Tidak ber-Kedudukan disuatu tempat juga Tidak ber-Bentuk, Tidak ada Wujud-Nya, Tanpa Ruang dan Waktu, Sesungguhnya ALLAH TIDAK ADA, (Allah yang personil, yang berpribadi seperti yang dipahami orang awam) APABILA BEGITU, Sesungguhnya ALLAH ITULAH KEKOSONGAN ABADI, DIA TIDAK BERWUJUD. (Sunan Kalijaga tidak mau membicarakan tentang KESATUAN WUJUD (WAJIBUL WUJUD) seperti yang lain. Beliau hanya memberikan gambaran bahwasanya apa yang dinamakan Allah itu adalah KEKOSONGAN ABADI YANG MUTLAK, SUMBER SEGALANYA. Jadi, jika kita MENYATU LAGI DENGAN YANG MUTLAK itu, maka itu dimungkinkan. Sunan Kalijaga, tidak mau membahas tentang MANUNGGALING KAWULA GUSTI. Karena beliau sepaham dengan Syeh Siti Jenar.)



19. Syeh Benthong samya melingi,
Amedhar ing tekadira,
Kang aran Allah Jatine,
Tan ana liyan Kawula,
Kang dadi kanyatahan,
Nyata ing Kawulanipun,
Kang minangka Katunggalan.



Syeh Benthong lantas berkata,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Yang disebut Allah sesungguhnya,
Tak lain adalah Kawula ( Hamba ) ini juga,
Yang menjadi KENYATAAN WUJUD-NYA,
Benar-benar nyata Ada-Nya terlihat pada Kawula-Nya,
Karena Gusti (Tuhan) dan Kawula (Hamba) adalah Satu. ( Syeh Benthong lebih berani berbicara. Terlihat disini.)



20. Kangjeng Molana Maghribi,
Amedhar ing pangawikan,
Kang aran Allah Jatine,
Wajibul Wujud kang ana,
Syeh Lemah Bang ngandika,
Aja-na kakehan semu,
IYA INGSUN IKI ALLAH.
Kangjeng Maulana Maghribi, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Yang disebut Allah sesungguhnya, WAJIBUL WUJUD (WUJUD YANG HARUS ADA). ( Syeh Maulana Maghribi, tidak mau berbicara dalam. Terlihat disini). Dan Syeh Lemah Bang kemudian berkata, Jangan berputar-putar, IYA INGSUN IKI ALLAH. (IYA AKU INI TUHAN).
21. NYATA INGSUN KANG SEJATI,
JEJULUK PRABHU SADMATA,
TAN ANA LIYAN JATINE,
INGKANG BANGSA ALLAH,
Molana Maghribi mojar,
Iku jisim aranipun,
Syeh Lemah Bang ngandika.
Nyatalah AKU yang Sejati, Bergelar Prabhu Sadmata ( Raja bermata enam. Shiva adalah Avatara Brahman. Jika Shiva bermata tiga, maka Brahman bermata enam. Inilah maksud 'jargon' spiritual waktu itu). Tidak ada lagi yang lain, Apa yang disebut Allah itu. Maulana Maghribi berkata, Yang anda tunjuk itu adalah jasad, Syeh Lemah Bang menjawab.
22. Kawula amedhar ilmi,
Angraosi Katunggalan,
Dede jisim sadangune,
Mapan jisim ora ana,
Dene kang kawicara,
Mapan Sejatining Ilmu,
Amiyak warana.
Hamba membuka rahasia Ilmu Sejati, Membahas tentang Kesatuan Wujud, Tidak membahas Jasad (yang fana), Jasad sudah terlampaui, Yang saya ucapkan adalah Sejati-nya Ilmu, Membuka Segala Rahasia.
23. Lan malih sadaya ilmi,
Sampun wonten kumalamar,
Yekti tan ana bedane,
Salingsingan punapaa,
Dening sedya kawula,
Ngukuhi jenenging ilmu,
Sakabehe iku padha.
Dan lagi sesungguhnya semua Ilmu, Tidak ada yang berbeda, Sungguh tiada beda, Sedikitpun tidak, Menurut pendapat hamba, Meyakini bahwasanya Ilmu itu, Semuanya sama.
24. Kangjeng Syeh Maulana Maghribi,
Sarwi mesem angandika,
Inggih leres ing semune,
Puniku dede wicara,
Lamun ta kapyarsa-a,
Dening wong akathah saru,
Punika dede rerasan.
Kangjeng Syeh Maulana Maghribi, Sambil tersenyum berkata, Benarlah sesungguhnya apa yang kamu katakan, Akan tetapi itu bukan bahan pembicaraan, Apabila sampai terdengar, Oleh banyak orang sangat tabu, Hal itu bukan bahan percakapan.
25. Tuwan ucapna pribadi,
Aja-na wong amiyarsa,
Anuksma ing lathi dhewe,
Puniku ujar kekeran,
Yen kena-a Tuwan,
Amalangi jenengipun,
Bok sampun kadi mangkana.
Ucapkanlah sendiri, Jangan sampai terdengar oleh orang lain, Cukup terdengar oleh telinga sendiri, Hal itu adalah Sabda larangan, Apabila bisa, Saya menyarankan, Janganlah seperti itu.
26. Nenggih Jeng Sunan Giri,
Amedhar ing pangawikan,
Pasthine Allah Jatine,
Jejuluk Prabhu Sadmata,
Sampun wancak wicara,
Tan ana pepadhanipun,
Anging Allah Ingkang Tunggal.
Lantas Jeng Sinuhun Giri, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sudah pasti Allah itu sesungguhnya, Bergelar Prabhu Sadmata, Janganlah semua yang hadir disini sembrono dalam berbicara, Dia tidak ada bandingannya, Hanya Allah Yang Maha Tunggal.
27. Ya ta sakathahing Wali,
Angestokaken sadaya,
Mapan sami ing kawruhe,
Amung sira Syeh Lemah Bang,
Tan kena pinalangan,
Cinegah Wali sadarum,
Tan owah ing tekade.
Mendengar kata-kata Sunan Giri ( yang turun ketingkat syari'at), Seluruh Wali terdiam dan menta'ati, (Sunan Giri berkata kepada Syeh Lemah Bang), Hanya kamu wahai Syeh Lemah Bang, Tidak bisa dihalangi, Tidak bisa dicegah oleh semua Wali, Tetap tak berubah pendapat kamu.
28. Angandika Syeh Siti Brit,
Pan sampun ujar manira,
Dennya nututi kepriye,
Dhasare ingkang amedhar,
Pamejange maring wang,
Puniku wuruking Guru,
Datan kenging ingowahan.
Berkata Syeh Siti Brit, Sudah menjadi tekad hamba, Bagaimanapun juga, Karena semua itu adalah wejangan, Diwejangkan kepada hamba, Oleh Guru hamba, Tidak bisa lagi dirubah.
29. Ameksa tan kena gingsir,
Sinuwalan ing ngakathah,
Tan kena owah tekade,
Sampun ujar linakonan,
Pan wus jangjining Suksma,
Sunan Cirebon ngandika rum,
Sampun ta Tuwan mangkana.
Dipaksapun tidak bisa surut, Dibujuk oleh semua Para Wali, Tak pula berubah tekadnya, Sudah menjadi ucapan umum, Dan sudah menjadi hukum syariat, Demikian Sunan Cirebon ( Sunan Gunungjati) berkata, Janganlah tuan seperti itu.
30. Punika ujaring jangji,
Yekti binunuh ing kathah,
Nenggih sampun ing khususe,
Wong ingkang ngaku Allah,
Ngandika Syeh Lemah Bang,
Lah mara Tuwan den gupuh,
Sampun ngangge kalorehan.
Sudah ditentukan, Hukumnya adalah dibunuh (Qisas), Khusus bagi mereka, Yang mengaku Allah, Berkata Syeh Lemah Bang, Segeralah laksanakan, Jangan ditunda-tunda lagi.
31. Dhasar kawula labuhi,
Ngulati pati punapa,
Pan pati iku parenge,
Sarenge sih kawimbuhan,
Pan tansah kawisesa,
Kang teka jatining suwung,
Ana Kadim ana anyar.
Memang sudah saya niati, Mencari kematian yang bagaimana lagi, Sebab bersamaan dengan kematian, AKAN DATANG KASIH-NYA, YANG MELIPUTI AKU, DAN KEKOSONGAN YANG SEJATI AKAN DATANG PADAKU. Tidak perlu disesali sebab diriku ini memang terdiri dari YANG KEKAL (Ruh) dan YANG FANA (Nafs dan Jasad).
32. Ngulati punapa malih,
Ora ana liyan-liyan,
Apan apes salawase,
Anging Allah Ingkang Tunggal,
Ya jisim iya Allah,
Taukhid tegese puniku,
Apan Tunggal Kajatennya.
Mau mencari apa lagi? Tidak ada lagi pencapaian yang lebih sempurna (selain hal ini). Yang fana selamanya pasti akan kembali ke fana, Yang kekal akan kembali kepada Allah Yang Tunggal, Dan jasadku yang sesungguhnya adalah Ruh ini, Iya Ruh Iya Allah, Satu. Taukhid itu namanya, Satu kesatuan dalam Kesejatian.
33. Sakathahe Para Wali,
Pra samya mesem sadaya,
Miyarsa pamuwuse,
Kukuh tan kena ingampah,
Saya banjur micara,
Amiyak warananipun,
Ora ngangge sita-sita.
Seluruh Para Wali, Tersenyum semuanya, Mendengar apa yang diucapan Syeh Siti Jenar, Kokoh tidak bisa digoyahkan, Sangat berani, Membuka segala rahasia, Dengan tidak segan-segan lagi.
34. Angaku jeneng pribadi,
Andadra dadi rubeda,
Ngreribedi wekasane,
Nerang anerak syara',
Rembuge andaliga,
Mawali Pra Wali Wolu,
Winalon kurang walaka.
Menyibak Kesejatian Diri-Nya, Keberaniannya membikin masalah, Menjungkir balikkan syara' (Hukum), Kata-katanya sangat berani, Dicegah oleh semua Wali, Namun seolah-olah kurang juga yang mencegah beliau.
35. Lajeng abubaran sami,
Kang Para Wali sadaya,
Kondur ing padalemane,
Mung Jeng Sunan Giri Gajah,
Kang kawogan anglunas,
Kang murang syara'-ing ngelmu,
Mumpung durung ngantos lama.
Lantas hendak bubar, Para Wali semua, Untuk pulang ketempat tinggalnya masing-masing, Dan Sunan Giri Gajah, Yang berhak memutuskan hukuman, Bagi yang menjungkir balikkan syara', Mumpung belum terlalu lama.
36. Jeng Sunan Giri nyagahi,
Ing sirnane Syeh Lemah Bang,
Yen sampun prapteng masane,
Adege Nata ing Demak,
Bedhahing Majalengka,
Sadaya samya jumurung,
Lajeng samya sasowangan.
Jeng Sunan Giri menyanggupi, Akan menjatuhkan hukuman mati bagi Syeh Siti Jenar, Apabila sudah sampai pada waktunya, Pelantikan Sultan Demak, Setelah berhasil merebut kekuasaan dari Majalengka ( Majapahit), Seluruh Wali menyetujui, Lantas pulang kekediaman masing-masing.




( 1 November 2009, by ; Damar Shashangka ).



Sumber :

1. Babad Tanah Jawi
2. Babad Tanah Jawi Demakan

3. Babad Tuban
4. Serat Kandha

5. Babad Cirebon

6. Serat Niti Mani

7. Serat Darmogandhul

8. Purwaka Caruban Nagari, Ki Sasrawijaya

8. Cerita tutur masyarakat Jawa
9. Baboning Kitab Primbon, terbitan Sadu Budi, Solo



Tidak ada komentar:

Posting Komentar